alexametrics

Cerita Tim Renang DKI Delapan Jam Tertahan di Bandara Hongkong

Jadi Pembeli Terakhir sebelum Restoran Tutup
14 Agustus 2019, 16:14:25 WIB

Tiba pukul 15.45, dijadwalkan terbang pukul 19.05, tapi akhirnya baru bisa dievakuasi pukul 23.00. Para atlet dan pelatih pun sempat ngemper: poster sisa demonstran jadi alas dan tas digunakan sebagai bantal.

AGAS P. HARTANTO, Jakarta, Jawa Pos

PUKUL 19.31 WIB tadi malam (13/8), pelatih renang DKI Jakarta Albert Sutanto memberi kabar Jawa Pos.

“Ini saya baru mendarat,” tulis dia melalui pesan singkat.

Segera obrolan kami kemudian beralih melalui sambungan telepon. Albert terdengar tertawa lega. Bersyukur bisa kembali ke Indonesia.

Maklum, dia dan tim renang DKI Jakarta sempat tertahan hampir 8 jam di Bandara Hongkong. Buntut demonstrasi menolak RUU Ekstradisi di negeri bekas koloni Inggris yang kini berada di bawah Tiongkok tersebut.

Tim renang DKI Jakarta pergi ke Hongkong untuk mengikuti Hongkong Open Swimming Championship yang berlangsung 9 sampai 11 Agustus. Sebelum berangkat Kamis pekan lalu (8/8), Albert bersama ofisial tim sudah mencari tahu kondisi terkini Hongkong.

Mulai bertanya kepada teman yang menetap di sana hingga mengontak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hongkong. Maklum, sejak Juni lalu demonstrasi untuk menolak RUU Ekstradisi terus berlangsung.

Namun, dari informasi yang mereka kumpulkan, situasi Hongkong masih kondusif. Tim renang DKI Jakarta akhirnya bertolak dengan membawa 22 orang. Perinciannya, 15 atlet, 6 pelatih, dan 1 manajer tim.

Begitu tiba, lanjut Albert, situasi di Hongkong ternyata memang masih aman. Turnamen berjalan lancar. Tidak terganggu kejadian apa pun sebagai buntut demonstrasi.

Malah ketika pulang dari venue untuk menuju penginapan, kendaraan tim melewati Victoria Park. Albert melihat tempat itu penuh dengan massa berbaju hitam. Membawa poster dan spanduk yang berisi protes.

“Semua berjalan dengan baik karena para pendemo atau mahasiswa itu berpendidikan ya. Nggak merusak fasilitas. Jadi, kami aman,” katanya.

Namun, problem datang ketika rombongan hendak kembali ke Jakarta Senin lalu (12/8). Dengan jadwal penerbangan pukul 19.05.

Rombongan tim renang DKI Jakarta sudah tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Hongkong pukul 15.45. Mereka mendapati bandara sudah penuh sesak oleh massa berbaju hitam itu. Aktivitas penerbangan lumpuh.

Di antara 23 anggota kontingen, kata Albert, hanya 22 orang yang kembali ke Indonesia. Satu orang memilih tetap tinggal.

“Ya, kami bingung di tengah-tengah demonstran mau ngapain,” kenang dia.

Mereka mencoba datang ke konter Cathay Pacific, maskapai penerbangan yang mereka pilih untuk kembali ke Jakarta. Tidak ada orang. “Ke pusat informasi, petugasnya bilang tidak tahu. Penerbangan di layar tahu-tahu canceled semua,” jelas Albert.

Pasrah. Tidak tahu berapa lama telantar di bandara. Pikiran Albert hanya satu saat itu: mencari toko atau restoran yang buka untuk makan.

Apes, semua toko dan restoran di terminal 3 tutup. Albert dan para atlet kemudian menuju terminal 2. “Infonya, di sana masih ada yang buka,” imbuhnya.

Dan ternyata benar. Ada beberapa restoran dan minimarket yang buka. Para atlet dan pelatih lantas membeli makanan dan minuman untuk bekal jika sampai malam masih terkatung-katung di bandara. “Kami jadi pelanggan terakhir yang beli. Setelah itu tutup,” ujar mantan perenang nasional tersebut.

Setelah toko dan restoran tutup, mau tidak mau mereka harus ngemper sambil berusaha menghubungi KJRI. Dalam unggahan Instagram story I Gede Siman Sudartawa, tampak Felix Sutanto, pelatih renang DKI Jakarta lainnya yang juga saudara kembar Albert, sampai menggunakan poster sebagai alas dan tas sebagai bantal tidur.

Saat itu pendemo sudah berangsur meninggalkan bandara. Dan, meninggalkan poster protes mereka begitu saja.

Bandara Internasional Hongkong kemarin (13/8) memang sudah dibuka lagi. Penerbangan ke dan dari Hongkong pun sudah berlangsung.

Senin lalu (12/8) Cathay Pacific dengan rute Jakarta-Hongkong membatalkan keberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Begitu juga Garuda Indonesia dan China Airlines.

Kemarin Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan menyatakan bahwa maskapainya sudah mulai beroperasi normal. “Garuda Indonesia juga terus melakukan koordinasi intensif bersama otoritas Bandara Internasional Hongkong untuk memastikan kelancaran layanan operasional,” tuturnya.

Meski demikian, dia menyarankan penumpang secara berkala mengecek dan memastikan jadwal penerbangan. Sebab, situasi di Bandara Internasional Hongkong belum stabil.

Total, tim renang DKI Jakarta telantar hampir 8 jam di Bandara Internasional Hongkong. Mereka tidak sendiri. Ada 20 orang dari Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) DKI Jakarta. Juga para perenang dari Bali yang berjumlah empat orang.

Pihak KJRI juga tidak mudah mengevakuasi para atlet dan pelatih. Situasi kacau di bandara menyulitkan bus untuk masuk. Hingga akhirnya, pukul 23.00 waktu setempat, seluruh tim renang dan PPLM DKI Jakarta bisa diangkut menuju kantor KJRI.

Puluhan staf KJRI menyambut kedatangan mereka. Makanan dan minuman sudah dihidangkan untuk menjamu mereka. Kamar tidur yang ada sudah dirapikan untuk para atlet dan pelatih beristirahat.

“Yang pria tidur di musala lantai 4. Yang perempuan tidur di kamar,” ucap Albert.

Setelah berhasil dievakuasi ke KJRI, para pelatih dan ofisial berusaha menghubungi agen travel untuk mengatur jadwal penerbangan pulang. “Setelah melalui proses negosiasi, sebagian bisa terbang sore dan saya bersama kloter kedua malam hari,” terang Turmudzi, manajer tim.

Kloter sore itu berangkat pukul 15.05 kemarin. Kloter berikutnya persis empat jam berselang.

Kloter pertama terdiri atas sebagian tim pelatda dan tim PPLM DKI Jakarta. Lalu, kloter kedua terdiri atas sebagian tim PON DKI dan empat perenang Bali. Albert, Felix, dan Siman pulang lebih dulu dengan pesawat Cathay Pacific nomor penerbangan CX 719. Sedangkan kloter malam menggunakan pesawat dengan nomor penerbangan CX 797. Yang terbang malam, antara lain, Turmudzi, Gagarin Nathaniel Yus, dan Joe Aditya.

Dari kejuaraan yang digelar di Aquatic Center Victoria Park itu, tim renang DKI sukses meraih 3 medali emas, 4 medali perak, dan 3 medali perunggu. Juara SEA Games 2017 nomor 50 meter gaya punggung I Gede Siman Sudartawa menjadi penyumbang medali emas di nomor spesialisasinya. Kemudian diikuti Putra Mohammad Randa di nomor 400 meter gaya bebas dan Joe Aditya di 1.500 meter gaya bebas.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum mengeluarkan travel warning terkait situasi di Hongkong. Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah menuturkan bahwa hal itu belum perlu. Sebab, masyarakat masih bisa berkegiatan seperti biasa.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/lyn/lum/c11/oni/ttg)

Close Ads