alexametrics

Aplikasi Gowes Ajak Bertransportasi Minim Polusi

Bermula dari Bali, Tebar Pesona sampai Miami
13 Desember 2019, 16:49:10 WIB

Memahami tren warga yang semakin peduli lingkungan plus kebiasaan lebih suka meminjam daripada membeli menjadi latar belakang Iwan Suryaputra membuat Gowes. Aplikasi itu memungkinkan penggunanya memakai sepeda, otopet, hingga motor listrik.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta, Jawa Pos

Minggu pagi (8/12) di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Banyak orang yang berlalu-lalang. Di antara mereka ada Yorie Warman. Saat dijumpai, dia sedang mengembalikan sepeda listrik berkelir merah kuning.

Pemuda 21 tahun itu mengaku baru menjajal aplikasi Gowes.

’’Ini pertama kalinya. Nyoba-nyoba aja keliling sekitar sini,’’ katanya seraya menata sepeda yang baru disewanya itu ke sebelah sepeda-sepeda dengan warna serupa.

Gowes yang merupakan aplikasi penyedia jasa bike sharing juga punya otopet listrik. Moda transportasi tersebut sedang booming di ibu kota. Tidak jarang pengguna otopet listrik yang masuk jalan raya. Sampai ada yang celaka. Hingga keluar aturan baru. Yakni, naik otopet listrik di jalan raya kena denda Rp 250 ribu.

Otopet Gowes sudah punya aturan itu. Gowes tidak mengizinkan penyewa membawa otopet ke jalan raya. Hanya boleh di daerah tertentu. Di antaranya, Bintaro, Kebun Raya Bogor, Universitas Indonesia (UI), dan tempat-tempat lain di Jabodetabek, Bali, Bandung, serta Semarang.

Cara itu dianggap bisa memperkecil risiko kecelakaan. Lagi pula, dengan daya tahan baterai yang terbatas, otopet listrik semestinya memang hanya digunakan untuk jarak dekat.

Iwan Suryaputra sebagai pendiri Gowes menyebutkan, aplikasinya itu sudah diunduh 200 ribu kali di iOS maupun Android. Namun, pengguna aktifnya baru 20 ribu–40 ribu. Tentu masih kalah jauh jika dibandingkan dengan pengguna aktif aplikasi ojek daring.

Meski begitu, Iwan terus bersyukur karena catatan pengguna menunjukkan grafik positif. Terus bertambah. Apalagi, armada yang mereka miliki baru 1.500 unit.

Gowes kali pertama diluncurkan di Bali pada Agustus 2018. Iwan yang asli Semarang tetapi tinggal di Jakarta merasa Bali sebagai pasar potensial penyewaan sepeda. ’’Untuk wisatawan keliling-keliling dengan area yang tidak terlalu jauh. Kami bekerja sama dengan beberapa hotel di sana,’’ ujarnya.

Gowes dimulai dengan 50 armada. Itu pun cuma sepeda dan sepeda listrik. Otopet baru menyusul. Kemudian ditambah motor listrik. ’’Sekarang yang terbanyak di Jakarta,’’ katanya.

Dari pintu ke pintu, Iwan menawarkan Gowes. Mengajak kerja sama berbagai perusahaan. Tujuan utama mendirikan usaha itu adalah membiasakan masyarakat menggunakan kendaraan tanpa bahan bakar minyak supaya membantu mengurangi polusi.

Dia menyebutkan, ada 80 perusahaan yang bekerja sama dengan Gowes. Mereka menempatkan armada Gowes di area perkantoran, destinasi wisata, sampai tempat belajar seperti di UI dan Telkom University.

Di beberapa tempat, layanan Gowes masih gratis. Namun, untuk yang sudah mematok harga, tarif sewa per setengah jam adalah Rp 3 ribu untuk sepeda angin serta Rp 5 ribu untuk sepeda, otopet, dan motor listrik.

Lulusan Universitas Tarumanagara itu makin yakin usahanya maju karena melihat kebiasaan masyarakat, khususnya di perkotaan, yang lebih senang menyewa daripada membeli. Sikap itu akan semakin terasa seiring dengan pengembangan transportasi masal yang terus digarap pemerintah.

Keyakinan itulah yang membuat Iwan kian berani. Bersama perusahaan asal Tiongkok, Gowes tengah menyiapkan sepeda listrik baru. Iwan juga mengembangkan Viar Q1 sebagai motor listrik andalan. ’’Viar konsentrasi engineering-nya. Kami konsentrasi di IoT-nya,’’ bebernya.

Dengan IoT (internet of things) milik Gowes, masyarakat bisa dengan mudah menggunakan motor listrik tersebut tanpa harus beli. Layanan itu ada di aplikasi Gowes di bagian V-Rent. Walau semua bisa mengunduh aplikasi, tidak semua boleh menggunakan motor listrik itu. Ada syarat khusus. Penyewa motor listrik harus mengunggah foto dan SIM C lebih dahulu. ’’Kalau tidak, nggak boleh sewa,’’ tegas Iwan.

Aturan itu dibuat untuk memproteksi pengguna. Berbeda dengan otopet dan sepeda listrik, motor listrik Gowes bisa dipakai di jalan raya sehingga pengguna wajib memenuhi syarat berkendara sepeda motor.

Ke depan, Iwan mengungkapkan, bukan tidak mungkin IoT yang dikolaborasikan dengan Viar dikembangkan untuk persewaan mobil listrik. Tentu dengan ketentuan yang tidak keluar dari pakem.

Gowes tidak cuma ingin membiasakan masyarakat mengurangi polusi. Mereka juga berusaha mengajak masyarakat untuk lebih sering menggunakan angkutan umum. Untuk itu, tahun ini Gowes mulai menempatkan sepeda listrik mereka di kawasan yang dekat dengan stasiun MRT dan Transjakarta. Misalnya, Dukuh Atas, Benhil, serta Mangkuluhur City.

’’Gowes jadi tujuan awal dan akhir menuju angkutan publik,’’ imbuhnya.

Meski belum masal, pelan-pelan tujuan itu terlihat. Berdasar kebiasaan, Iwan melihat pola pengguna Gowes. Mereka naik Gowes untuk berangkat dan pulang kerja.

Iwan ingin tahun depan armada Gowes bertambah sampai 6 ribu unit. Di samping menggaet lebih banyak pengguna, langkah itu diyakini bisa menambah sumbangsih terhadap pengurangan karbon. Selama Gowes beroperasi, angka pengurangan karbon yang dicatat sudah lebih dari 400 ton.

Angka itu diperoleh dari semua pengguna Gowes setiap kali memakai sepeda, otopet listrik, sepeda listrik, dan motor listrik dengan jarak 10 km per hari. ’’Harapannya, tahun depan bisa 500 ton jejak karbon (dikurangi),’’ ungkap Iwan.

Sumbangsih itu bisa jadi melampaui ekspektasi karena Gowes berniat menambah layanan. Bukan hanya bike sharing. Mereka juga berencana membuka layanan pesan antar makanan, laundry, dan barang.

Gowes juga melebarkan sayap ke Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Saat ini ada pengusaha di Miami dan Kolombia yang ingin mengombinasikan IoT milik Gowes dengan konsep ride sharing ramah lingkungan yang mereka punya. ’’Mudah-mudahan Januari nanti bisa launching,’’ ujar Iwan.

Dia juga menyebutkan, IoT Gowes memungkinkan seluruh armada mereka dimonitor dari jarak jauh. Sejak armada keluar dari station, akan dipantau sisa baterai dalam setiap armada sampai rute yang dilalui. ’’Bisa kami lacak,’’ tegasnya.

Dengan kelengkapan pengamanan seperti itu saja mereka masih bisa kecolongan. Selama lebih dari setahun beroperasi, setidaknya seratus unit atau sekitar 7 persen unit armada mereka hilang. ’’Dicopot GPS atau gemboknya,’’ ungkapnya.

Di luar operator yang bertugas di lapangan, dari kantor Gowes, hanya ada lima orang pengendali sistem aplikasi mereka.

Gowes memang belum besar. Stasiun persewaan yang mereka miliki baru 200 titik di berbagai daerah. Namun, mereka merasa punya basis kuat. Selain IoT yang terus dikembangkan, mereka memiliki peta digital sendiri. Dengan itu, mereka lebih leluasa karena tidak perlu membayar pihak lain.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ayi

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads