alexametrics

Korban Penipuan Perumahan Syariah: Tertarik Ada Shuttle Car ke Masjid

15 Januari 2020, 16:37:04 WIB

Fasilitas yang berbeda dari perumahan lain membuat Silfi Indrawati tertarik membeli unit di perumahan syariah Multazam Islamic Residence yang ditawarkan PT Cahaya Mentari Pratama (CMP). Salah satunya adalah adanya fasilitas shuttle car ke masjid tiap waktu salat.

HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya

Silfi Indrawati terlihat geram saat ditemui di rumahnya kemarin (14/1). Ibu tiga anak itu tidak habis pikir bakal tertipu ratusan juta rupiah. Niatnya membeli rumah sebagai investasi pupus. ”Yang sampai sekarang tidak jelas,” keluhnya.

Perempuan 37 tahun tersebut adalah salah satu korban perumahan syariah PT CMP. Yakni, Multazam Islamic Residence. Silfi mengenal perumahan itu dari ibu mertua Dirut PT CMP Sidik Sarjono yang kini sudah berstatus tersangka. ”Kami kenal sejak 2013-an. Panggilannya Eyang,” sebutnya.

Suatu hari, Eyang bercerita bahwa menantunya sedang mengembangkan perumahan berkonsep syariah. Harganya lebih murah dari pasaran. Fasilitasnya oke. Silfi lantas memerinci fasilitas yang masih diingatnya. Mulai lokasi yang strategis, ada rumah tahfiz, air langsung minum, sampai shuttle car ke masjid. ”Jadi, setiap memasuki waktu salat itu ada mobil yang keliling perumahan menjemput penghuninya untuk ke masjid,’’ ungkapnya.

Silfi tertarik. Dia mengambil rumah yang paling murah. ”Hanya iseng beli, apalagi katanya sistem pembeliannya tidak rumit. Dibuat semudah mungkin,” jelasnya.

Warga Jalan Kedung Asem itu menerangkan, harga unit rumah yang dibelinya Rp 407 juta. Uang mukanya Rp 90 juta bisa dicicil selama dua tahun. ”Dari awal sebenarnya sudah merasa aneh. Karena uang muka yang lain sampai Rp 125 juta,” ujarnya.

Namun, dia mengesampingkan kecurigaan tersebut. Silfi beranggapan harga murah itu bisa jadi didapat karena keakrabannya dengan Eyang. ”Dua tahun berjalan, uang muka akhirnya lunas,” tutur Silfi. Dia kemudian diajak pegawai PT CMP ke notaris. Lokasinya di sekitar Jalan Gunungsari, Surabaya.

Di notaris itu, dia membuat ikatan jual beli (IJB). Rumah yang dibelinya dijanjikan bisa ditempati pada awal 2019. Namun, janji tinggal janji. ”Sampai sekarang bangunannya saja tidak ada,” ujarnya.

Sebelumnya, dia sempat mendatangi lahan yang disebut akan dibangun perumahan. Namun, dia selalu mendapati tidak ada perkembangan. Warga sekitar yang ditanya juga mengaku tidak pernah tahu bakal ada perumahan dibangun di sana.

Kesabarannya habis pada pertengahan 2019. Silfi yang sudah berkali-kali menagih ke kantor PT CMP tidak pernah mendapat jawaban pasti. Dia akhirnya membuat laporan ke Polda Jatim. ”Bareng anggota paguyuban korban karena di perjalanannya ternyata ada yang tertipu juga,” sebutnya.

Kini dia berharap polisi bisa menelusuri aset perusahaan. Dengan begitu, kemungkinan uang para korban kembali menjadi terbuka.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : c6/eko


Close Ads