JawaPos Radar

Natasha Johana Dematra, Sineas Muda Indonesia Banyak Karya

13/12/2016, 16:14 WIB | Editor: fimjepe
Natasha Johana Dematra, Sineas Muda Indonesia Banyak Karya
DARAH SENI: Natasha Johana Dematra bersama ayahnya, Damien Dematra, usai menjadi juri pada festival film internasional bidang toleransi di Denpasar, Bali. (Juneka/Jawa Pos)
Share this image

Usianya masih belia, baru 18 tahun. Tapi, jumlah penghargaan yang diraih Natasha Johana Dematra dari mancanegara sudah lebih dari seratus. Pertengahan November lalu, film pendeknya yang berjudul Bumiku diputar di Konferensi Perubahan Iklim Dunia PBB.

 

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Jakarta

 

Oh duniaku

Oh bumiku

Oh pohonku kini mulai menghilang

Es yang mencair mengingatkan kita pemanasan global

 

Suara lirih Natasha Johana Dematra mengiringi potongan-potongan video kondisi bumi yang rusak. Es mencair, pohon tumbang, tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai, hingga kebakaran hutan. Pesan yang ingin disampaikan dalam film musik pendek berdurasi lima menit itu cukup kuat. Perubahan iklim sudah berada di depan mata. Dan apa yang harus kita perbuat?

”Ini lho yang akan terjadi kalau kita tidak peduli dengan bumi. Makanya ayo peduli. Menanam,” tutur Natasha, lantas menyeruput teh hangat. Dara kelahiran Jakarta, 9 April 1998, tersebut begitu antusias bila diajak berbincang ringan soal alam, kemanusiaan, dan film. Sambil menikmati sarapan roti dan teh hangat di sebuah hotel berbintang di Bali pagi akhir November lalu, Natasha bercerita soal film musik pendeknya yang berjudul Bumiku.

Film itu diputar di United Nations Climate Change Conference di Marrakesh, Maroko. Konferensi perubahan iklim yang diadakan PBB tersebut berlangsung 7–18 November 2016. Dia tidak bisa hadir langsung. ”Saya diwakili film saya,” ujar Natasha, lantas tertawa. ”Sambutannya bagus di Maroko,” imbuh perempuan berambut panjang itu.

Berbicara tentang film, Natasha selalu mencari tema-tema yang menginspirasi. Temanya bisa apa saja. Mulai soal kemanusiaan hingga alam. ”Kalau aku bikin film dan tidak menginspirasi, buat apa? Bawaannya kayak gak ada gunanya,” ujar putri sutradara dan penulis Damien Dematra tersebut.

Film Bumiku itu hanya menjadi salah satu anak tangga yang sedang ditapaki Natasha dalam perjalanan hidup sebagai seorang seniman. Dia sudah bermain di beberapa film seperti L4 Lupus pada 2010, Dream Obama (2011), I’m Star (2013), Let’s Play, Ghost (2013), Tears of Ghost (2015), dan From Seoul to Jakarta (2015). Natasha lebih nyaman disebut sebagai seniman daripada artis. ”Artist yang pakai st itu,” ucapnya.

Natasha bercerita mulai kenal dunia akting saat berusia 10 tahun. Pada saat itu, kebetulan Damien juga sedang memulai pembuatan film indie. Natasha ibarat menjadi kelinci percobaan Damien. Dia diminta menjadi cewek buta tuli bisu hingga cewek kesurupan.

Natasha kecil belajar secara langsung dengan melihat film The Miracle Worker tentang Helen Keller. Tentu bukan perkara gampang memerankan seorang gadis buta tuli bisu seperti dalam cerita Helen Keller tersebut. Tapi, bagi Natasha itu justru menguntungkan. Sebab, setelah bisa melewati hal-hal sulit, tentu yang lain akan lebih mudah. ”Latihan terbaik itu langsung praktik,” tutur dia.

Pada akhirnya, akting yang dia pelajari itu berguna. Khususnya saat dia memainkan peran sebagai gadis buta di film L4 Lupus pada 2010. Prinsip itu pula yang dia terapkan saat menyutradarai film pada usia 11 tahun. Natasha masih ingat betul pada saat itu hanya mendapatkan arahan awal dari ayahnya. Setelah itu dia mengerjakan sendiri. ”Papa waktu itu mengunci diri di kamar, tidak boleh ngetok. Tidak mau bantu sama sekali,” kenang dia.

Film berjudul Mama Aku Harus Pergi yang dibuat pada 2009 itu diangkat dari novel Damien dengan judul sama. Bercerita tentang seorang anak yang meninggal dunia dalam kecelakaan, tapi arwahnya tidak mau jauh dari sang ibu. Natasha menyelesaikan film berdurasi 83 menit tersebut dalam sepekan. ”Mulai syutingnya itu jam 09.00 sampai 01.00. Saya sempat mimisan juga,” ungkap dia.

Gara-gara usia yang masih belia, 11 tahun, dan bisa membuat film panjang, Natasha masuk daftar Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Dia juga mendapatkan rekor dari Royal World Records sebagai The Youngest Female Director alias sutradara perempuan termuda.

Film pertamanya tersebut juga dibawa ke beberapa festival film. Natasha menganggap itu sebagai bentuk tes kualitas film yang dibuat. Hasilnya menggembirakan. Misalnya di Miami Independent Film Festival dan International Independent Film Awards (IIFA). ”Di Miami (jurinya) tersentuh banget. Kok anak 11 tahun bisa bikin film tentang perdamaian dan membuat mereka menangis,” ujar dia.

Tapi, lebih dari semua penghargaan tersebut, ungkap Natasha, film pertama yang dia buat itu akan terus menjadi kenangan dan pembelajaran. Dia berkaca pada kata-kata sutradara kondang Steven Spielberg: ”Film pertamamu akan menjadi pelajaran terbaik.”

Namun, Natasha rupanya pernah pula mengalami krisis kepribadian. Tepatnya setelah menyelesaikan film pertamanya itu. Dia masih belum tahu betul buat apa membuat film. Bahkan, sempat tebersit dalam pikirannya untuk apa hidup ini. Sempat pula dia menjerit dan menangis seolah ada pertanyaan yang harus segera dijawab.

Natasha beruntung bisa menemukan jawaban tersebut dengan segera. Pada 2012 dia diajak Damien keliling ke berbagai kota di Amerika Serikat (AS). Mereka berkeliling naik mobil. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Mulai museum hingga Gedung Putih. Kebetulan, pada saat itu ada pelantikan Barack Obama. ”Pelajaran terbaik itu traveling,” ujarnya lantas terkekeh.

Dari perjalanan hampir satu tahun penuh tersebut, Natasha menemukan jawaban yang sementara ini dianggapnya paling melegakan. Bahwa hidup itu harus mempunyai guna untuk kemanusiaan. Dia menemukan itu dalam sosok Presiden Ke-16 AS Abraham Lincoln. Kebetulan, traveling tersebut mengantarkan pula Natasha ke tempat kelahiran hingga lokasi pembunuhan presiden yang anti perbudakan itu.

Pada tahun berikutnya, Natasha seperti haus untuk mengerjakan semuanya. Dia belajar menulis, melukis, menjadi sutradara lagi, akting, hingga menjadi produser. Bahkan, dia pun berlatih menyanyi. Latihan tersebut dia buktikan dengan membuat film Tears of Ghost pada 2015. ”Aku jadi pemeran utama, produser, coloring, soundtrack, sutradara, dan editor. Ini semacam praktik langsung,” ungkap Natasha yang memilih homeschooling.

Film itu diikutkan dalam berbagai festival di luar negeri. Total ada 50 penghargaan yang dia dapatkan dari berbagai festival film tersebut. Misalnya American Movie Award, IIFA di Los Angeles, dan juara umum di sebuah festival film di Amsterdam, Belanda. Di IIFA dia mendapatkan tiga penghargaan sekaligus, yakni emas untuk sutradara, pemeran utama, dan editor.

Di tengah-tengah asyik bercerita, Natasha melihat Damien sedang mengambil sarapan di restoran hotel. Dia tidak bisa memungkiri bahwa capaian yang didapatkan selama ini memang buah dari sang ayah. Natasha menolak dengan halus saat diajak membahas sosok sang ibu.

Natasha mengaku memang sedang berada di Bali bersama ayahnya untuk mengikuti festival film internasional dengan tema toleransi. Kali ini dia datang bukan untuk menjadi peserta. Dia menjadi juri bersama Damien. Total film yang masuk ke panitia berjumlah 700 dari 50 negara dengan 300-an sineas. Mulai AS, Brasil, Slovenia, Tiongkok, hingga Rusia. Sayang, tidak ada satu film pun dari sineas muda Indonesia. ”Enggak tahu juga kenapa tidak ada,” ungkapnya pelan.

Natasha lantas mengajak pindah ke meja Damien, yang sedang menikmati sarapan beberapa potong roti. Damien menyatakan tidak ingin menjadikan Natasha sebagai seorang sineas atau artis. Dia menegaskan itu beberapa kali. Menurut dia, jauh lebih baik menjadi seorang humanitarian. Seseorang yang peduli, turut menjaga, dan bermanfaat bagi kemanusiaan. ”Film itu harus diperalat untuk tujuan-tujuan kemanusiaan,” tutur Damien. Natasha pun mengangguk mantap. (*/c9/oki)

 

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up