alexametrics

Lerem Pundilaras, Kolektor Batik Kuno Berusia Puluhan Tahun

Selalu Dikado Batik sejak Berusia 13 Tahun, Aroma Nostalgia dalam Harumnya Malam Batik Lawas
14 November 2016, 21:09:00 WIB

Bak menyimpan emas permata, Lerem Pundilaras menjaga betul 200-an koleksi batik kuno miliknya. Batik-batik itu punya ciri khas berbeda dari setiap daerah. Tak pelak, harganya melambung.

ASA WISESA BETARI

SENYUM Lerem Pundilaras merekah saat sanak saudara dan kerabat berdatangan untuk memberikan selamat di pameran batik lawas dan lukisan miliknya. Sebanyak 46 batik tulis lawas digelar dalam pameran tunggal di Mercure Hotel Surabaya pada 13 Oktober.

Sehari sebelum pameran diadakan, tepatnya 12 Oktober, adalah ulang tahun pernikahan ke-25 Lerem Pundilaras dan suaminya, dr Iri Agus Subaidi MM MSi. Pameran tersebut menjadi salah satu kado dari sang suami untuk istrinya.

Laras, sapaan Lerem Pundilaras, memang mewarisi jiwa seni ayahnya yang pelukis. Meski sempat dilarang untuk menjadi pelukis, Laras tidak meluruhkan hobinya itu. Dia melukis sejak 1996 pada usia 33 tahun.

”Zaman dahulu, pelukis dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan. Maka dari itu, ayah melarang. Kemudian saya terjun di perbankan,” kenangnya. Laras kini bekerja sebagai priority banking manager di Bank Jatim dan pengusaha SPBU di Kabupaten Pamekasan.

Laras memang dididik dari keluarga yang kental akan budaya Jawa. Saban hari di teras rumah, Laras kecil hobi menonton sang ayah melukis. Dia duduk di teras yang berdebu, tanpa alas, mengenakan kaus dan celana jins lusuh hingga menjelang sore.

Saking asyiknya, Laras sampai enggan mandi sore. ”Kamu jangan jadi pelukis ya, Nduk. Nanti nggak pernah mandi,” ucap Laras yang menirukan pesan ayahnya. ”Padahal, ayah sendiri tidak mandi, kok saya disuruh mandi,” tambahnya, lalu tertawa.

Sembari menunggu sang ayah merampungkan lukisan, Laras melihat ibunya meratus batik. Lembaran kain batik dibentangkan di atas kurungan ayam yang di bawahnya sudah diberi ratus (campuran berbagai macam rempah seperti kayu manis, daun sirih, jeruk purut, dan bahan lain yang dibakar).

Itu salah satu cara untuk merawat kain batik yang dipraktikkan sang ibu. ”Ibu saya sangat menyukai batik. Bahkan, beliau memiliki banyak sekali koleksi batik lawas warisan nenek,” ucap perempuan kelahiran Tulungagung, 18 Agustus 1963, tersebut.

Tak heran, sejak kelas I SMP, Laras amat mengenal batik. ”Untuk anak perempuan, ibu selalu kasih kado ulang tahun batik. Kadang kalau belanja batik harus dobel. Untuk saya dan adik perempuan,” tuturnya.

Menurut Laras, sang ibu tidak pernah sekali pun melewatkan tradisi atau selametan yang dilakukan secara turun-temurun untuk lima anaknya. Di usianya yang 53 tahun, Laras masih menyimpan semua batik yang digunakan untuk berbagai macam upacara peringatan.

Ada batik Grompol asal Solo yang dikenakannya saat upacara tarapan, ketika haid pertama di usia 13 tahun. Koleksinya yang lain adalah batik Sidoluhur kenangan mododareni.

Ada juga batik Sidomukti untuk panggih manten dan Sidoasih Prada untuk dodot paes ageng Solo yang dikenakan saat resepsi pernikahan pada 1991. Semua batik wahyu tumurun itu dilipat rapi dan diberi label, lengkap dengan tahun upacara digelar.

Batik memang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Jawa mulai lahir hingga mati. Setiap corak batik memiliki makna dan mengandung nilai adiluhung.

Misalnya, batik Sidomukti asal Solo milik Laras. Motifnya seperti kupu-kupu, singgasana raja, gunungan, dan bunga di atas latar belakang berwarna cokelat tua.

’’Batik tersebut digunakan pengantin dengan harapan selalu mendapat kebahagiaan, kemuliaan, kesejahteraan, dan kemakmuran di kehidupan mereka,’’ papar perempuan yang mendapatkan piagam penghargaan Kirana Award dari Hj Nina Soekarwo sebagai wanita pilihan Jawa Timur 2010 tersebut.

Berawal dari hanya menyimpan batik warisan ibunya, Laras menjadi kolektor yang memiliki sekitar 200 lembar kain batik lawas dari berbagai daerah. Sebut saja Jambi, Lasem, Banyumas, Cirebon, Kudus, Semarang, Pekalongan, dan sebagainya.

”Paling banyak dari Jawa Tengah,” tambahnya. Seluruh batik lawasnya berusia di atas 30 tahun. Bahkan, yang tertua berusia 90 tahun. Hampir seabad. Selain warisan, Laras kerap berburu batik dari satu kota ke kota lain.

Tengok saja batik tiga negeri yang berusia 90 tahun miliknya. Batik itu memiliki simbol tiga daerah yang direpresentasikan dengan warna. Ada merah (Lasem), cokelat (Solo), dan biru (Pekalongan).

Tiga warna itu disatukan ke dalam gambar bunga-bunga lengkap dengan ranting dan daun. Batik tiga negeri tersebut dibuat pembatik asal Tiongkok, Tjoa Siang Gwan.

”Semua keturunan Tjoa sudah meninggal. Maka dari itu, batiknya pun menjadi sangat langka,” tuturnya. Batik tiga negeri itu ditaksir hingga Rp 25 juta.

Koleksinya yang lain adalah batik buatan Lu Ie Tian dari Sidoarjo. Batik tersebut juga diperkirakan berusia lebih dari 80 tahun. Batik Lu Ie Tian memiliki motif daun berwarna hijau dan merah terang berukuran besar.

Daun itu dikelilingi detail rapat dari daun muda yang berukuran lebih kecil berwarna putih yang meliuk membentuk pusaran. Sambil berjalan, Laras menunjukkan koleksinya yang lain.

Dia mengambil, lalu membentangkan matik kuno Kudus berukuran primis Prancis (210 x 110 cm) dari raknya. Selain bercorak bunga, batik itu memiliki titik-titik yang sangat tipis dan halus hampir di seluruh permukaannya.

”Titik-titik itu dibuat menggunakan canting 0,0 cm. Jadi, pembuatnya pasti sangat telaten,” ucap Laras. Laras mengakui, merawat batik peninggalan ibunya yang meninggal pada usia lebih dari 80 tahun itu memang tidak mudah.

Selain hobi mengoleksi batik, kecintaannya terhadap budaya dan karya seni membuat Laras merawatnya dengan segenap hati.

”Zaman dulu orang membatik itu susah. Contohnya, batik gentongan yang dibuat para istri yang menunggu suaminya berlayar hingga berbulan-bulan,” katanya.

Setelah digambar, lanjut dia, batik asal Madura tersebut disimpan ke dalam gentong selama enam bulan. Pengerjaan yang lama membuat batik itu memiliki nilai tinggi.

Untuk merawat batik lawasnya, Laras lebih memilih menggunakan cara tradisional hasil berguru kepada sang ibu. ”Saya nurut ibu, dibeber di atas kurungan ayam. Di bawahnya diberi ratus,” paparnya, lalu tersenyum.

Laras pun meluangkan waktu untuk rutin mencuci batik-batiknya. Batik memang tidak boleh sembarang dicuci. Bukannya menjadi bersih, cara yang salah bisa merusaknya.

”Cuci pakai lerak, nggak boleh dikucek, dan mengeringkannya diangin-angin saja,” jelasnya. Lerak (Sapindus rarak) adalah tanaman yang bijinya bisa digunakan sebagai detergen secara tradisional.

Setelah itu, batik disimpan ke dalam almari khusus yang sudah diberi silica gel. Saking seringnya berinteraksi dengan batik, Laras mengaku ketagihan dengan harum khas batik lawas. ’’Bagi saya, bau malam itu harum,” katanya.

Bau khas tersebut seakan membawanya bernostalgia dan merupakan terapi pribadi di tengah kesibukan. Tingginya harga jual batik kuno tidak menggoyahkan hati Laras untuk menjadikan koleksinya sebagai lahan bisnis.

”Saya belum berniat untuk menjual semua koleksi ini. Biarlah di situ entah sampai kapan,” tuturnya sambil memandangi deretan batik kuno di hadapannya.

Menurut Laras, tradisi membatik itu turun-temurun. Dengan begitu, setiap motif pasti bisa dikenali berasal dari keluarga pembatik tertentu. Batik juga menunjukkan status sosial seseorang.

Dalamnya filosofi yang terkandung pada sebuah batik membuatnya terus menjadi daya tarik. Dan, daya tarik itulah yang membuat cinta Laras menjadi abadi pada batik. (*/c7/dos/sep/JPG)

Editor : admin

Lerem Pundilaras, Kolektor Batik Kuno Berusia Puluhan Tahun