alexametrics

Mengunjungi Seomyeon Underground Shopping Center, Busan

Lorong Belanja Bawah Tanah Idola Remaja
13 Oktober 2019, 20:48:45 WIB

Surabaya sedang membangun basement Balai Pemuda yang akan dijadikan ruang publik dan sentra ekonomi di bawah Jalan Yos Sudarso. Di banyak kota besar di dunia, ruang bawah tanah semacam itu sudah jamak ditemui. Termasuk di Busan, Korea Selatan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Juneka Subaihul Mufid yang baru datang dari sana.

BERADA di dalam Seomyeon Underground Shopping Center seperti tidak sedang di bawah tanah. Tak terasa pula getaran besar karena kendaraan yang lewat di atasnya. Suhu udara di dalam juga nyaman. Tidak terasa panas dan gerah.

Pada akhir September lalu, Jawa Pos berkesempatan mengunjungi pusat perbelanjaan di bawah tanah yang terletak di 737 Jungang-daero, Busanjin-gu, Busan, Korea Selatan, itu. Lokasinya tak terlalu jauh dari penginapan di Lotte Hotel, Busan. Bahkan, ada pula akses hotel yang terhubung dengan pusat perbelanjaan tersebut.

Bila lewat jalan biasa, tinggal berjalan kaki tak lebih dari tiga menit sudah bertemu dengan pintu masuk ke dalam bawah tanah. Ada anak tangga lebar dengan sekat untuk orang yang keluar-masuk area tersebut. Pintu masuk sekaligus keluar itu sangat banyak di sepanjang jalan tersebut. Jarak dari satu akses ke akses lain hanya 20–25 meter Di dalam pusat perbelanjaan tersebut, sudah sulit membedakan siang dan malam. Sama halnya saat berada di mal dengan pencahayaan yang konstan. Terlihat banyak sekali kamera pengawas yang terpasang di tiap sudut. Papan petunjuk dengan bahasa Korea dilengkapi dengan bahasa Inggris terpampang di banyak tempat. Toilet dan loker juga tersebar di beberapa titik.

Menurut situs visitkorea.or.id, pusat perbelanjaan tersebut beroperasi pada pukul 10.00–22.00. Tapi, orang yang berlalu-lalang bisa lebih dari pukul 22.00 seperti yang Jawa Pos lihat saat itu.

Mayoritas barang yang dijual di dalam mal tersebut untuk keperluan fashion. Mulai baju, celana, topi, hingga alas kaki. Tersebar pula toko-toko penjual skincare ternama. Ada juga minimarket dan penjual aksesori. Banyak toko yang menawarkan harga diskon kala itu. Ada yang memajang harga secara langsung dengan ukuran besar, 10.000 hingga 25.000 won atau sekitar Rp 120 ribu–Rp 300 ribu.

Hampir sepanjang mal tersebut terdiri atas dua lorong utama yang di kanan dan kirinya juga berdiri toko. Sekat antarlorong yang lebarnya masing-masing sekitar 5 meter itu juga toko.

PUSAT BELANJA: Juneka berpose di depan salah satu pintu masuk Seomyeon Underground
Shopping Center di Busan, Korea Selatan. (Juneka Subaihul Mufid/Jawa Pos)

Nah, lorong itu seakan tak pernah sepi. Dari pengamatan, orang-orang tersebut berjalan lebih cepat daripada kebanyakan orang Indonesia. Tempat itu ramai bukan hanya karena lokasinya yang sudah dikenal lama. Melainkan juga karena menjadi akses untuk kereta bawah tanah yang letaknya di bawah mal tersebut.

Yohan Je-on, pekerja sebuah agen perjalanan, mengungkapkan, di Seoul ada dua lokasi wisata belanja yang terkenal, yakni Dongdaemun dan Myeongdong. Nah, di Busan, yang paling terkenal adalah Seomyeon. Daerah itu dikenal sebagai surga belanja untuk para remaja. ”Biasanya mereka berbelanja baju-baju. Ceweknya kosmetik-kosmetik,” ujar Yohan.

Yohan yang tinggal di Seoul itu bila ke Busan hampir selalu mampir ke Seomyeon. Perjalanan dari Seoul ke Busan dengan kereta cepat sekitar 2,5 jam. Biasanya dia juga membeli baju.

Pusat perbelanjaan di bawah tanah memang tidak hanya ada di Seomyeon, Busan. Di Singapura juga ada. Misalnya, Orchard Road. Mal di bawah tanah tersebut juga terhubung dengan stasiun MRT.

Sementara itu, Surabaya baru memulai pembangunan basement Balai Pemuda tahun ini. Hingga kemarin (12/10), progresnya baru mencapai 20 persen. Kelak total luas area di bawah tanah itu sekitar 3 ribu meter persegi. Ditargetkan tahun ini sudah bisa terbangun. Tahun depan basement tersebut secara bertahap bisa diisi aneka kegiatan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, basement Balai Pemuda akan dijadikan sebagai ruang publik untuk masyarakat di tengah kota. Sekarang cukup sulit mencari area yang luas di tengah kota. ”Aku ingin Balai Pemuda itu jadi civic center,” ungkap Risma.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia



Close Ads