alexametrics

Semangat Mengaji di Raja Ampat

14 Desember 2018, 15:50:36 WIB

Jarak yang jauh tidak menyurutkan langkah anak-anak di Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat untuk mendalami ilmu agama. Mereka tetap semangat menuju Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser. Alasannya, karena ada guru polisi di sana.

Desyinta Nuraini, Papua

Lantunan doa sehari-hari terdengar lantang saat JawaPos.com mengunjungi Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12). Suara renyah khas anak-anak itu membuat sejuk hati bagi siapa pun yang mendengarnya.

Semangat Mengaji di Raja Ampat
Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12). (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)

Mereka duduk rapih di meja panjang. Laki-laki berada di barisan sebelah kanan, dan perempuan ada di sebelah kiri.

Namun siapa sangka, yang menuntun mereka membaca doa sehari-hari bukan lah guru ngaji melainkan polisi berseragam lengkap. Ya, taman pendidikan Alquran itu menyediakan polisi sebagai tenaga pengajar.

Kepala Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser Nur Salamah mengaku, tiga orang polisi menjadi tenaga pengajar sejak Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning menjabat pada 2017 lalu.

Dia mengaku merasa terbantu dengan para polisi pemuda itu. Sebab, tenaga pendidik Alquran di sekolah tersebut sangat minim.

“Kita cari guru-guru ngaji itu masya Allah sangat susah sekali. Alhamdulillah kami sangat berterima kasih kepada Kapolres Bapak Edy yang mengamanatkan kepada adik-adik polisi untuk mengajar, mendidik anak-anak kami,” ujar Nur Salamah di lokasi.

Kehadiran para polisi berpangkat brigadir itu katanya membuat semangat para peserta didiknya. Bahkan ada yang rela menempuh jarak tiga kilometer hanya untuk mengaji di tempatnya. “Jaraknya jauh-jauh. Ada (siswa) tinggal deket Polres. Seantero Waisae (mengaji di sini),” ungkap Nur Salamah.

Senang diajar mengaji Pak Polisi diakui Ninu, 8. “Senang diajar mengaji Pak Polisi,” sebut bicah kelas tiga SD yang tampak malu-malu itu saat ditanyai JawaPos.com.

Ya, tenaga pengajar agama Islam yang minim menarik perhatian Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning. Dia berinisiatif untuk menempatkan anggotanya menjadi tenaga pendidik agama Islam. Tak asal, anggotanya harus menjalani seleksi.

Dari 11 anggota yang bisa mengaji, terpilih sembilan anggota untuk menjadi tenaga pengajar di beberapa taman pendidikan Al-Quran di Kota Waisai. “Di TPA Baitul Arsylah ini, kemudian di Masjid Agung dan di mushollah sekarang bentuk masjid yang ke arah ke Polres,” beber Edy di lokasi yang sama.

Biasanya, para anggota berpangkat brigadir itu mengajar mulai dari pukul 16.00-18.00 WIT. Beberapa lainnya mengajar mengaji selepas salat Magrib.

Inisiatifnya untuk menempatkan anggota sebagai guru ngaji pun disambut baik beberapa taman belajar Alquran. Kehadiran mereka juga diterima anak-anak yang menjadi peserta didik.

Bahkan dengan kehadiran pihaknya, anak-anak lebih disiplin. Betul saja, ketika melihat Pak Polisi datang, mereka langsung berlarian dan duduk rapih di meja masing-masing.

Edy mengaku selain memberi pendalaman terhadap ilmu agama kepada anak-anak, dia juga memiliki misi untuk menciptakan persepsi yang baik tentang polisi.

“Pasti pulang cerita sama orang tuanya polisi itu ternyata baik jadi ustad, belajar mengaji melatih kita, tidak galak. Kalau anaknya saja nggak takut bagaimana orang tuanya, kan gitu,” ungkapnya.

Rencananya, dia akan menambah lagi anggota sebagai guru mengaji mengingat Raja Ampat terdiri dari beberapa pulau. Selain itu, Edy telah merencanakan program guru bantu mrngingat tenaga pengajar umum juga masih minim di kepulauan itu.

“Di sini banyak pulau dan tenaga guru kurang. Saya berikan itu menambah tenaga guru dan ikut bantu awasi guru,” tukasnya.

Brigadir Kuncoro Adji Santoso, salah satu anggota Polres Raja Ampat mengaku senang mengajar anak-anak di Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser memperdalam ilmu agama.

“Saya melihat begitu besar antusias mereka untuk belajar mengaji. Tetapi guru ngajar nya masih begitu kurang, sehingga kami terpanggil untuk bisa membantu di sini walaupun hanya sebentar dan alakadarnya,” beber dia.

Adji mengaku memang sulit untuk mengajar anak-anak yang jiwanya masih suka bermain. Namun itu menjadi tantangan untuknya. “Tetapi setelah kami bicara, kami arahkan, kami nasihati langsung mereka mendengar dan bisa diingat alhamdulillah,” sebut dia.

Dia juga mengaku senang mengajar anak-anak itu. Terlebih, dia memiliki panggilan lain selain “Pak Polisi”

“Ada yang panggil Om Ustad Polisi, ada yang panggil Kakak ustad polisi,” kata Adji setaya tertawa di tengah anak-anak itu.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : (dna/JPC)

Semangat Mengaji di Raja Ampat