alexametrics

Tim UK Petra Juara III Sayembara Desain Masjid Agung Singkawang

Tak Mau Asal-asalan Dalami Banyak Referensi
14 Desember 2019, 20:48:16 WIB

Tim arsitektur Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil meraih juara III dalam Sayembara Desain Masjid Agung Singkawang pada November lalu. Mereka adalah satu-satunya tim yang memiliki anggota masih berstatus mahasiswa. Sementara itu, peserta lain dari seluruh Indonesia adalah para arsitek profesional.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

Di antara 62 tim, hanya enam tim yang dipanggil untuk melakukan presentasi di depan Pemerintah Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Salah satunya adalah tim yang dikoordinasi mahasiswa Arsitektur UK Petra Kevin Ardisa. Timnya beranggota empat orang. Yakni, dosen UK Petra Sylviana Putri S. ST MEng, dua mahasiswa UK Petra Cindy Wijaya dan Moses Matthew, serta satu orang arsitek praktisi Gratio Ray Sutanto ST.

Sayembara tersebut diadakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalimantan Barat. ”Karena untuk umum, saya dan tim mengajak akademisi dan profesional juga. Eh, ternyata yang gabungan mahasiswa hanya kami. Lainnya profesional,” ujar Kevin, lantas tertawa Sebelumnya, Kevin dan anggota timnya memang memiliki minat yang sama. Mereka sangat suka mendesain rumah ibadah. Misalnya, Cindy yang memang lebih senang mendesain sebuah masjid atau vihara. ”Aku kagum dengan beberapa desain masjid dan vihara di Indonesia,” kata mahasiswa prodi arsitektur angkatan 2016 itu.

Kevin bersama tim memutuskan untuk memilih tema yang berkaitan dengan toleransi. Alasannya, Singkawang adalah kota paling toleran di Indonesia. Itu berdasar hasil penilaian indeks kota toleran (IKT) dari 94 kota yang dilakukan Setara Institute. Hasil tersebut bertahan hingga saat ini. Kevin dan teman-temannya mengakui hal itu. ”Mayoritas penduduknya muslim, tapi etnis Tionghoa mendominasi juga. Bahkan, kita mudah menemukan masjid dan vihara berdampingan,” tutur mahasiswa angkatan 2016 itu.

Mereka pun mengambil tema Keharmonisan dan Relasi Manusia dengan Tuhan dan Sesamanya. Tema tersebut dikerucutkan lagi untuk membuat konsepnya. Mereka memilih konsep keharmonisan dan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Dari konsep tersebut, dibuatlah desain masjid dalam bahasa Arab. Yakni, Ealaqat Alwiam. Yang diartikan sebuah bentuk persaudaraan yang harmonis.

Saat membuat desain masjid, Kevin dan kawan-kawannya berusaha mengeksplorasi secara maksimal. Alasannya, seni dalam arsitek bukan hanya tentang bangunan. Namun, juga makna dan kenyamanan. Mereka pun mencari sebanyak-banyaknya literasi dalam Islam. Cindy menyurvei langsung beberapa masjid di Pulau Jawa. ”Dari beberapa masjid itu, aku tertarik Masjid Raya Bandung. Beberapa konsep ruangannya aku adopsi dari situ,” tutur mahasiswi asli Surabaya itu.

Desain masjid tersebut berbentuk persegi panjang. Ada berbagai ruangan di dalamnya. Selain tempat ibadah, terdapat ruang belajar, ruang diskusi, bahkan ruang publik. Mereka juga menggabungkan beberapa unsur budaya. Misalnya, budaya Dayak yang mereka wujudkan pada langit-langit ruang ibadah utama. Yang mengadopsi bentuk segi tiga pada atap rumah Dayak.

Mereka juga menggabungkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Misalnya, pada langit-langit yang ditambahkan dengan pilar-pilar cahaya (skylight) yang berjumlah 99. Angka tersebut diambil dari 99 nama Allah atau Asmaul Husna.

Berbagai hambatan dan rintangan pun dihadapi tim. Misalnya, untuk koordinasi. Seorang kawannya yang merupakan arsitek profesional tidak berdomisili di Surabaya, melainkan di Jakarta. ”Jadi, kami harus Skype kalau mau diskusi,” ucap Kevin. Cindy juga menemui beberapa tantangan. Terutama yang berkaitan dengan pendalaman agama Islam. ”Aku nonmuslim, tapi aku harus benar-benar mendalami referensi karena aku enggak mau asal-asalan juga,” imbuhnya.

Berbagai juri turut menilai desain mereka. Mulai pemerintah daerah, MUI, hingga profesional. Desain tersebut membuahkan hasil dengan meraih juara III. Sebuah prestasi yang membanggakan ketika mereka bisa bersaing dengan lembaga konsultan arsitek ternama yang bisa meraih juara I dan II. Hal itu juga dirasakan dosen Prodi Arsitektur UK Petra Sylviana Putri yang masuk tim mereka. Dia menceritakan pengalamannya.

”Seru sekali. Saya jadi belajar juga, terutama dari sisi profesionalnya, bagaimana menerapkan desain secara riil dan tantangannya,” kata Silvi. Dia pun berharap bisa diberi kesempatan mengikuti kompetisi lainnya bersama mereka. (*/c6/tia)

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads