JawaPos Radar

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut

14/03/2018, 18:23 WIB | Editor: Budi Warsito
Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut
Mauluddin Harahap, guru penyandang disabilitas tetap semangat mengajar di pelosok Sumut. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebagai penyandang disabilitas, semangat Mauluddin Harahap untuk mengabdi di dunia pendidikan patut diberi penghargaan. Dirinya cukup berjasa karena memberi pendidikan kepada murid sekolah dasar yang tinggal di kawasan pelosok Sumatera Utara, tepatnya di Desa Napa Gadung Laut, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).

Dengan keterbatasannya, tak membuat keinginannya mengajar menjadi surut. Mauluddin mengajar murid kelas I sampai VI. Semua mata pelajaran diajarkan bergantian dengan guru lain di SDN 101190 Napa Gadung Laut.

Sejak pagi buta Mauluddin Harahap sudah bergegas merapikan pakaian dinasnya. Setelah menyisir rambut dia langsung bergegas pergi ke sekolah untuk mendidik murid yang sudah menunggu.

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut
Mauluddin Harahap, guru penyandang disabilitas tetap semangat mengajar di pelosok Sumut. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Langkahnya tergopoh-gopoh saat menuruni tangga rumah panggung khas Mandailing yang sudah mulai reot. Tongkat besi berbalut kain menyerupai ulos dipakai sebagai alat bantu berjalan. Setelah memakai sepatu yang sudah mulai rusak, dia bergegas pergi ke sekolah.

Dengan segala keterbatasannya, lelaki kelahiran 46 tahun silam itu tetap gigih mengajar. "Rumus persegi adalah empat kali sisi," kata Mauluddin ketika JawaPos.com mendatangi sekolah tersebut, Rabu (14/3).

Suaranya lantang saat mengajar. Dia lebih banyak menggunakan bahasa daerah Angkola ketika menerangkan pelajaran. Hal itu dilakukan karena, jika hanya menggunakan Bahasa Indonesia banyak murid yang tidak mengerti.

SD tempat Mauluddin mengajar tidak seperti sekolah diperkotaan. Kondisi bangunan sudah rusak parah. Beberapa bagian dinding papan sudah banyak yang bolong. Lantai semen juga sudah rusak. Beruntung jarak sekolah hanya beberapa meter dari tempat tinggalnya.

Awalnya, dia bekerja sebagai penjaga sekolah. Namun, hatinya tergerak untuk memberikan ilmu kepada para murid karena, sekolah tersebut kerap ditinggal tenaga pengajar dari luar desa. Hatinya pun tergerak untuk memberikan ilmu kepada para murid.

"Perasaan saya semenjak mengajar ini kadang-kadang senang. Mengajar itu sudah seperti sebuah hobi," katanya.

Menjadi pengajar murid SD bukanlah hal mudah. Apalagi Mauluddin hanyalah lulusan SMP. Pendidikan SMA yang dienyamnya di daerah Rantau Prapat tidak selesai karena kesulitan ekonomi usai ayahnya meninggal.

Kisah Mauluddin sampai menjadi pengajar di kampung halamannya cukup panjang. Tahun 1992 Mauluddin sempat merantau Pekanbaru dan Kota Medan. Namun, dia kembali lagi ke kampung. Dua tahun berada di kampung, akhirnya dia berangkat ke Jakarta. Di sana Mauluddin bekerja serabutan.

Nahas, Mauluddin menjadi korban tabrak lari ketika mengendarai sepeda motor. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter mengamputasi kaki kirinya. Mauluddin frustasi, bahkan dia nyaris bunuh diri setelah sadar kakinya sudah diamputasi.

"Saya bisa bangkit lagi karena mengikuti bimbingan rohani. Kebetulan pembimbingnya itu dari daerah Tapanuli Selatan. Jadi katanya, nanti kalau udah sehat jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kalau sudah sehat dikasih kerja katanya," ujar Mauluddin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pascakecelakaan tragis itu, Mauluddin ikut bimbingan anak disabilitas. Dia mendapat pengajaran keterampilan grafika. Kemudian dia kembali ke kampung pada 1997. Tak banyak yang dilakukannya di kampung halaman. Keterampilan bidang grafika yang dimilikinya seakan sia-sia.

Rasa bosan membuat Mauluddin berangkat ke Medan untuk mengadu nasib pada tahun 2000. Dia pergi ke daerah Pelabuhan Belawan. Mauluddin kembali bekerja serabutan untuk memenuhi penghidupannya.

15 tahun dia berada di Kota Medan. Pahitnya kehidupan ibu kota menjadi pelengkap hidupnya. Akhir 2015 Mauluddin memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Ketika pulang, dia melihat sekolah dasar yang letaknya dekat rumah tidak memiliki tenaga pengajar. Semangat murid yang bersekolah mendorongnya untuk menjadi tenaga pengajar.

"Tapi melihat murid-murid di sini terlalu prihatin, terus berniat untuk mengajar. Saya kasihan," tuturnya.

Selama mengajar, Mauluddin diupah Rp 500 ribu perbulannya. Pendapatan yang diperolehnya tidak sebanding dengan jasanya sebagai tenaga pendidik. Mauluddin juga tidak berstatus sebagai honorer. Hanya masyarakat yang diangkat sebagai tenaga pengajar.

Mauluddin mengaku, punya keinginan diangkat sebagai PNS. Sama seperti tenaga pengajar lainnya. Namun cita-citanya itu ibarat mimpi belaka. Karena, tempat dia mengajar seakan luput dari perhatian pemerintah. Dinas pendidikan juga tidak pernah datang untuk melihat kondisi sekolah.

"Dari sejak saya sekolah di sini, kondisi sekolah dulu dan sekarang tidak ada bedanya. dari dibangun sampai sekarang memang sudah seperti ini," ungkapnya.

Seperti pengajar pada umumnya, dia menginginkan anak-anak yang diajarinya punya cita-cita yang tinggi. Kelak lulusan dari SD mereka harus menjadi orang-orang yang tangguh.

Dia berharap besar pemerintah bisa menaruh perhatian kepada dunia pendidikan khususnya di daerah pelosok dan tertinggal. "Pemerintah harus bisa lihat ke sini. Masih banyak sekolah di pelosok yang butuh perhatian," kata Mauluddin menutup pembicaraan.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up