alexametrics

Sekolahnya di Eropa, Ijazahnya Sama seperti Indonesia

Sekolah di Eropa dengan Kurikulum Indonesia
13 November 2020, 15:18:04 WIB

SIDH menjadi jujukan WNI di seantero Eropa yang menginginkan anak-anak mereka tak lagi harus mengulang kelas sekembali ke Indonesia kelak. Muridnya ratusan, mulai SD sampai SMA, dengan guru-guru yang mesti mampu mengajar lintas level.

DINARSA KURNIAWAN, Berlin, Jawa Pos

SEORANG anak perempuan serius memandang layar laptop di hadapannya. Sesekali dia mencatat sesuatu di buku catatan yang diletakkannya di sebelah komputer portabel tersebut.

Andrea Zivareta Ramadani, si upik tersebut, adalah siswi Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH), Belanda, yang sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari Berlin, Jerman. Siswi 10 tahun tersebut harus bergabung dengan program PJJ karena memang dirinya tidak tinggal di satu tempat dengan SIDH. Dia mengikuti berbagai pelajaran via Google Meet setiap sore, mulai Senin sampai Jumat.

Kebetulan, Jerman dan Belanda yang bertetangga berada dalam zona waktu yang sama.

’’Pelajarannya sih sama seperti waktu masih sekolah di Indonesia. Sama-sama sekolah online juga,’’ ungkap siswi kelas IV SD yang sebelumnya bersekolah di SDN Medokan Ayu 2 Surabaya itu.

Dia berada di Jerman mengikuti bundanya, Ana Setyastuti, yang sedang mengambil pendidikan doktoral di Universitas Humboldt, Berlin, Jerman. Menurut Ana, dirinya menyekolahkan sang buah hati di SIDH agar setelah kembali ke tanah air tidak perlu lagi melakukan penyesuaian jenjang pendidikan. Itu mengingat kurikulum di sekolah lokal Jerman dengan di Indonesia sangat berbeda.

’’Walau begitu, anak saya tetap saya sekolahkan di sini. Jadi, mereka sekarang sekolah tatap muka sekaligus sekolah daring,’’ ucap alumnus Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

SIDH memang menjadi satu-satunya pilihan bagi orang tua asal Indonesia yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka di Eropa, namun saat kembali tidak harus mengulang kelas. Sebab, SIDH memiliki kurikulum yang sama dengan di Indonesia.

Jadi, ketika kembali ke tanah air, mereka tinggal melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Begitu juga kalau lulus dari SIDH, ijazah yang mereka terima bisa digunakan untuk mendaftarkan diri ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Herman Tahir, kepala SIDH, saat diwawancarai melalui sambungan telepon menyatakan, sama seperti sekolah-sekolah di tanah air, sekolah yang dipimpinnya juga berhak menyelenggarakan ujian nasional (UN) yang menjadi syarat kelulusan siswa. ’’Namun, untuk tahun ini, sudah tidak ada UN, melainkan diganti dengan asesmen kompetensi minimum,’’ kata pria 52 tahun itu. ’’Tapi, kami masih menunggu juknisnya (petunjuk teknis) dari Kemendikbud,’’ imbuhnya.

Pria yang tiba di Negeri Oranje pada Agustus lalu tersebut menerangkan, SIDH diresmikan duta besar Indonesia untuk Belanda waktu itu, Soedjarwo Tjondronegoro, di Rijksstraatweg 679, 2245 CB, Wassenaar, pada 17 Agustus 1965.

Baca juga:

Awalnya, sekolah itu bernama Sekolah Indonesia Nederland. Kemudian berubah menjadi Sekolah Kedutaan RI di Wassenaar sebelum kembali ke nama awal dan akhirnya diubah namanya menjadi SIDH pada 2015. Lokasi SIDH berada di bangunan di bawah kuasa Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dalam hal ini KBRI di Belanda.

Saat ini perangkat hukum yang mengatur sekolah itu adalah Peraturan Bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 7 Tahun 2015 dan Nomor 1 Tahun 2015.

Sebelumnya, pemerintah punya dua sekolah lain yang serupa dengan SIDH. Satu berkedudukan di Beograd, Serbia, dan satunya di Moskow, Rusia. Namun, dua lembaga pendidikan itu tidak lagi beroperasi. Sekolah Indonesia Beograd ditutup pada 2017, sedangkan Sekolah Indonesia Moskow tutup tahun ini.

Karena penutupan dua sekolah tersebut, pada akhirnya hanya ada SIDH untuk mewadahi WNI di Eropa yang ingin menyekolahkan putra-putri mereka dengan kurikulum Indonesia. Herman mengatakan, saat ini SIDH memiliki 177 siswa, mulai SD sampai SMA.

Mereka terbagi menjadi siswa reguler dan siswa PJJ. ’’Siswa regulernya 31. Mereka selama ini sekolah tatap muka. Namun, karena pandemi Covid- 19, kami memilih sekolah dari rumah untuk sementara,’’ ungkap dia.

Mantan kepala SMP Negeri 1 Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu menyatakan, pihaknya memilih sekolah dari rumah meski pemerintah Belanda masih mengizinkan sekolah tatap muka. Dia mengambil langkah tersebut karena melihat kenyataan bahwa Den Haag merupakan salah satu pusat persebaran Covid-19 di Belanda.

Berdasar data dari John Hopkins University per Selasa (3/11), di Belanda terdapat 368 ribu kasus Covid-19 dengan 7.463 korban meninggal. Nah, di Provinsi Belanda Utara yang beribu kota di Den Haag, ada 108 ribu kasus dengan 1.735 orang di antaranya meninggal.

’’Datanya mengkhawatirkan. Ada 30 persen siswa atau guru di sekolah-sekolah di Belanda yang tertular Covid-19. Karena itu, saya terpaksa mengambil langkah menutup sementara pendidikan tatap muka,’’ ujar dia.

Kendati demikian, Herman mengatakan, dirinya tetap datang ke sekolah setiap hari. Sementara itu, guru-guru kelas regulernya yang berjumlah 16 orang datang bergantian ke sekolah. Tak seperti guru-guru sekolah di Indonesia yang bertanggung jawab atas satu mata pelajaran, guru-guru di SIDH harus bisa mengajar lintas mata pelajaran. Bukan hanya itu, mereka juga harus mampu mengajar lintas level. Misalnya, ada guru jenjang SD yang merangkap guru SMP.

Para guru tersebut mengajar para siswa pada pukul 09.00 sampai 13.00 untuk jenjang SD. Kemudian, untuk siswa SMP dan SMA, mereka belajar pada pukul 09.00 sampai 16.00. Di samping menerima pelajaran layaknya sekolah-sekolah di Indonesia, mereka mendapat pelajaran bahasa asing selain bahasa Inggris. Yakni, bahasa Belanda dan Prancis.

Para siswa reguler SIDH berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya, anak-anak para diplomat di KBRI Belanda yang berkedudukan di Den Haag serta anak-anak para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda. Ada juga anak-anak WNI yang menikah dengan warga setempat.

’’Mereka yang lahir di sini (Belanda) itulah yang harus dibangkitkan keindonesiaannya. Itu yang jadi tugas kami di SIDH,’’ jelas Herman.

Selain berkegiatan di sekolah, para siswa SIDH aktif mengikuti berbagai event di luar sekolah. Di antaranya, kejuaraan silat Eropa, festival-festival kebudayaan, serta simulasi sidang umum PBB yang diikuti siswa dari 150 negara.

Sementara itu, mengenai PJJ, Herman mengatakan bahwa murid-muridnya tersebar di berbagai negara di Eropa. Misalnya, Andrea yang mengikuti kelas PJJ SIDH dari ibu kota Jerman. Guru yang menangani mereka pun berbeda dengan yang mengajar di kelas reguler. Jumlah seluruhnya 20 orang yang mengajar murid pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Di antara mereka, ada dua yang mengajar dari Jakarta.

Dia mengakui, memang belum banyak orang yang mengetahui tentang SIDH. Karena itu, dia merasa harus melakukan publikasi lebih luas. Ana, misalnya, mengaku mengetahui SIDH melalui info dari mulut ke mulut.

Karena itulah, lanjut Herman, pihaknya sering mengikutkan anak-anak ke berbagai kegiatan. ’’Kami juga sering melakukan road show ke berbagai kota di Belanda dan bertemu dengan para diaspora Indonesia,’’ ujarnya.

Herman sangat berharap pandemi segera berlalu dan anak-anak bisa kembali ke sekolah. ’’Saya dan guru-guru ingin ketemu anak-anak lagi. Sudah kangen sama mereka. Karena kami di sini sudah seperti keluarga,’’ katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg



Close Ads