alexametrics

Sukses Operasi Pemisahan Tubuh, Abad Ingin Jadi Penghafal Alquran

14 Agustus 2019, 20:48:44 WIB

SUDAH  14 tahun Amir Mukti Abad dipisahkan dari kembar siamnya yang tumbuh tidak sempurna. Bekas operasinya pun masih terlihat jelas. Namun, kondisi itu tidak meruntuhkan semangatnya. Banyak prestasi yang diraih olehnya.

KARTIKA SARI, Surabaya

Pakai peci hitam dengan baju koko hijau serta sarung. Itulah penampilan Amir Mukti Abad ketika dijumpai di rumahnya di Jombang pada Jumat (9/8). Pada 14 tahun lalu, Abad –sapaan akrab Amir Mukti Abad– terlahir dengan kondisi incomplete conjoined twins. Dua bayi yang melekat dengan salah satunya tidak tumbuh sempurna.

’’Habis dari masjid, salat Isya,’’ kata Abad sopan setelah menyalami Jawa Pos yang mendatangi rumahnya. Hari itu kebetulan dia ada di rumah. Sebab, pondok pesantren tempatnya belajar tengah libur menjelang Hari Raya Idul Adha. ’’Kalau pas tidak libur, dia nggak pulang. Baru pulang kalau uang sakunya sudah habis,’’ ucap Mamad Rizqon, sang ayah.

Abad kini duduk di bangku kelas VII madrasah tsanawiyah. Dia menempuh pendidikan di Mualimin Alhuda, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Mamad menuturkan, anak ketiganya itu memiliki keinginan sendiri untuk ikut asrama pondok pesantren.

Mereka bercerita, Abad dilahirkan di klinik kesehatan milik bidan desa. Saat lahir, Munatin, ibunya, tidak mengetahui bahwa anaknya mengalami kelainan.

Dia hanya diperlihatkan kepala Abad dan diberi tahu bidan bahwa anaknya laki-laki. Sementara itu, badan bayi dibungkus dengan menggunakan kain.

’’Saat itu saya juga belum tahu bahwa Abad memiliki kelainan. Bidan tidak memberi tahu. Habis itu, dia minta bayi kami dirujuk ke RSUD Jombang,’’ kata Mamad. Namun, tidak lama di RSUD Jombang, Abad kembali dirujuk ke faskes tingkat selanjutnya, yakni RSUD dr Soetomo. Hampir seminggu Munatin tidak bisa bertemu dengan anaknya. Sejak awal dia juga tidak memberikan ASI pada anaknya. Dia baru diberi tahu kondisi Abad ketika hendak dikirim ke RSUD dr Soeromo.

Sekitar tiga bulan Abad tinggal di RSUD dr Soetomo. Dia menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium untuk persiapan operasi. Rencana operasi sempat diundur karena kondisi Abad kadang tidak stabil. ’’Sampai-sampai, perawatnya marah ke saya kalau ada bekas gigitan nyamuk di tubuh Abad. Katanya, dia bakal dimarah-marahi dokter kalau sampai kondisi Abad tidak sehat,’’ ungkap Munatin. Operasi yang dilaksanakan pada 2 Juni 2005 berjalan lancar. Kembar siam tidak sempurna yang menempel pada tubuh Abad bisa diangkat.

Munatin menceritakan, sepulang dari RSUD dr Soetomo, saat usia Abad sekitar 2 tahun, perayaan besar diadakan di desa tempat tinggal mereka. Abad beserta keluarga diarak keliling desa. Banyak warga yang datang ke rumah untuk menyambut kedatangan Abad. ’’Mereka tidak hanya datang dengan tangan kosong. Berbagai bantuan kami terima dari warga,’’ ucap Mamad.

Bekas operasi di bagian dada Abad masih ada. Suatu hari, teman-temannya menanyakan apa yang ada di dada Abad. Sebab, bekas itu terlihat menyembul. Pertanyaan tersebut sempat membuat Abad tidak percaya diri. ’’Tapi, selalu saya yang meyakinkan Abad. Wis tho le, gak popo. Gak usah pengin ditrepes-trepesno,’’ tutur Munatin.

Keadaan Abad sekarang jauh lebih baik daripada saat lahir. Yang perlu banyak dilakukan adalah bersyukur. ’’Di ruang IRNA (instalasi rawat anak RSUD dr Soetomo, Red) banyak yang lebih parah sakitnya. Itulah yang selalu saya tanamkan agar selalu mengucapkan alhamdulillah,’’ ungkap Titin.

Hingga kini, Abad tidak memiliki keluhan apa pun dengan kesehatannya. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar di kalangan teman-temannya. Dia sering mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba-lomba keagamaan.

Bukan hanya itu, Abad juga rajin beribadah. Munatin bercerita bahwa Abad selalu melaksanakan salat fardu berjamaah di pondok pesantren. Dia datang ke masjid lebih awal daripada teman-temannya. ’’Dia juga rajin puasa sunah Senin-Kamis,’’ ungkapnya.

Saat ditanya apa cita-citanya, dia mengatakan ingin menjadi penghafal Alquran. Saat ini dia mempelajari kitab kuning dan kitab gundul. ’’Pengin ke Mesir juga untuk memperdalam agama Islam,’’ ungkap Abad.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/tia

Close Ads