Kiprah Leo Arif Budiman Dirikan Disabilitas Berkarya untuk Fotografi

13 Agustus 2022, 07:48:21 WIB

Sejak 2016, Leo Arif Budiman, founder Disabilitas Berkarya, menyisihkan waktunya sehari dalam seminggu untuk bercengkerama dengan beberapa kaum difabel di Liponsos Kalijudan. Dia mengajarkan membatik sekaligus fotografi. Tanpa kenal lelah.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

BAGAIMANA cara membangun emosi dan kedekatan dengan mereka yang difabel ala Leo? Leo membukanya dengan senyum. Menurut dia, tidak hanya mempelajari perasaan dan bahasa isyarat anak-anak difabel.

Tak jarang, Leo memiliki bahasa yang diciptakan sendiri bersama mereka. Sebutan untuk dirinya, misalnya. Kebetulan, Leo memakai kacamata dan rambutnya diikat.

”Kalau ditanya tentang posisi saya, anak-anak melingkarkan jari dekat mata dan menyisir rambut ke belakang bak mau mengikat rambut,” katanya saat ditemui pada Rabu (10/8).

Di awal, pria kelahiran Pekalongan pada 1970 itu mengajarkan membatik. Waktu berlalu. Dia mencoba memperkenalkan dunia fotografi kepada Pina, Kiking, Mukidi, dan Jacky, penyandang disabilitas bisu-tuli, serta Omay, penyandang down syndrome.

Meski membidik objek yang sama, selera visual kelimanya berbeda. Ada yang berani ke simbol. Ada juga yang abstrak.

Teknik hingga pengoperasian kamera disampaikan Leo dengan sabar dan telaten. Supaya penjelasan lebih jelas dan detail, Leo juga menggunakan video di YouTube.

Setahun berlalu, anak-anak difabel menunjukkan kualitas jepretan visual yang apik. “Mulai mengenal eksposur, jepretan visual makin berani,” ungkapnya.

Foto-foto jepretan diramu menjadi satu buku yang berjudul Tutur Mata. Akhir tahun lalu, koran ini berkesempatan mengabadikan momen peluncuran masterpiece tersebut. Pina dan kawan-kawan tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia mereka ketika berbincang dengan awak media kala itu.

Sebelumnya, pada 2019, Kiking dan Mukidi mengikuti workshop fotografi yang diadakan UNICEF. Workshop tersebut berkolaborasi dengan fotografer profesional asal Italia, Giacomo Pirozzi.

Tidak hanya berbagi ilmu, fotografer yang melanglang lebih dari 30 negara itu juga membawa beberapa foto dari peserta ke Jerman. Foto-foto tersebut ditampilkan di sebuah acara internasional Kota Layak Anak Dunia.

Ada pengalaman yang tak terlupakan ketika pembagian kelompok untuk turun ke lapangan. Per kelompok diisi 4–5 anak. Saat semua anak telah mendapat anggota kelompok, lain halnya dengan Kiking dan Mukidi. Di awal, keduanya tidak mendapat anggota kelompok.

”Pada akhirnya, keduanya diajak bergabung ke satu kelompok. Ternyata, di pengumuman best team, kelompok Mukidi dan Kiking justru yang menang,” kenang Leo.

Dia tidak menyalahkan 19 peserta lain yang tak memilih Kiking dan Mukidi. Leo mengungkapkan, mungkin teman-teman lain bingung tentang cara berkomunikasi dengan Kiking dan Mukidi. Selain best team, Kiking menyabet best photography. Dia mengambil objek pedagang bawang di Pasar Keputran. Fotonya cukup dramatis dan penuh cerita.

Kini Leo mempersiapkan proyek anyar. Yaitu, road show bedah buku Tutur Mata di dalam dan luar kota.Dalam waktu dekat ini, Leo dan tim Disabilitas Berkarya yang berisi Anggri Afriana, Mamuk Ismuntoro, Eko Doto, dan Robert Xu memulai road show di Surabaya dan Malang.

Terpisah, Kepala UPTD Liponsos Kalijudan Cholik Anwar menjelaskan, anak-anak di liponsos menjalani banyak aktivitas yang bisa mengasah skill. Termasuk fotografi dan membatik. Ada sekitar 60 anak di liponsos.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git

Saksikan video menarik berikut ini: