alexametrics

Sukses Operasi Pemisahan Tubuh, Rochman-Rochim Ingin Jadi Dokter

13 Agustus 2019, 21:28:06 WIB

PADA 4 September 2009, Abdul Rochman dan Abdul Rochim terlahir dengan kondisi pygopagus. Pantatnya melekat. Hanya ada satu penis. Pada 2010, operasi dilakukan. Kini keduanya tumbuh sehat selayaknya anak-anak yang lain.

KARTIKA SARI, Surabaya

Supinah masih terkenang masa-masa itu. Dia merasakan janinnya seperti sudah siap lahir. Calon bayi itu seperti berontak mau keluar saja. Dia bersama suaminya, Anis Mulyo, lantas menuju bidan di desa tempat tinggalnya di Mojowarno, Jombang.

Tak dinyana, bayi yang dilahirkan kembar. Namun, kondisinya tak seperti kebanyakan bayi lain. Keadaannya dempet pantat. Mengetahui hal tersebut, sang bidan merujuknya ke RSUD Jombang ”Mungkin menurut orang-orang, anak kami ini antik. Karena dempetnya di pantat. Sudah begitu, kelaminnya hanya satu,” kata Anis yang ditemui akhir pekan lalu.

Setelah itu, bayi kembar yang kemudian diberi nama Rochman-Rochim tersebut dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Cukup lama dua bocah itu hidup di Ruang Bobo, fasilitas kesehatan milik pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Lebih dari satu tahun. Sambil menjalani berbagai pemeriksaan dan persiapan operasi separasi.

Anis mengatakan, banyak sekali pihak yang memberi bantuan. Sampai-sampai mereka tidak mengenali siapa saja mereka. Yang paling berkesan bagi Anis dan Supinah adalah saat kedua anaknya dibesuk Soekarwo, gubernur Jatim saat itu. ”Awalnya, kami belum diberi perhatian oleh pemerintah Kabupaten Jombang. Namun, setelah dikunjungi gubernur, pemkab langsung memberikan perhatian dan bantuan kepada kami,” ucapnya.

Seketika Anis merasa anak-anaknya terkenal. Banyak media yang meliput dan mewawancarai Anis. ”Wartawan Jawa Pos itu yang paling sering wawancara. Sampai kami akrab dengan mereka. Salah satunya Mbak Aini,” kata Anis.

Kini bayi tersebut berusia 10 tahun. Rochman saat ini duduk di bangku kelas IV sekolah dasar, sementara Rochim kelas V. ”Memang Rochman sempat tinggal kelas,” kata Anis.

Saat ditemui Jawa Pos beberapa waktu lalu, Rochman-Rochim terlihat lugu. Duduk dengan kemeja dengan motif yang sama. Mudah membedakan mereka. Badan sang kakak, Rochman, lebih kecil daripada adiknya. Keduanya mengaku masih mengingat dokter yang dulu saban hari merawat mereka, yakni dr Agus Harianto SpA (K). Mereka menyebut dokter spesialis anak RSUD dr Soetomo itu dengan ”Mbah”.

Rochman hingga saat ini masih sering kontrol di RSUD. Sebab, ada kebocoran pada mitrofanoff-nya. ”Ada rembesnya,” ucap Anis. Beberapa waktu yang lalu, dia cek urine di laboratorium untuk mengetahui fungsi ginjal. Hasilnya, fungsi ginjal bagus. Namun, dalam kandungan air seni ada potensi untuk infeksi. Sampai-sampai Rochman jatuh sakit seminggu yang lalu. Diminumkan parasetamol, demamnya bisa turun. Tapi jika parasetamolnya habis, dia kembali panas. ”Gejala infeksinya, ada demam,” kata Anis.

Saluran mitrofanoff yang menggantikan penisnya itu mengalami kebocoran. Mitrofanoff merupakan saluran kecil yang menghubungkan kandung kemih ke bagian luar tubuh. Saluran tersebut dibuat hampir setahun yang lalu. Terkadang, mereka harus menggunakan popok sekali pakai agar tidak terlalu sering ganti celana. ”Soalnya, si Oman (panggilan Rochman, Red) enggak tahan kalau ada rembesan sedikit saja,” ucap Supinah.

Mitrofanoff tersebut membuat Rochman tak pernah bisa merasakan ingin buang air kecil. Di perutnya selalu tertempel plastik buatan ayahnya untuk menampung air seni. ”Saya buatkan sendiri dari plastik bening biasa untuk ditempel di perutnya,” kata Anis Mulyo, ayah Rochman-Rochim. Dia mengatakan dalam sehari bisa mengganti plastik sebanyak 2–3 kali. Setiap mengganti tentu saja dilanjutkan dengan membersihkan bagian lubangnya.

Meski begitu, keduanya terlihat sehat secara fisik. Wahyu, kakak si kembar, mengungkapkan bahwa kedua adiknya saat TK pernah bercita-cita menjadi dokter. ”Pengin kayak dr Agus katanya,” ucap dia.

Keduanya memiliki hobi yang sama. Yaitu, suka menggambar dan membuat kerajinan tangan. Mereka juga senang membuat mainan sendiri dari bambu. ”Sepertinya, dari yang awalnya bercita-cita jadi dokter kini berubah jadi insinyur,” ujar Wahyu. Disusul tawanya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads