alexametrics
Cerita Minggu

Pengalaman Pribadi Mendorong Mereka Jadi ”Pejuang Kesehatan Mental”

Jangan Ada Lagi Yang Alami Salah Diagnosis
13 Oktober 2019, 16:12:43 WIB

Mereka mengalami sendiri pahitnya salah diagnosis dan minimnya dukungan keluarga. Kini mereka membentuk forum berbagi, wadah dukungan, dan mengadakan festival untuk menggugah kesadaran orang tentang pentingnya kesehatan mental.

SEKARING RATRI, Jakarta, Jawa Pos

TIAP kali serangan itu datang, bicara Ade Binarko langsung ngelantur. Detak jantungnya bertambah cepat dan napasnya menjadi pendek. Bahkan bisa sampai pingsan.

Kalau sudah begitu, rumah sakit yang langsung jadi jujukan. Puluhan kali dia bolak-bolak rumah sakit. Diagnosisnya selalu sama: tak ada yang salah dengan jantungnya.

”Biasanya diagnosis saya adalah menderita gerd (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung,” kenang Ade.

Baru pada kesempatan ke-30 ke RS-lah pria yang kini berusia 40 tahun itu tahu bahwa dirinya mengalami panic disorder alias serangan panik, salah satu jenis mental illness. Persisnya setelah dia bertemu dr Rama Giovani SpKJ, seorang psikiater yang saat itu tengah menempuh pendidikan co-assistant di salah satu rumah sakit di Jakarta.

”Dia (Rama) yang advis saya untuk konseling di psikiater,” katanya.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorong Ade membentuk komunitas SehatMental.id pada 2015. Untuk memberikan ruang dan informasi yang berkaitan dengan kesehatan mental. Maklum, bagi banyak orang, mental illness itu masih samar-samar. Sering kali disalahtanggapi sebagai penyakit fisik, seperti yang dialami Ade.

Maya Asmara juga awalnya tak sadar ketika semasa SMA dulu sudah masuk tahap depresi. Yang bermula sejak masa kecil saat dia tumbuh dalam keluarga broken home akibat perceraian kedua orang tua.

Sang mama, tutur dia, selalu bilang, jangan bikin malu ya. ”Sebagai anak kecil, ya kita berpikirnya oh emang kita malu-maluin, ya. Tanpa sadar kebahagiaan orang tua itu digantungkan ke kita,” katanya.

Berhasil bangkit dari genggaman depresi yang hampir membuat seluruh hidupnya hancur, pada 2018 Maya pun membuat komunitas Depression Warriors Indonesia (DWI). Melalui komunitas itu, dia ingin memberikan wadah yang dapat membantu penderita depresi agar tidak sampai jatuh terpuruk seperti dirinya.

Melalui DWI, dia membentuk support group untuk berbagi pengalaman. Juga, saling memberikan dukungan emosional bagi sesama penderita depresi.

Kesehatan mental itu ramai diperbincangkan lagi menyusul perilisan film Joker. Kebetulan, 10 Oktober juga diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Selama ini kesehatan mental sering luput dari perhatian karena tak ”kasatmata”. Padahal, justru yang tak kelihatan itulah yang berbahaya.

Karena itulah, orang-orang seperti Ade dan Maya tergerak untuk berbuat bagi orang-orang yang mengalami seperti yang pernah mereka alami.

SehatMental.id pun berkembang pesat. Dari yang semula pengikut (follower) di IG hanya 10 orang, kini sudah mencapai 36,7 ribu lebih. Bahkan, akun IG pribadi Ade bisa dibanjiri direct message (pesan langsung) hingga belasan ribu per hari.

”Karena aku living example, jadi mereka mungkin nyaman curhat ya, tapi gak ke-handle karena segitu banyak dan aku bukan profesional,” ujarnya.

Untuk itu, dibuatlah platform yuksharing.id. ”Dengan platform ini, saya pengin teman-teman yang mungkin punya masalah bisa sharing di sini. Jadi, nggak hanya menjangkau Jakarta dan sekitarnya, tapi yang di Papua atau yang di mana aja bisa setidaknya terbantu,” imbuhnya.

Komunitas itu juga rutin menggelar acara Mental Health Festival setiap tahun, sejak 2016. Dalam acara tersebut, Ade berupaya menyebarkan kesadaran terkait kesehatan mental dengan cara yang menyenangkan dan bisa diterima banyak pihak. Acaranya pun tidak sekadar bincang-bincang. Tapi, juga stand-up comedy sampai musik akustik.

Pembicaranya pun biasanya berasal dari kalangan figur publik. Mental Health Festival 2019 yang berlangsung kemarin, misalnya, menghadirkan stand-up comedian Panji Pragiwaksono, DJ Winky Wiryawan, dan influencer Ayla Dimitri.

Selain itu, selalu ada mental checkup gratis dalam festival itu. Menurut advisor Sehat Mental.id dr Zulfia Syarif, pemeriksaan kesehatan mental itu sama pentingnya dengan cek kesehatan secara rutin. ”Modelnya mengisi kuesioner pakai isian tertentu dan wawancara. Jadi, semacam konseling sekaligus sharing,” katanya.

Dokter 40 tahun itu melanjutkan, jika ternyata terbukti membutuhkan bantuan tenaga profesional, yang bersangkutan akan disarankan untuk menemui psikolog atau psikiater. Dari kegiatan tersebut, banyak ditemukan kasus depresi yang sudah mengarah pada tindakan bunuh diri.

”Jadi, ada peserta free mental checkup ini, dia usianya 24 tahun. Dia bahkan sudah survei dari mal ke mal mana yang rooftop-nya paling sepi sehingga kalau dia ke sana gak akan ada yang perhatikan,” katanya.

Penyebabnya, dia merasa dikekang dan dilarang orang tuanya untuk jadi hijaber di Instagram. ”Ya, semacam influencer gitu,” jelasnya. Persoalan tersebut, kata Zulfia, bagi sebagian orang mungkin persoalan biasa saja. Namun, yang membedakan, kondisi kedua orang tuanya. Meski tidak bercerai dan masih tinggal satu rumah, kedua orang tuanya saling mendiamkan. Akhirnya, dia merasa tersiksa setiap pulang ke rumah.

Minimnya dukungan keluarga itu pula yang pernah dirasakan Maya. Perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 24 tahun lalu itu pun terkena anxiety disorder selain depresi. Dia lebih suka berdiam diri di kamar kos ketimbang keluar dan bertemu orang. Bahkan, selalu ketakutan jika matahari sudah mulai terbit. Sampai pada titik terparah, Maya ingin mengakhiri hidup.

Sampai pada suatu hari, Maya yang sudah mulai kehilangan arah memasuki sebuah kawasan perkantoran mewah. Di salah satu ruangan tertulis ”Komunitas Toastmaster”. Dia pun penasaran dan masuk ke ruangan itu.

”Isinya bule-bule gitu, ternyata itu komunitas public speaking. Nggak tau gimana, tiba-tiba aku sudah ikut salah satu sesi dan aku sampaikan soal depresi yang aku hadapi,” ungkapnya.

Ternyata responsnya luar biasa. Para bule tersebut bertepuk tangan meriah setelah mendengar yang disampaikan Maya.

Bahkan, dia dipilih sebagai penyampai topik terbaik hari itu. ”Itulah salah satu titik balik aku. Dari situ, aku memutuskan untuk bangkit dan aku ikut meditasi.”

Meditasi tersebut ternyata sangat membantu Maya mengatasi masalah depresi. Kemampuannya mengelola stres dan depresi tersebut dibagikan dalam berbagai sesi DWI.

Ade pun, menurut Herdyan Loberto, psikolog pribadinya, sudah bisa mengelola serangan paniknya. Meski memang tetap perlu didampingi. ”Hampir setiap malam saya rutin menerima telepon dari Ade untuk mendengarkan berbagai hal. Mulai keluh kesah sampai ide-ide brilian terkait SehatMental.id,” katanya.

Minim Data dan Malu Datang ke Psikolog

DI Indonesia, data medis pasien yang bermasalah dengan kesehatan mental masih minim. Sering kali mereka yang terluka fisik yang datang ke rumah sakit hanya didiagnosis sesuai kondisi fisik.

Sementara itu, penyebab psikis yang mengakibatkan pasien tersebut terluka tidak didiagnosis. Dokter Zulfia Syarif SpKJ memberikan contoh.

Misalnya, ada pasien yang datang ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan luka tusuk di perut.

”Yang masuk dalam data medisnya hanya sebagai luka perut, tidak didata kenapa lukanya bisa terjadi. Ternyata, setelah dieksplorasi, lukanya itu terjadi karena mau bunuh diri,” jelas kepala Departemen Psikiatri RSUD Tarakan, Jakarta, itu.

Dengan data yang sangat minim, lanjut Zulfia, cukup sulit mengetahui adanya masalah pada mental seseorang. Tidak heran, kasus-kasus depresi yang sampai mengarah pada tindakan bunuh diri kerap tidak terdeteksi.

”Kita sangat lemah di data dan penelitian di Indonesia tentang bunuh diri juga sangat terbatas,” lanjut dia.

Berdasar data hasil riset kesehatan dasar 2018, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja yang berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8 persen. Angka itu meningkat jika dibandingkan dengan 2013 yang hanya 6 persen.

Menurut Zulfia, orang yang mengalami depresi biasanya kerap murung, merasa sedih dan hampa, juga menarik diri. Depresi berdampak pada pikiran, perasaan, dan perilaku. Pada kondisi depresi berat, penderita akan berpikir masa depannya suram dan tidak lagi berarti. Hingga akhirnya muncul pikiran bunuh diri.

Gejala-gejala depresi berat itu, lanjut advisor SehatMental.id itu, tidak bisa dilihat secara kasatmata. Penderita depresi bisa saja tetap bersekolah, pergi kuliah, atau bekerja seperti biasa.

Orang-orang di sekitarnya pun biasanya tidak paham bahwa orang tersebut tengah menderita depresi berat. Sebab, terkadang penderita depresi masih bersosialisasi dengan sekitarnya. Namun, yang sering dijumpai, mereka kerap melamun meski berada di keramaian.

”Bukan hal baru kalau orang itu malu memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater karena takut dianggap sakit jiwa atau berlebihan. Padahal, mereka memang sedang sakit dan harus diobati,” papar dia.

Karena itu, perlu disebarkan kesadaran di masyakarat agar jangan pernah menganggap pikiran bunuh diri seseorang sebagai hal sepele. ”Lebih baik kita sarankan dia ke psikolog atau bahkan kalau perlu kita temani,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ken/c11/ttg



Close Ads