alexametrics

Perjuangan Congrock 17 Melestarikan Musik Keroncong

14 Mei 2019, 18:06:09 WIB

Mempertahankan tradisi sekaligus berkreasi di saat yang bersamaan bukanlah hal mudah. Tantangan-tantangan besar pernah dihadapi grup Congrock 17 demi melestarikan musik keroncong.

Shabrina Paramacitra, Semarang

MARCO Marnadi teringat akan konser bertajuk “Ayo Kumpul, Nyanyi, Njoget Bareng” pada 24 April lalu. Konser yang diadakannya bersama grup Congrock 17 di Semarang tersebut berjalan sukses.

Itu bukan sekadar konser biasa. Ada misi khusus. Sebab, konser tersebut sengaja diadakan untuk menyatukan pendukung pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden 01 dan 02. Para pendukung kedua paslon dari semua partai hadir dalam konser tersebut. Mereka membaur. Bersama-sama menikmati alunan musik. “Konser itu diadakan untuk mencegah perpecahan,” kata Marco.

Pada awal Juli nanti, Congrock dijadwalkan manggung lagi. Tapi dalam tujuan event berbeda. “Kali ini mengundang musisi keroncong nasional, Malaysia, dan Amerika Serikat,” ungkap Marco yang juga salah seorang vokalis Congrock 17 kemarin (13/5).

Congrock 17 memang bukan grup keroncong biasa. Aneka aliran bisa mereka bawakan dalam balutan keroncong. Akhir Maret lalu Jawa Pos berkesempatan menyaksikan grup itu manggung dalam sebuah pesta pernikahan. Lagu Can’t Help Falling in Love begitu enak dibawakan. Lagu yang dipopulerkan Elvis Presley tersebut sebenarnya cenderung bergenre pop. Namun, nuansa keroncong begitu kental membalut lagu itu. “Sekarang kita ganti lagu yang lebih nge-beat ya,” kata Pipit Dila, vokalis grup tersebut, kepada para tamu yang hadir di MAC Ballroom Semarang akhir Maret lalu.

Sekejap kemudian, Dila dan para personel Congrock 17 beralih membawakan lagu lain, Ticket to Ride. Lagu The Beatles itu kembali dibawakan dengan irama keroncong.

Ya, begitulah karakter Congrock 17. Konsisten membawakan lagu apa saja dalam balutan musik keroncong. Uniknya, musik yang dibawakan tak sebatas keroncong pakem. Keroncong-rock, keroncong-pop, keroncong-dangdut, keroncong-jazz, semua aliran musik seakan bisa dilahap. Hanya, benang merah musik keroncong tak pernah lepas. “Aku memang dasarnya penyanyi all genre. Jadi, aku bawakan lagu-lagu dengan iringan musik keroncong, tapi dengan style aku sendiri,” jelas Dila saat istirahat di sela-sela acara. Dia bergantian tampil bersama tiga vokalis lainnya.

Gadis 25 tahun itu termasuk personel yang tergolong muda di Congrock 17. Selain Dila, ada personel yang usianya di bawahnya. Masih 19 tahun. Namun, dari total 14 orang personel, grup tersebut juga masih memiliki beberapa personel senior yang usianya hampir 60 tahun.

Meski menjadi vokalis grup keroncong, Dila mengaku jarang mendengarkan musik keroncong lawas seperti langgam dan stambul. “Aku tahu cengkok keroncong asli itu kayak gimana, tapi aku enggak terlalu menampilkannya,” sambung perempuan asal Batang, Jateng, tersebut.

Sebagai grup keroncong, Congrock 17 termasuk memiliki usia mapan. Usianya sudah 36 tahun. Dulu grup itu didirikan sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam sebuah vocal group di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang (1983).

Pria yang biasa disapa Yanto ini adalah salah seorang pendiri grup yang masih bertahan sejak awal Congrock 17 didirikan sampai sekarang. Dulu nama grup bentukan Yanto dkk adalah Keroncong Remaja 17.

Salah satu lagu pertama yang dimainkan grup itu adalah Rek Ayo Rek ciptaan Is Haryanto. Lagu tersebut dipopulerkan maestro keroncong Mus Mulyadi. Karena tak ada personel grup yang paham keroncong, Yanto dan delapan personel lainnya harus belajar secara otodidak. Mereka belajar bagaimana pakem keroncong tersebut.

Keroncong asli harus menggunakan tujuh alat, yakni ukulele cak dan cuk, selo (cello), bas, flute, biola, dan gitar. Namun, Yanto dkk tak mau terkungkung dalam batasan-batasan itu. Mereka memainkan lagu dengan berbagai alat musik. Lagu yang dibawakan pun tak lagi terbatas pada lagu daerah.

Lagu Rek Ayo Rek sampai I Want to Break Free dari Queen dibawakan dengan irama keroncong, tapi dengan tempo yang cepat. Cenderung ngerock, kata orang-orang yang sering menonton penampilan Keroncong Remaja 17 kala itu.

Jadilah, grup tersebut berubah nama menjadi Congrock 17. “Cong” diambil dari kata keroncong, sedangkan “rock” berarti bebas. Sebab, musik rock identik dengan kebebasan yang disuarakan dengan cara bermusik.

Menurut Yanto, keroncong yang menuruti pakem itu bisa diibaratkan perempuan telanjang. Cantik, indah, tapi tak bisa diajak kencan karena tampil “polos”. Sedangkan keroncong modern ibarat perempuan cantik yang pakai baju. Cantik: karena pakai rok, pakai atasan, pakai make-up, jadi lebih asyik diajak kencan. “Kalau sudah pakai ‘baju’, keroncong ini bisa saya mainkan di kafe, di hotel, di acara-acara lain,” jelasnya.

Marco Marnadi lantas mengungkapkan kisah perjuangan Congrock 17. Menurut mantan jurnalis itu, sejak awal didirikan, Congrock 17 memang konsisten di jalan keroncong modern. Namun, caranya itu yang membuat komunitas keroncong menentang jalan yang dipilih Congrock 17. Tak pelak, grup tersebut sempat dikucilkan musisi-musisi senior. Salah satunya mulai dipersulit tampil di festival.

Marco sampai merasa disidang rekan-rekannya sesama musisi waktu itu. Congrock 17 dinilai merusak tatanan musik keroncong karena tidak mengikuti pakem. Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya Congrock 17 bisa diterima di asosiasi. Mereka diakui sebagai musisi keroncong kreatif.

Perjuangan Congrock 17 tak berhenti sampai di situ. Pada tahun yang sama, Marco yang sekaligus ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) memimpin grup perkusi dari Semarang untuk tampil di festival perkusi di Kuala Lumpur, Malaysia. Dia sangat terkejut ketika lagu Caping Gunung ciptaan maestro keroncong Gesang dimainkan dan diakui sebagai warisan budaya dari Johor.

“Ndik jaman berjuang..

Njur kelingan anak lanang..

Mbiyen takopeni..

Ning saiki ono ngendi..”

“Aduh, itu liriknya saja bahasa Jawa, kok dibilang dari Johor,” cetusnya jengkel.

Dalam festival tersebut, grup perkusi yang dipimpin Marco menang sebagai penampil terbaik. Namun, bukannya senang, Marco justru pulang ke Indonesia dengan hati yang amat kesal. Sebab, keroncong diklaim sepihak secara terang-terangan oleh bangsa lain.

Dua tahun berikutnya, Congrock 17 mengikuti Festival Keroncong Johor di Malaysia. Para peserta dari berbagai negara menampilkan musik khas masing-masing. Rupanya perwakilan dari Malaysia dan Indonesia sama-sama menampilkan musik keroncong. “Pejabat di sana waktu kasih sambutan bilang, sebagai musik leluhur kite, mari kite bumikan musik keroncong ke seantero dunia,” kata Marco menirukan ucapan pejabat setempat.

Marco pun marah. Dia memprotes panitia acara tersebut. Pihak panitia pun tak terima. Sebab, kala itu musisi Malaysia memang merasa keroncong itu budaya Malaysia. Akhirnya Congrock 17, panitia, dan peserta dari Malaysia duduk serta berdiskusi bersama. Mereka membahas kerancuan asal muasal budaya tersebut.

Marco ngotot membuktikan bahwa keroncong adalah warisan budaya tak benda dari Indonesia, diturunkan sejak zaman penjajahan bangsa Eropa. Dia kemudian mengajak semua orang di festival itu untuk browsing internet. Marco juga meminta bantuan Syafiee Obe, akademisi asal Johor yang pernah membuat penelitian tentang musik keroncong. Pembuktian berhasil. Setelah itu barulah pihak dari Malaysia sadar bahwa selama ini mereka salah.

“Akhirnya acara Festival Keroncong Johor itu berubah nama menjadi World Music Festival. Dan perwakilan dari Malaysia menampilkan musik Melayu,” terangnya. Di luar manggung, Congrock 17 sering mengadakan coaching clinic keroncong kreatif hingga menjadi inspirasi bagi banyak grup keroncong baru yang dibentuk anak-anak muda.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/git)



Close Ads