JawaPos Radar

Rubby Emir Ciptakan Kerjabilitas, Platform Pencari Kerja Khusus Para Difabel

14/06/2016, 16:31 WIB | Editor: fimjepe
Rubby Emir Ciptakan Kerjabilitas, Platform Pencari Kerja Khusus Para Difabel
Rubby Emir (kanan) dan dua staf kerjabilitas.com di Lembaga Saujana, Jogjakarta (Sekaring Ratri/Jawa Pos)
Share this

Rubby Emir tergerak untuk menciptakan situs Kerjabilitas karena paham bahwa animo kerja penyandang disabilitas besar, tapi kesempatannya terbatas. Hasil survei tentang tingginya etos para difabel menjadi andalan untuk ”merayu” perusahaan.

 

SEKARING RATRI A., Jogjakarta

 

ANIK Puji Lestari sudah menganggur sekitar delapan bulan ketika internet mempertemukannya dengan situs Kerjabilitas. Klinik kaki palsu yang dibukanya bersama seorang teman telah lama ditutupnya karena tak menarik banyak pasien. Sementara pekerjaan lain tak kunjung didapat.

Di tengah kebingungan itu, matanya bersirobok dengan lowongan di BRI yang ada di www.kerjabilitas.com. ”Akhirnya saya coba melamar posisi staf administrasi di BRI pusat di Jakarta,” kata perempuan yang harus mengenakan kaki palsu sejak Februari 2012, setelah kaki kirinya diamputasi, itu.

Lamaran Anik ternyata mendapat respons positif. Setelah menjalani berbagai tes, per 1 Mei 2016 Anik resmi menjabat staf administrasi BRI Jakarta Pusat. ”Situs Kerjabilitas benar-benar membantu penyandang disabilitas seperti saya. Saya pun diperlakukan dengan baik dan ramah oleh teman-teman saya sekantor meski saya seorang difabel,” imbuhnya.

Untuk orang-orang seperti Anik itulah Rubby Emir mendedikasikan situs buatannya yang kali pertama dirilis pada 23 Maret 2015 tersebut. Sebab, minim sekali kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Rubby paham sekali soal itu karena adik kandungnya juga seorang penyandang disabilitas. ”Kebanyakan keluarga yang punya anggota disabilitas berpikir mereka nggak perlu kerja. Padahal, mereka seharusnya bisa mandiri,” papar Rubby.

Anik juga mengakui, ketika mengalami kecelakaan yang membuat kakinya diamputasi, dirinya sempat sangat down dan minder. Dunia seolah runtuh. Dia tak bisa membayangkan masa depan seperti apa yang tersisa untuk seorang difabel. Padahal, dia sebenarnya masih berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ketika itu, sebelum kemudian pindah ke Poltekkes Kemenkes di Surakarta.

Kuncinya memang terdapat di akses. Karena itulah, Rubby akhirnya tergerak untuk membikin lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memfokuskan diri kepada para penyandang disabilitas. Lembaga tersebut diberi nama Lembaga Saujana.

Lembaga itu didirikan pada 2014. Kala itu Rubby segera membikin program mitra kerja penyandang disabilitas, termasuk di dalamnya platform Kerjabilitas. Pada saat yang bersamaan, terdapat program Cipta Media Seluler.

Proyek tersebut memberikan pendanaan bagi ide-ide kreatif yang berbasis telepon seluler. Rubby pun mendaftarkan ide program Kerjabilitas itu. ”Ternyata kami terpilih. Kami pun dapat pendanaan,” papar pria bernama lengkap Muhammad Rubby Emir Fahriza itu.

Rubby menguraikan, langkah pertama yang dilakukan adalah assessment dan sejumlah focus group discussion (FGD) di tiga kota, yakni Surabaya, Malang, dan Jogjakarta. Dalam FGD tersebut, dia mengundang para penyandang disabilitas untuk berdiskusi soal program itu. ”Responsnya lumayan. Dalam forum FGD, setidaknya bisa 20–30 orang. Penyandang disabilitas yang datang juga banyak. Ada tunadaksa, tunanetra, tunarungu, dan tunawicara,” paparnya.

Dari forum tersebut, Rubby menyadari bahwa animo para penyandang disabilitas yang ingin mencari kerja ternyata tinggi. Dari sana pula, dia sudah memiliki gambaran besar platform Kerjabilitas. Setelah sejumlah survei dan FGD, dia dan rekan-rekan selembaga mulai menggarap website platform penyedia kerja tersebut.

Website itu digarap sesuai dengan kebutuhan para penyandang disabilitas. Sebab, beberapa kalangan difabel tidak bisa mengakses lowongan pekerjaan yang ada di sejumlah platform pencari kerja lain.

Akhirnya, pada Maret 2015, website Kerjabilitas resmi dirilis. Awalnya, para pelamar difabel baru mencapai 50 orang. Namun, selang beberapa bulan, jumlah pelamar mencapai 300 orang.

Sementara itu, untuk penyedia kerja, tim Kerjabilitas rutin mencari informasi ke perusahaan-perusahaan yang bersedia mempekerjakan para difabel. Sebab, di lapangan, dengan berbagai alasan, masih banyak perusahaan yang enggan menggunakan jasa mereka.

”Biasanya, dalam sehari, misalnya kami hubungi sepuluh perusahaan, yang bersedia mungkin dua. Tiap hari kami terus tingkatkan targetnya. Sekarang kami coba push jadi lima per hari,” ungkapnya.

Pada 17 Maret lalu, Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sebenarnya sudah disahkan. UU tersebut mewajibkan perusahaan negara untuk mempekerjakan penyandang disabilitas sebanyak 2 persen dari total tenaga kerja dan 1 persen untuk perusahaan swasta. Bahkan, telah diatur pula pemberian insentif kepada perusahaan atau badan usaha yang mempekerjakan penyandang disabilitas.

Namun, menurut Rubby, tidak mudah meyakinkan perusahaan, baik milik negara maupun swasta. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan tidak paham akan apa yang disebut dengan penyandang disabilitas. Bahkan, setelah paham pun, tidak sedikit yang menolak dengan alasan tidak ada fasilitas yang memadai untuk pekerja dengan kekurangan fisik.

”Kendala utamanya biasanya aksesibilitas fasilitas kantor bagi penyandang disabilitas,” kata Rubby.

Alumnus Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya itu memberikan contoh, untuk tunadaksa, di kamar mandi harus ada handrail. ”Tapi, intinya, mereka sudah takut duluan kalau mau mempekerjakan penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Padahal, berdasar penelitian dan sejumlah survei, pekerja dengan kekurangan fisik memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya, memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka juga sangat loyal terhadap perusahaan. Kalau mereka bekerja sama dalam tim, tim tersebut juga akan menjadi lebih kuat. Sebab, bakal tumbuh empathy collective.

Hasil-hasil penelitian itu pula yang menjadi andalan tim Kerjabilitas untuk ”merayu” pemberi kerja. Rubby juga menekankan, berdasar riset, profitabilitas perusahaan yang mempekerjakan kaum difabel pun akan meningkat.

”Berdasar sebuah riset di Australia, peningkatan profitnya bisa sampai 10 persen,” katanya.

Itu bisa terjadi karena ketika sebuah perusahaan inklusif dan membuka segmen lain yang belum diakses sebelumnya, misalnya supermarket yang menyediakan ramp atau restoran yang kamar mandinya memiliki handrail, segmen konsumennya pun akan bertambah.

Cara-cara yang digunakan tim Kerjabilitas tersebut sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Hingga kini, setidaknya terdapat sekitar 350 perusahaan yang menjadi mitra kerja Kerjabilitas. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di kawasan Jabodetabek, Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, dan Bandung.

Beberapa di antaranya merupakan perusahaan besar. Antara lain, L’Oreal, Carrefour, Bank CIMB Niaga, BRI, Shangri-La Hotel, dan Wikimedia. Ada juga beberapa perusahaan kecil dan menengah serta sejumlah organisasi nonprofit. Sementara itu, jumlah pelamar mencapai 2.500 orang dengan rentang usia 18–40 tahun dan pendidikan minimal SMA/SMK.

Rubby menuturkan, perusahaan seperti Carrefour tergolong sudah merasakan manfaat lebih dengan mempekerjakan pegawai difabel. Perusahaan tersebut menggunakan pegawai tunarungu sebagai kasir.

”Dan mereka sudah membuktikan bahwa pekerja tunarungu ini etos kerjanya lebih tinggi dan lebih loyal. Mereka juga fokus pada pekerjaannya,” katanya.

Begitu pula Wikimedia. ”Mereka mempekerjakan tunarungu untuk digitasi dokumen,” paparnya.

Rubby berharap implementasi UU Penyandang Disabilitas bisa sepenuhnya dijalankan. Termasuk pembentukan Komisi Nasional Disabilitas yang setingkat dengan Komnas HAM atau Komnas Perlindungan Anak.

Sesuai dengan amanat undang-undang, komisi tersebut bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan hak-hak para penyandang disabilitas. ”Termasuk pengawasan terhadap ketentuan perusahaan untuk menyediakan 1 persen jatah bagi pekerja penyandang disabilitas,” terang Rubby.

Kalau itu terwujud, sosok seperti Anik yang berlatar belakang pendidikan sangat memadai mungkin tak perlu menunggu delapan bulan untuk mendapatkan panggilan kerja. (*/c11/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up