alexametrics

Antusiasme Mahasiswa Ukraina Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (1)

Tahu soal Novel, Film, Pemilu, sampai Sarung
13 November 2018, 16:19:22 WIB

Kecuali bunyi “ng” dan dialek, rata-rata mahasiswa Ukraina menganggap bahasa Indonesia mudah dipelajari. Berikut catatan kontributor Jawa Pos RICA S. WURYANINGRUM yang sejak September lalu membantu mengajar di sana.

KALAU manusia kalah sama gajah oke lah. Bisa diterima. Tapi, bagaimana bisa gajah yang segede itu kalah oleh semut yang seupil? Dan, ketika berhadapan dengan manusia yang tak seberapa bobotnya, justru semut yang kalah?

Sungguh “persoalan” yang filosofis. Yang biasanya membuat ruang kelas di kampus Kyiv National University (KNU) of Taras Shevchenko, Ukraina, ramai.

Persisnya, saat para mahasiswa program studi bahasa dan sastra Indonesia akan bermain dakon. Yang selalu diawali dengan bersuten terlebih dahulu dengan melibatkan tiga jari: ibu jari (gajah), jari telunjuk (manusia), dan kelingking (semut).

Saya tentu pernah membantu menjelaskan. Bahwa ada kandungan filosofis di balik suten itu. Tapi, ya sia-sia.

“Oke, kami paham, tapi tidak berarti sepenuhnya setuju,” kata Victoria Yarkovska, salah seorang mahasiswi. Militan sekali! Hehehe.

Tapi, keseriusan bermain dakon itu setidaknya bisa sekaligus menggambarkan antusiasme mereka dalam mempelajari bahasa Indonesia. Beserta ragam budayanya.

Prabowo Himawan, kepala program studi bahasa dan sastra Indonesia di KNU of Taras Shevchenko, menceritakan bahwa program studi bahasa dan sastra Indonesia di universitas tersebut awalnya dibuka pada 1997. Itu sebagai upaya Indonesia untuk mengenalkan -juga berdiplomasi- budaya Indonesia kepada Ukraina. Dengan demikian, kedua negara bisa saling bertukar budaya. Sekaligus menjalin kerja sama dalam hubungan bilateral.

Namun, karena kurangnya sumber daya pengajar, saat itu sempat ditutup. Dan, baru dibuka lagi pada 2012.

Saat dibuka kembali, pihak Indonesia sempat sedikit pesimistis akan animo dari anak-anak muda Ukraina yang ingin belajar bahasa Indonesia. Sebab, bisa jadi meraka tidak mengetahui tentang Indonesia. Bahkan, mungkin ada yang masih tidak tahu Indonesia itu di mana.

Ternyata, realitasnya mengagetkan. Berlipat-lipat melampaui target. Sekitar seratus calon mahasiswa mendaftar ke program studi yang baru dibuka itu. Padahal, kuota yang telah ditetapkan pihak universitas hanya sepuluh kursi. Sekarang setiap tahun uni­versitas hanya menerima delapan mahasiswa melalui penyaringan.

Ukraina merupakan pecahan Uni Soviet. Penduduknya sekitar 42,5 jiwa, tanpa menghitung warga Crimea, wilayah yang diduduki Rusia. Yang membuat hubungan kedua negara memanas sampai sekarang.

Total sampai saat ini prodi bahasa dan sastra Indonesia yang bernaung di bawah institut filologi telah meluluskan 12 wisudawan strata satu (S-1) dan 7 strata dua (S-2). Sedangkan jumlah total mereka yang menuntut ilmu di prodi yang sama mencapai 38 mahasiswa.

Menurut Prabowo, saat wawancara, sebagian besar mahasiswa yang melamar memang mengaku tidak mengetahui tentang Indonesia. Yang terpenting bagi mereka adalah bisa masuk universitas negeri dulu.

“Ini bisa dimaklumi karena mahasiswa yang diterima di universitas negeri ini seluruh biaya hidup dan belajar mereka ditanggung pemerintah,” kata Prabowo.

Yang menggembirakan, begitu masuk perkuliahan, mereka benar-benar menunjukkan komitmen untuk belajar. Sejak tiba September lalu, saya mengajar di S-1 dan S-2. Mata kuliah yang saya ampu, antara lain, bahasa Indonesia, dialektologi, novelistika, dan drama Indonesia.

Dan, di semua kelas yang saya ampu, tak ada mahasiswa yang tak antusias. Semua sangat aktif bertanya. Mereka juga terus berusaha menambah wawasan tentang Indonesia.

Mereka tahu penulis Indonesia mana yang tengah melambung. Film mana yang tengah ramai diperbincangkan, atau pemilu yang akan dihelat tahun depan.

“Saya suka Andrea Hirata dan Dee (Dewi Lestari). Laskar Pelangi (yang ditulis Andrea) itu sangat menyentuh, sedangkan Dee selalu berhasil membuat saya berpikir dalam,” kata Tetyana Melnyk, mahasiswi prodi bahasa dan sastra Indonesia lainnya.

Saat ini ada tiga pengajar di program studi bahasa Indonesia. Dua di antaranya pengajar tetap dari universitas. Yaitu, Aleksandra Burovska (seorang warga negara Ukraina alumnus Prodi Bahasa dan Sastra Korea Institut Filologi KNU Taras Shevchenko) dan Anggraini Agustin (alumnus FISIP Universitas Indonesia yang bersuami seorang warga Ukraina).

Sedangkan Prabowo, alumnus sastra Rusia Universitas Indonesia, merupakan tenaga pengajar bantuan dari KBRI. Prodi bahasa dan sastra Indonesia juga mendapat bantuan tenaga pengajar dari Kemenristekdikti melalui program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange) BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

Saya termasuk di dalamnya. Sebelum saya, ada Imam Mudofir (2014), Srisna J. Lahay (2015), dan Florita Diana Sari (2017). Program SAME BIPA itu umumnya dimulai September dan berakhir Desember.

Bagi rata-rata mahasiswa Ukraina, bahasa Indonesia tergolong mudah dipelajari. Setidaknya dibandingkan dengan bahasa Ukraina yang memakai aksara Sirilik.

Bahasa Ukraina berbeda dengan bahasa Rusia. Bahkan, karena kuatnya sentimen anti-Rusia di sana, pelajaran bahasa Rusia, bahasa utama di era Uni Soviet dulu, dihapus dari kurikulum.

Tata bahasa Indonesia yang tidak terikat waktu seperti bahasa Inggris juga membantu memudahkan para mahasiswa. Kosakata dalam bahasa Indonesia juga tidak dikelompokkan dalam bahasa feminin dan maskulin. Alias netral seperti di bahasa Prancis, Jerman, dan Rusia.

“Pola struktur bahasa Indonesia sederhana,” kata Tetyana Melnyk

Yang agak sulit mereka kuasai adalah bunyi “ng”. Baik sebagai awalan dalam bahasa percakapan (ngerti, ngomong, dll) maupun akhiran dalam bahasa tulisan (menang, senang, dll). Sebab, bunyi itu tidak ada dalam bahasa Ukraina.

Juga, dialek. Margaryta Buchkova, yang pernah mendapat beasiswa Darmasiswa untuk belajar bahasa Indonesia dari Kemendikbud bekerja sama dengan Kemenlu, mengaku sempat bingung saat berada di Indonesia. Selama sembilan bulan, dari September sampai Juni, dia ditempatkan di Jogjakarta. Tapi, kemudian berkesempatan ke Jakarta dan Bali.

“Di Jakarta dan Bali orang bicaranya lebih cepat. Itu yang membuat saya tidak bisa cepat menguasai bahasa Indonesia lisan,” kenangnya.

Dari bahasa, keingintahuan para mahasiswa Ukraina terhadap Indonesia akhirnya meluas. Mereka antusias sekali saat saya ajak menonton film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan Filosofi Kopi di kelas.

Tapi, saat saya ajak menonton Ada Apa dengan Cinta (AADC) yang di Indonesia sukses mencatat box office, mereka malah menolak. “Baik AADC 1 maupun 2 terlalu teenager (remaja),” kata mereka, hehehe.

Itu menunjukkan mereka benar-benar tahu tentang isi film tersebut. Tak sekadar tahu nama. Dan, itu hanyalah salah satu pengetahuan mereka tentang Indonesia yang membuat saya kaget.

Datang dari negeri jauh, yang sebagian penduduknya mungkin tak tahu Indonesia itu di mana, saya sering kali terkejut -sekaligus terkesan- tentang luasnya pengetahuan mereka mengenai tanah air.

Termasuk tentang hal-hal yang kecil. Misalnya, mereka sangat tahu tentang sarung. “Tiap pria Indonesia kan kalau tidur pakai sarung,” kata mereka. Atau tentang cabai dan sambal. Padahal, tak ada makanan Ukraina yang pedas.

Saya juga tak kalah terkesannya ketika mengetahui ada delapan mahasiswa tingkat dua yang sudah pandai memperagakan dua tarian tradisional Indonesia, tari pendet dan tari batik.

Dan, tentu yang tak kalah menyenangkan, melihat bagaimana antusiasnya mereka bermain dakon di dalam kelas. Meski ya itu tadi, harus didahului perdebatan tentang gajah, semut, dan manusia…. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c10/ttg)

Antusiasme Mahasiswa Ukraina Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (1)