alexametrics

Cerita Vinna Melwanti Berjuang Melawan Covid-19

Jangan Sepelekan  Protokol Kesehatan
14 Oktober 2020, 10:41:11 WIB

Vinna Melwanti baru saja melewati 15 hari proses perawatan sebagai pasien positif Covid-19. Kini dia masih menjalani masa pemulihan atas serangan virus korona tersebut.

“SELAMA 14 hari harus tetap kontrol,” ujar Vinna mengawali cerita dengan JawaPos.com, Rabu (14/10) melalui melalui pesan WhatsApp (WA).

Meski sudah dinyatakan negatif dan sembuh dari virus korona, tapi karyawati di salah satu perusahaan swasta Jakarta itu masih merasakan efek obat yang dia konsumsi selama masa perawatan. Bahkan selama 14 hari dia tidak diperkenankan keluar rumah.

“Suara saya masih serak. Tidak tahu nih, apakah ini efek dari batuk dan minum obat selama masa perawatan,” ujar Vinna terus berusaha tegar sembari menunjukkan gambar dengan setumpuk obat yang mesti dikonsumsi setiap hari.

Sekali minum, jumlah obatnya ada segenggam yang dikonsumsi. Belum lagi obat lewat infus lima botol sehari. Belum habis satu botol, botol berikut yang lebih besar sudah mengantre.

Vinna sempat membagikan pengalamannya berjuang melawan Covid-19 di media sosial (facebook) beberapa waktu lalu, namun tulisannya itu hilang. “Mungkin di-take down. Tapi tidak masalah, nantinya saya akan tulis lagi pengalaman ini dalam bentuk buku,” imbuh mantan wartawati itu.

Dia memang berencana menuliskan ke buku pengalamannya melawan Covid-19, jika dia sudah benar-benar pulih. Menurut dia, selama diserang virus korona atau sejak dinyatakan positif Covid-19, semua terasa berbeda.

DIKONSUMSI: Setumpuk obat yang harus dikonsumsi Vinna selama masa perawatan. (DOKUMENTASI PRIBADI)

***

Ketika itu, Kamis siang (3/9) badan Vinna basah kuyup karena keringat. Dia baru saja mendapat kabar dari pihak RS swasta tempat dia menjalani swab PCR. Hasil labor itu menyatakan dia positif SAR-COV-2. Namun, Vinna disarankan untuk mencari RS lain karena ruang isolasi untuk pasien Covid-19 di RS swasta tersebut sedang penuh. Sementara Vinna harus mendapat perawatan intensif.

Mencari rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta pun susah karena relatif penuh semua. Beruntung mendapat informasi dan bantuan rekannnya akhirnya Vinna dirujuk ke RSPP Modular Ekstension Simprug. Lantas Vinna dibawa ke RSPP untuk mendapatkan perawatan dan diisolasi.

Selama perawatan itu Vinna nyaris pingsan, namun masih sadar. Selama di RSPP dia mendapat pengawalan 24 jam oleh tenaga kesehatan. Segala kegiatan terus dikontrol. Ketika itu Vinna sesak napas. Dia harus dibantu oksigen yang dipasang di hidung dan mulut. Kondisi seperti itu dia tidak bisa ke toilet. Harus pakai keteter.

Belum lagi obat-obat yang harus dikonsumsi dalam jumlah banyak. Ada pula infus. “Belum habis satu infus, infus berikutnya sudah siap dipasang,” ujarnya mengenang.

Ketika itu Vinna sangat drop. Batuk yang dialami tidak henti-henti sampai mengeluarkan bercak darah. Bahkan pandangannya memutih. Keringat terus bercucuran sampai badan basah kuyup. Dia sempat dirawat di ruang ICU.

Baca juga:

 

***

Di tengah kondisinya yang kritis, Vinna berusaha terus berdoa agar mendapat kesembuhan. Dukungan dan optimisme dari tenaga kesehatan membuat Vinna semakin semangat agar bisa sembuh.

Setelah tidak di ruang ICU, Vinna sudah bisa berinteraksi dengan orang luar via video call. Memang ruang rawatan dilengkapi jaringan internet gratis. Sehingga, keluarga dan kerabat hanya bisa “membesuk” dari gawai masing-masing. Cara komunikasi itulah yang membuat perempuan 38 tahun itu terhibur dan semakin semangat bisa sembuh.

Sampai pada akhirnya Vinna menjalani masa perawatan selama 15 hari. Kemudian dia  dinyatakan sudah negatif.

Kendati sudah dinyatakan negatif, Vinna sempat drop lagi. Dia terpaksa harus mejalani perawatan di RS satu dua hari. Lantas dia menjalani isolasi mandiri di rumah.

***

Selama masa pemulihan ini Vinna tidak keluar rumah. Dia tetap menjalani isolasi di rumah. Berusaha mengkonsumsi makanan bergizi, berolahraga dan berusaha untuk tetap riang.

Dengan pengalaman yang dirasakannya itu, perempuan berkacamata ini berpesan agar tidak menyepelekan protokol kesehatan. Tetap menjaga memakai makser, mencuci tangan, dan menjaga jarak. “Jangan anggap enteng, sebab ilmu kita (masyarakat awam) rendah, ilmu dokter tinggi,” katanya.

Lebih penting lagi dia mengatakan, korona itu ada. Bukan konspirasi. Wabah itu ada. Korona itu adalah sakit marathon yang paling cepat membuat orang pergi untuk selama-lamanya alias meninggal.

Bila seseorang terkena Covid-19, biayanya sangat mahal sampai dengan ratusan juta rupiah. “Untung ditanggung negara.”

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads