alexametrics

Moh. Huri Ajari Warga Jetis Kulon Membatik Gratis

Hasilkan Goresan Estetis dengan Sapu Lidi
14 Oktober 2020, 07:48:30 WIB

Belajar membatik langsung kepada perajin batik menjadi kegiatan yang rutin dilakukan warga Jetis Kulon VIII, Kelurahan Wonokromo. Kegiatan itu membuat ibu-ibu di sana punya skill baru sekaligus lebih produktif di masa pandemi.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

Rumah Moh. Huri yang rindang karena ditumbuhi pohon jambu selalu tampak ramai saban Minggu. Di sana ada lima belas ibu-ibu yang rutin datang. Tentunya dengan tetap berdisiplin mengenakan masker dan menjaga jarak.

Ya, di sana mereka tak sekadar bertamu. Tapi, berguru ilmu perbatikan kepada Huri yang sudah puluhan tahun malang melintang sebagai perajin batik.

Mereka belajar teknik menggambar motif batik hingga proses pewarnaannya. Semua diajarkan secara cuma-cuma. Huri mengatakan, belajar membatik sejatinya digagas sejak 2018. Namun, aktivitas itu sempat berhenti beberapa lama. Setahun kemudian, kelas membatik digiatkan lagi meski belum terlalu banyak peminat.

’’Nah waktu pandemi, benar-benar dirutinkan lagi belajarnya,’’ terang Huri saat ditemui di kediamannya pekan lalu.

Bapak tiga anak itu mengungkapkan, banyak yang kesulitan saat diajari teknik batik tulis dengan menggunakan canting.

”Ribet katanya. Mending beli saja. Lantas saya berpikir, apa kira-kira teknik membatik yang mudah. Sehingga mereka tetap bisa belajar sesuai dengan kemampuannya,’’ imbuh alumnus Seni Rupa dan Kerajinan IKIP Surabaya (Unesa) itu.

Huri lalu teringat bahwa dirinya pernah mengkreasikan motif batik dengan memanfaatkan sapu lidi. Dalam proses pembuatannya, sapu lidi dicelupkan ke lilin malam. Lantas, sapu lidi tersebut digoreskan pada lembaran kain. Bisa juga diciprat-cipratkan hingga terbentuk motif seperti kumpulan titik-titik.

Sebagai variasi, Huri juga mengajarkan kombinasi batik lidi dengan menggunakan bunga dan daun. Teknik lidi tersebut berhasil membuat ibu-ibu tertarik. Mereka beralasan lebih mudah. Apalagi untuk mereka yang sudah berumur dan kesulitan mencanting. ’’Mereka jadi lebih rajin buat belajar. Daripada ngerumpi dan stres di rumah, mending ngumpul-ngumpul nambah skill sama pemasukan,’’ paparnya.

Semangat mereka pun jelas terlihat saat bergotong royong membuat kain batik sendiri untuk seragam PKK.

Huri mengungkapkan, lidi dipilih bukan hanya karena secara teknis mudah diterapkan bagi pemula. Tetapi, juga dianggap bisa mewakili ekspresi goresan yang estetis.

Dalam seni lukis, lanjut dia, lidi kerap dimanfaatkan sebagai alat bantu. Untuk menghasilkan goresan yang indah di atas kertas gambar maupun kanvas.

’’Setelah saya coba aplikasikan untuk batik, ternyata bisa membuat kesan ekspresif. Apalagi kalau yang membuat itu punya insting, imajinasi, dan kepekaan yang bagus. Maka, hasil akhirnya bisa indah sekali,’’ ujarnya.

Menurut dia, sense of art atau kepekaan berimajinasi dalam menggoreskan lidi di atas kain untuk motif batik itu bisa diasah. Caranya adalah dengan berlatih terus-menerus. Sehingga bisa tahu kapan harus tebal dan kapan harus tipis. Sekaligus tahu bagian yang harus ditata untuk lebih menonjolkan goresan lidi.

Huri mengaku tidak takut tersaingi oleh ibu-ibu yang akhirnya jago membatik. Mengajari membatik justru semakin membuatnya bergairah mencari, menemukan, dan mengembangkan ide-ide baru. ”Saya enggak khawatir dijiplak sama sekali. Karena meniru motif batik tidak semudah itu. Apalagi hasil seni itu tidak bisa sama persis antara satu sama lain,’’ ucapnya.

Menurut Huri, tantangan terbesar mengajari warga sekitar adalah soal konsistensi. Dia berharap semangat sekaligus ketekunan mereka yang belajar membatik tidak hanya musiman. Tapi, terus dijaga sampai nanti bisa merasakan rezeki tambahan dari menjual batik.

Dian Suci, istri Huri yang juga membantu mengajari warga untuk membatik, mengatakan bahwa mengajari ibu-ibu itu harus serius tapi santai.

’’Sambil guyon supaya enggak ada yang baper. Karena karakter orang kan beda-beda, ya. Tapi kalau sudah bisa sendiri, bisa dilepas,’’ ujar Dian.

Salah seorang warga Tutik Purwaningsih mengungkapkan bahwa kegiatan belajar membatik itu membuat waktu luang ibu-ibu di masa pandemi terisi dengan pengalaman baru dan kegiatan yang bermanfaat. ’’Betul-betul diajari dari awal pembuatan motif sampai proses akhir pewarnaan. Macam-macam teknik lidi sampai membuat gradasi warna yang tidak cepat luntur. Juga bagaimana menghadirkan feeling atau kreteg ati saat membatik,’’ ungkapnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads