alexametrics

Raden Ayu Della Safitri Hidup dengan Lupus Darah

Setiap Hari Butuh Tiga Kantong Darah
14 Mei 2019, 20:01:24 WIB

JawaPos.com – Hidup dengan penyakit langka yang ganas tentu saja tidak mudah. Raden Ayu Della Safitri kini menjalaninya. Sejak tiga bulan lalu, dia divonis menderita penyakit seram: lupus darah.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

ADRIAN Kenzo, adiknya, sudah lama memprediksi bahwa Raden Ayu, kakaknya, menderita suatu penyakit. ”Awalnya, saya tak memperhatikan meski dia (Kenzo, Red) indigo. Tapi, ramalannya ternyata benar,” kata Raden Ayu.

Ketika ditemui di sebuah restoran pada Kamis (2/5), wajahnya agak pucat. Dia lemas. Matanya juga mulai berkunang-kunang. Sesekali perempuan asal Manukan, Tandes, itu mengatakan kepada ibunya, Deasy Anggraini, 40, bahwa dirinya lelah. Deasy pun langsung tahu apa yang harus dilakukan jika anaknya bertingkah seperti itu. Yakni, memberikan obat penambah darah. Maklum, Ayu seorang penderita lupus darah. Sudah tiga bulan belakangan dia mengidapnya.

Penyakit yang dikenal dengan seribu wajah (karena gejalanya bisa berbeda-beda tiap penderita) itu diidap siswi kelas X SMKN 1 Surabaya tersebut sejak awal Februari 2019.

”Awalnya badan saya hangat,” ucapnya. Dia pun cuek. Sebab, Ayu pikir penyakit biasa. Lama-kelamaan, sakitnya menjadi-jadi. Suhu tubuh Ayu meninggi. “Keringatan terus,” ungkapnya. Deasy yang tak mau mengambil risiko langsung memeriksakan Ayu ke RS Husada Utama, Tambaksari.

Tim dokter mendiagnosis Ayu menderita lupus darah. Yakni, penyakit yang menyerang jaringan darah. Pada beberapa waktu, penderita lupus darah mengalami kecapekan. Daya tahan tubuhnya juga menurun. Karena itu, penderita penyakit sistemis tersebut membutuhkan asupan darah setiap hari Untuk Ayu, setidaknya ada tiga kantong darah yang disuntikkan ke tubuhnya. Itu pun hanya menambah kadar hemoglobin (Hb) sedikit. ”Paling nambah dua atau tiga angka,” ucap Ayu. Normalnya, seseorang yang sehat memiliki kadar Hb 13. Sementara itu, kadar Hb Ayu sering berada di angka 6. ”Sangat rendah,” ungkap Deasy sembari menunjukkan foto anaknya setelah diperiksa.

Karena itu, Ayu sekarang tak bisa melakukan banyak aktivitas. Tim dokter menetapkan beberapa larangan untuk Ayu. Antara lain, tidak boleh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan terkena sinar matahari langsung. Sebab, tekanan darahnya bisa menurun. Padahal, gadis yang beranjak dewasa itu punya segudang mimpi. Salah satunya menjadi penari. ”Sejak SD dia suka menari,” ungkap Deasy.

Sedih jelas dirasakan Ayu. Terutama ketika melihat teman sebayanya bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Niat melanggar pun beberapa kali muncul. Hingga suatu ketika, ada temannya yang mengajak Ayu menari. Ayu yang sudah lama vakum menari lantas mengiyakannya. Meski sebentar, biasanya Ayu langsung pusing. Di tubuhnya, juga timbul bercak-bercak merah. Itu menandakan, Ayu tak bisa lama-lama beraktivitas. Selepas pulang sekolah, ibunya kerap mengomel jika mengetahui hal itu terjadi. ”Mama marahnya seram,” ujar perempuan yang bercita-cita menjadi psikolog itu, lantas tertawa.

Cerita tentang penyakit Ayu kerap menjadi perbincangan di lingkungan komunitas ibu Deasy, Lupus Kirana Surabaya. Anggotanya lebih dari 60 orang. Di sana, mereka juga kerap berbagi soal penyakit lupus lain yang diidap sesama anggota komunitas. Antara lain, lupus tulang, kulit, paru-paru, dan ginjal. ”Ayu satu-satunya penderita lupus darah di komunitas itu,” ucap Deasy.

Secara umum, Ayu, lanjut dia, menghabiskan sebagian harinya di rumah. Selepas pulang sekolah, dia biasanya dijemput. ”Sesampai di rumah, dia langsung tidur atau menggambar,” ungkapnya. Jika tidak ada kegiatan, Ayu sering berbincang dengan adiknya, Kenzo, soal dunia lain. Dua orang itu merupakan indigo.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/ano



Close Ads