alexametrics

Menikmati Nuad Thai, Warisan Budaya Nonbenda UNESCO

Pijatan yang Lahir dan Berkembang dari Kuil
14 Februari 2020, 12:55:19 WIB

Nuad Thai, pijat tradisional Thailand, dinyatakan sebagai warisan budaya dunia nonbenda pada Desember lalu. Wartawan Jawa Pos DOAN WIDHIANDONO menjajal tradisi mengglobal itu.

Jalaal Madjed Boucher tak langsung percaya tentang penghargaan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tersebut. Warga Prancis keturunan Tunisia itu lantas membuka telepon genggamnya. Googling.

”Benar juga ya. Jadi, hari ini kita menikmati dua warisan budaya dunia,” katanya sembari menunjukkan hasil penelusurannya kepada saya.

Kamis (16/1) siang yang gerah itu, Boucher sedang duduk di bawah pohon di depan Wat Po Thai Traditional Medical and Massage School, Bangkok, Thailand. Bangunan berdinding kaca gelap tersebut ada di bagian timur kompleks Kuil/Wihara Wat Po. Nama resmi kompleks kuil itu adalah Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan. Tapi, ”panggilannya” cukup Wat Po (sebagian menuliskan sebagai Wat Pho).

Kuil tersebut terletak di kawasan bersejarah di Distrik Rattanakosin. Persis di utaranya adalah Grand Palace atau istana raja Thailand yang kini banyak difungsikan sebagai tempat wisata dan museum. Kuil Wat Po dibangun sejak era Raja Rama I pada 1798. Meski demikian, tempat itu sudah difungsikan sebagai wihara sejak awal abad ke-16. Pembangunan Kuil Wat Po terus berlangsung hingga abad ke-19.

Pusat kompleks kuil tersebut adalah patung Buddha Berbaring (Reclining Buddha). Patung keemasan itu bertinggi 15 meter dengan panjang 46 meter. Wujudnya adalah Sang Buddha yang berbaring pada sisi kanan tubuhnya. Tangan kanan menyangga kepala. Bagian telapak kakinya setinggi 3 meter dan panjangnya 4,5 meter. Di sekeliling patung itu terdapat 108 bejana perunggu.

Saat mengunjungi patung, peziarah dan wisatawan kerap memasukkan uang koin ke bejana-bejana tersebut. Karena itu, suasana hening di sekitar patung itu kerap berpadu dengan gumaman para peziarah, suara jepretan kamera, dan gemerincing uang pada bejana perunggu.

Karena keelokan itu, Kuil Wat Po dimasukkan dalam daftar Memory of the World oleh UNESCO. Program tersebut dibuat untuk mengenang warisan budaya dunia yang layak diabadikan dalam kenangan. ”Saya datang ke sini untuk kuil ini. Keabadian budayanya,” kata Boucher.

”Tapi, kalau ternyata pijat ini juga warisan budaya, kenapa enggak?” tambah lelaki 38 tahun tersebut. Dan pada hari itu Boucher baru paham bahwa Kuil Wat Po memang adalah the birthplace of Thai massage. Tempat lahirnya nuad Thai alias pijat Thailand.

Berita tentang masuknya nuad Thai dalam warisan budaya dunia nonbenda memang membuat nama Kuil Wat Po naik daun. Karena itu, Aon Marneenet, staf Wat Po Thai Traditional Medical and Massage School, langsung ngeh saat Jawa Pos menyebut kata UNESCO. ”Anda mau reporting? Silakan saja. Ambil foto sedikit saja ya. Biar orang yang pijat enggak terganggu,” tutur Aon sembari menyuruh saya masuk ke area pijat.

Ya, meski namanya sekolah pijat, gedung itu lebih tepat disebut sebagai panti pijat. Di dalam ada 18 ranjang untuk body massage (pijat seluruh tubuh) dan enam kursi untuk foot massage (pijat kaki). Dengan hati-hati saya melangkah di antara ranjang-ranjang tersebut sembari memotret. Satu dua pasang mata menatap saya. Terutama karena di tempat itu ada ”rambu” bergambar handphone dan kamera dicoret: dilarang memotret dan menyalakan handphone.

Siang itu Aon terlihat sibuk. Dia terus-menerus berdiri di depan meja resepsionis. Perempuan paro baya tersebut menjadi pemandu turis yang ingin pijat. Dia menerangkan jenis pijat dan harganya. Setelah itu Aon memberikan nomor antrean untuk pelancong tersebut. Satu orang harus menunggu 40 menit hingga 1 jam untuk dilayani. Namun, kursi tunggu di depan meja resepsionis tidak penuh. ”Banyak yang menunggu sambil berjalan-jalan di kuil,” katanya.

Apakah setelah ada penghargaan UNESCO, tempat pijat itu menjadi ramai? ”Di sini selalu ramai,” jawab Aon. Kata dia, kredibilitas Wat Po sebagai pusat kesehatan sudah dikenal sejak dua abad silam. ”Sekolah ini adalah yang pertama diakui Kementerian Kesehatan (Thailand, Red),” ujar Aon.

Pada 1955 di dalam kompleks tersebut didirikan sekolah kesehatan tradisional Thailand. Ada empat jurusan: ramuan tradisional, kesehatan tradisional, kebidanan, dan pijat. Para siswa datang dari berbagai bangsa. ”Muridnya banyak sekali. Sekarang sekolahnya di luar area kuil,” katanya. Selain di Wat Po, sekolah pijat itu terdapat di Chiang Mai, Salaya, Chaeng Watthana, dan Tatien.

Pendirian sekolah kesehatan tradisional di area Kuil Wat Po adalah wujud pelestarian teknik kesehatan Thailand. Dulu para biksu mempelajari itu di biara. Mereka mencatatnya dengan detail. Di kuil tersebut juga tampak sejumlah patung yang menggambarkan olah tubuh tradisional untuk menjaga kebugaran. Seperti gerakan-gerakan yoga.

Para siswa sekolah pijat akan mendapatkan lima kursus utama. Tiga kursus dasar adalah pijat dasar, pijat kaki, dan pijat minyak aromaterapi. Masing-masing ditempuh selama 30 jam. Kalau lulus, mereka boleh mengambil kursus pijat lanjutan serta pijat anak/bayi. Untuk yang itu, waktu kursusnya adalah 60 jam. Biayanya THB 10.500–12.000 (sekitar Rp 4,6–5,2 juta). Kalau mau yang lebih lanjut pun ada. Mulai pijat sport, manikur-pedikur, kursus spa, dan sebagainya. Biayanya 2–3 kali lipat.

”Kalau hanya wawancara, sayang sekali. Harus mencoba. Ini pijat asli Wat Po. Di luar sana banyak yang mengaku sebagai pijat asli Wat Po. Atau mengaku lulusan Wat Po. Tapi, banyak yang bohong,” ungkap Aon.

Maka, saya pun mencoba Thai body massage selama setengah jam. Ongkosnya 320 baht (sekitar Rp 150 ribu). Saya mendapat bed dekat meja resepsionis. Yang menangani terapis perempuan. Sebelum memijat, dia mengatupkan tangan ke dadanya, menghormat ke patung Buddha yang ada pada pilar di samping ranjang.

Selama setengah jam, di bawah kipas angin besar yang memutar perlahan, saya menikmati warisan dunia itu. Sang terapis seolah menggunakan apa saja yang dia punya untuk memijat. Jemari, telapak tangan, siku, hingga dengkul dan telapak kaki. ”Pokoknya rileks,” tuturnya sambil terus menekuk-nekuk tubuh saya sedemikian rupa.

Tak ada batas lelaki dan perempuan di tempat pijat itu. Sehingga persis di samping saya adalah seorang perempuan Asia Timur yang terlihat terus memejamkan mata. Entah tidur atau menahan ngilu.

Memang, Wat Po bukan satu-satunya tempat pijat di Bangkok. Di seluruh penjuru Bangkok bertebaran tempat pijat. Namun, seperti kata Aon, tak semuanya asli pijat tradisional. Banyak yang menawarkan servis ’’lebih dari sekadar pijat’’. Yang begitu itu pasti bukan warisan budaya dunia non-benda. Dan yang terang, prosesnya tak bisa dituliskan secara detail di surat kabar…

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c9/ayi


Close Ads