JawaPos Radar

Stefer Rahardian, Petarung Indonesia Menuju ONE: Kings of Courage

14/01/2018, 11:50 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Stefer Rahardian
Stefer Rahardian saat berlatih tanding bersama teman-temannya di Bali MMA, Kabupaten Badung, Bali, menjelang One: Kings of Courage di Jakarta mendatang (DIMAS NUR APRIYANTO/JAWA POS)
Share this image

Panggung kompetisi fighting ONE Championship 2018 dihelat pada 20 Januari. Stefer Rahardian semangat berlatih di Bali Mix Martial Arts (MMA). Rahardian akan bertarung di kelas terbang. Wartawan Jawa Pos Dimas Nur Apriyanto berkesempatan mengintip latihannya di Badung, Bali.

 

DIMAS NUR APRIYANTO

Stefer Rahardian
Stefer Rahardian saat berlatih tanding bersama teman-temannya di Bali MMA, Kabupaten Badung, Bali, menjelang One: Kings of Courage di Jakarta mendatang (DIMAS NUR APRIYANTO/JAWA POS)

 

BAK ... Buk ... Bak! Suara itu muncul dari tubuh yang dibanting di atas matras. Stefer Rahardian berulang-ulang mengempaskan tubuh lawannya di atas matras.

Eppen, sapaan Stefer Rahardian saat kecil, telah berlatih di Bali Mix Martial Arts (MMA), Kabupaten Badung, Bali, selama 60 hari. Hampir 936 jam, Eppen melatih otot besi dan tulang bajanya. ’’Senin sampai Sabtu latihan. Minggu libur,’’ tuturnya saat membuka obrolan dengan wartawan Jawa Pos kemarin (11/1).

Ruangan dengan panjang sekitar 5 meter dan lebar 2 meter menjadi saksi keganasan Eppen melahap lawannya ketika berlatih. Wajah lawan Eppen beberapa kali tampak menahan sakit. Senyuman nyengir menghiasi wajah lawan latihan tandingnya. Nama Eppen berulang-ulang disebut sang pelatih. ’’Great, Stefer! Great!’’ teriak sang pelatih. ’’Hold on the head!’’ tambahnya.

Keringat mengucur deras dari wajah Eppen. Raut muka yang haus akan kemenangan terpancar dari wajahnya. Dua alisnya beberapa kali terangkat.

Kebengisan Eppen dalam menghadapi lawannya saat berlatih tanding tampak mengerikan. Otot bisepsnya menggelembung. Dia menyuguhkan raut muka tegas bak macan yang siap menerkam musuh.

Bintang bela diri kelas terbang Indonesia itu menuturkan, tidak ada beban menjelang panggung kompetisi fighting ONE Championship 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 20 Januari. ’’Harus dibawa happy. Optimistis bisa memberikan yang terbaik,’’ terang anak bungsu di antara tiga bersaudara itu.

Kendati demikian, Eppen mengungkapkan, dirinya tidak melakukan persiapan khusus untuk partai pembuka musim 2018. Dia hanya mengikuti instruksi yang diminta pelatih. ’’Game plan-nya bagaimana. Lalu, fokus ke dalam diri,’’ ujarnya.

Muhammad ’’The Spider’’ Imran, rival dalam kompetisi yang bertajuk King of Courage itu, berasal dari Pakistan. Eppen mengungkapkan, dirinya tidak terlalu fokus terhadap kelemahan lawannya. ’’Yang penting, saya fokus bagaimana meningkatkan kemampuan diri,’’ jelasnya lantas tersenyum.

Dalam sehari, Eppen berlatih pagi, siang, hingga sore. Durasinya dua jam pada pagi, siang, dan sore. Dia total berlatih enam jam sehari. Atlet berusia 32 tahun itu menyatakan senang bisa bergabung dengan ONE Championship dan berlatih di Bali MMA. Dia sering membagikan pengalaman kepada para pelatih dan teman fighting-nya.  ’’Di sini, saya dilatih Head of Coach Don Carlo Claus, Andrew Leone, dan Anthony Leone,’’ paparnya.

Kesuksesan Eppen tidak diraih secara instan. Perjuangannya mendaki keberhasilan dalam dunia MMA penuh darah dan lara. Tidak sedikit ganasnya kehidupan dilahap Eppen dengan tuntas.

Dia menjalani kehidupannya di gang-gang sempit di lingkungan Jakarta Pusat. Dia tinggal di sana sejak berusia lima tahun. Nah, nama Eppen adalah hadiah dari teman-teman sebayanya kala itu.

Eppen tumbuh di lingkungan rumah yang cukup keras. Dua bola matanya seolah menembus sekat masa lalu. Eppen menuturkan bahwa para lelaki di sekitarnya kerap mabuk di depan pintu rumah. Obat-obatan dan geng juga bukan hal yang asing. Tembok mental dibangun setinggi-tingginya. Tujuannya, dia tidak ikut terseret di lingkungannya.

Berbagai kesulitan kehidupan seakan menjadi bagian dari perjalanan hidup Eppen saat itu. Pertama, orang tuanya harus berpisah sekitar 20 tahun lalu. Kemudian, kematian kakaknya. Hal tersebut belum cukup membuat Eppen trauma. Setiap hari, dia mengalami intimidasi dan harus memberikan semua uang sakunya. ’’Saya dulu sempat jadi korban bullying,’’ terang Eppen.

Karena itu, dia memutuskan untuk belajar ilmu bela diri. Tidak disangka, hatinya berlabuh manis ke ilmu bela diri. Sendiri. ’’Hari demi hari, bulan demi bulan, saya menyadari bahwa saya tak melawan,’’ ucapnya. ’’Di sekolah saya, banyak sekali anak yang berasal dari Ambon dan Papua. Mereka berbadan besar. Saya mengatakan, besok kita akan berkelahi,’’ sambungnya.

Berbadan kecil tidak menjadi halangan untuk terus berlatih. Dia terus meroket dengan kecepatan tinggi. Keahliannya menggeliat dengan masif. Eppen menantang pengganggu terbesarnya. Hingga terjadi sebuah perkelahian singkat dan cukup melelahkan. Perkelahian itu berhenti karena dipisahkan guru di sekolahnya. ’’Semua terjadi waktu SMA,’’ ujarnya.

Perkelahian itu membuat pengganggu-pengganggu Eppen keok. Aksi intimidasi tak lagi menghadangnya. Kehidupannya berlanjut. Pada 2008, dia diundang ke kelas Brazilian Jiu-Jitsu. Sengatan racun bela diri masuk ke aliran darahnya. Dia merasa ketagihan dan terus berlatih. ’’Saya nyambi bekerja juga,’’ ujarnya.

Bekerja delapan jam sebagai office boy, Eppen menembus jam sibuk di Jakarta hanya untuk berlatih dengan berani. Dia berlatih selama dua jam setiap hari. Pria yang lahir pada 1986 itu rela merogoh kantongnya dalam-dalam untuk membayar sang pelatih. ’’Di turnamen pertama, saya mengalami kekalahan. Yang kedua, juga kalah. Namun, saya tak mau menyerah. Saya pikir hanya perlu menang sekali. Saya hanya ingin mengetahui bahwa saya tidak membuang waktu saya. Di turnamen keempat, saya berada di posisi kedua. Itulah saatnya saya mulai ketagihan memenangi medali,’’ ungkapnya.

Pada 2011, malapetaka singgah di kehidupannya. Eppen cedera. Partner latihan membuat Eppen terjatuh. Kemudian, merobek ACL di lutut kanannya. Biaya operasinya mencapai USD 3.700. Tabungannya telah dikeruk sangat dalam. ’’Saya perlu penyembuhan. Namun, tak memiliki uang,’’ ucapnya muram.

Beruntung, dewi fortuna berada di pihaknya. Gym tempat Eppen berlatih memberikan pinjaman uang yang dapat dikembalikan melalui penghasilannya saat kembali ke pekerjaannya. Operasi dilakukan di Surabaya untuk memangkas biaya. Sayang, operasi itu gagal. Setahun dalam masa pemulihan, sekrup yang digunakan dalam operasi terlepas dan seakan melayang ke lututnya.

Kesialan itu menjadikan Eppen meminjam lebih banyak uang untuk membayar dokter lain. Kemudian, lututnya yang cedera dioperasi. Namun, hal yang paling mengerikan dari situasi tersebut adalah banyaknya orang yang kehilangan kepercayaan kepada Eppen bahwa dirinya bisa kembali ke jalur yang benar untuk melanjutkan karir bela. ’’Tak ada yang mau berlatih dengan saya. Mereka semua berpikir saya sudah berakhir,’’ jelasnya.

Hingga akhirnya, pada 2013, Eppen bertemu dengan Andrew Leone. Petarung ONE Bantamweight World Championship masa depan tersebut mulai menunjukkan kemampuan muay thai dan jiu-jitsu-nya di Jakarta Muay Thai & MMA.

Eppen sepertinya sangat cocok untuk bekerja dengan orang Amerika Serikat tersebut. Sejak saat itu, keduanya berlatih bersama. ’’Saya tak ingin mengecewakan Andrew. Sehingga saya memberikan 100 persen komitmen. Saya kira dia mempercayai saya,’’ ucapnya.

Terbukti, keduanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Jadi, Eppen mengikuti jejak temannya itu untuk masuk ke ring dan meraih kesuksesan yang sama. Pada 2015, dia memulai debut profesionalnya. Dia mampu meriah kemenangan dengan cepat. Kemudian, dia melompat ke ONE Championship yang telah ditunggu-tunggu. Namanya melambung.

Pada Agustus 2016, segera setelah bergabung, Eppen mengalahkan lawannya dengan jurus rear-naked choke hanya dalam dua menit untuk memenangi ONE Flyweight Indonesian Tournament Championship.

Eppen meneruskan kemenangannya pada tahun selanjutnya. Namun, dia merebut kemenangan terbaiknya pada September 2017 dalam pergelaran pendukung pemuncak dalam ONE: Total Victory. Eppen menjadi primadona.

Di Jakarta Convention Center (JCC), Rahardian membuat petarung Kamboja Sim Bunsrun terjatuh ke atas matras dengan cerdas. Dia menghentikan lawannya dengan pukulan-pukulan telak di posisi atas.

Petarung Kamboja tersebut berusaha menghindar dari pukulan-pukulan Eppen, lalu membalikkan keadaaan. Namun, Eppen mengantisipasinya dengan gerakan rear-naked choke layaknya kobra. Kemudian, lawannya itu menyerah dalam 67 detik. Gemuruh tepuk tangan menggelora.

Eppen tak terkalahkan. Dia kini memiliki rekor profesional hebat dengan raihan 7-0. Dia berpotensi menjadi atlet bela diri terbaik dari Indonesia. ’’Saya hanya ingin terus berkembang dan maju,’’ tegasnya.

Saat berjalan melintasi gang-gang sempit di lingkungan Jakarta Pusat, Eppen selalu mengingat banyak hal yang telah hadir di dalam kehidupannya. ’’Saya rasa ini adalah kunci utama yang membuka pikiran saya untuk berpikir out of the box dan menjadi diri saya saat ini sekarang,’’ tambahnya.

Dengan penampilannya yang impresif, Eppen bisa membawa dirinya menembus lapisan atas di divisi kelas terbang ONE. Di antaranya, ditempati Geje ’’Gravity’’ Eustaquio, Danny Kingad, Kairat ’’The Kazakh’’ Akhmetov, Reece ’’Lightning’’ McLaren, dan ONE Flyweight World Champion Adriano ’’Mikinho’’ Moraes.

Eppen bisa belajar dari pertarungan selanjutnya karena menambah pengalaman sebagai petarung yang kompetitif. ’’Saya tak ingin terburu-buru. Akan selalu ada momen yang tepat. Setiap pertarungan adalah sebuah pembelajaran. Kami sebagai atlet bela diri mendapatkan ilmu yang berharga setiap saat kami berlatih dan melangkah ke dalam laga pertarungan,’’ terangnya.

Melalui kesuksesan yang tengah didapatnya saat ini, Eppen memiliki keyakinan bahwa sabuk gelar juara ONE Flyweight World Championship akan dikenakan di pinggangnya. ’’Saya adalah atlet bela diri yang selalu berharap dapat memberikan hiburan terbaik dan pertunjukan terbaik yang pernah ditonton di atas ring,’’ katanya. ’’Saya hanya ingin menikmati setiap momen yang ada dan sabuk itu akan menjadi milik saya suatu saat nanti,’’ tambahnya.

Eppen tidak hanya berteduh dalam kubangan jadwal latihan yang padat. Menurut dia, doa keluarga tidak kalah penting. Sebelum berlatih dan tanding, dia memiliki satu kebiasaan. Yaitu, menelepon sang ibu. ’’Saya selalu lakukan itu. Minta doa. Tanya lagi ngapain,’’ terangnya dengan suara lirih. Kerinduan kepada sang ibu tampaknya tidak bisa ditutupi Eppen. Matanya sempat berkaca-kaca sebentar ketika bercerita tentang ritual telepon ibunya itu. ’’Saya juga nggak lupa puasa sunah Senin dan Kamis,’’ tambahnya.

Sementara itu, Vice President of Public Relations and Communication Loren Mack bangga dengan Eppen. Dia menjelaskan, Eppen adalah atlet hebat dari Indonesia. Loren meyakini, Eppen bisa tampil baik menghadapi lawannya pada 20 Januari. ’’Saya rasa dia punya power dan tekad yang baik,’’ ujarnya.

*/co4/ind

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up