alexametrics
Mengikuti Tim Ecoton Bersihkan Kali Surabaya

Susur Sungai 4 Kilometer, Temukan 2 Kuintal Popok Bayi

13 Juli 2017, 03:53:27 WIB

Kali Surabaya menjadi pasokan utama PDAM Surya Sembada untuk mengaliri 3 juta warga. Sayangnya, kondisi anak Kali Brantas itu tercemar bakteri Escherichia coli (E.coli). Bakteri pada feses manusia tersebut menyebar melalui sampah pokok.

SALMAN MUHIDDIN

ECOTON mengadakan acara bersih-bersih sungai kemarin (10/7). Lima hari sebelumnya, mereka merilis bahwa 37 persen sampah di Surabaya adalah popok bayi. Hal itu cukup mengkhawatirkan. Sebab, dalam popok terdapat kandungan amonia dari pipis bayi yang terkumpul dalam hidrogel. Selain itu, ada feses bayi yang mengandung E.coli.

Berdasar data Perum Jasa Tirta (PJT), pada akhir 2016 diketahui bahwa jumlah bakteri E.coli di Kali Surabaya mencapai 240.000/100 ml. Padahal, ambang batasnya hanya 10.000/100 ml. Direktur Ecoton Prigi Arisandi menyatakan bahwa kondisi air makin memburuk setiap tahun. ’’Sejak 2006, kami teliti mulai parah. Sekarang lebih ngawur,’’ jelas pria asal Gresik tersebut.

Evakuasi popok dilakukan sejak pukul 06.00. Empat peneliti Ecoton berkumpul di Jalan Raya Bambe, Driyorejo, Gresik. Mereka adalah Afrianto Rahmawan, Prigi Arisandi, Riska Damaryanti, dan Amiruddin Muttaqin. Tugas pertama mereka adalah memompa perahu karet. Begitu mengembang, perahu berwarna hijau itu langsung diturunkan mereka. Ada juga perahu khusus pengangkut sampah. Perahu tersebut memiliki kotak sampah dari terali besi.

Byur.. perahu mulai mengapung. Mereka lantas mengayuh perahu ke utara. Demi keselamatan, mereka memakai pelampung plus masker. Dua perahu itu berjalan beriringan. Harus menempel agar sampah yang terjaring bisa langsung dikumpulkan. Dua orang bertugas mendayung dan dua orang lagi memegang jala. Banyak sampah yang mengapung. Mulai kantong plastik hingga batang pohon. Namun, kali ini yang diambil hanya popok.

Popok tersebut terbawa arus yang tidak begitu deras. Dengan begitu, para peneliti dapat mudah menggapainya. Kadang mereka cukup menunggu popok itu mendatangi perahu. Begitu dekat, popok langsung diciduk. Namun, beberapa popok tersangkut di pinggiran sungai. Mereka pun harus mendayung ke pinggiran.

Setelah empat jam memunguti popok, para peneliti beristirahat di depan instalasi pengolahan air minum (IPAM) Karang Pilang. Mayoritas kebutuhan air Surabaya diproduksi di tempat tersebut. IPAM lain yang berkapasitas lebih kecil berada di Ngagel. Bukan hanya popok, saat penyusuran, tim juga menemukan sejumlah jamban di pinggiran sungai. Mereka juga meyakini masih banyak warga yang tidak memiliki septic tank. Akibatnya, limbah kamar mandi langsung disalurkan ke sungai.

Perjalanan dilanjutkan. Mereka hendak memarkir perahunya di bawah Jembatan Karang Pilang. Sembari menuntaskan perjalanan, mereka masih terus menjaring popok-popok yang terbawa arus. Saat itu wadah sampah nyaris penuh. Laju perahu pun makin pelan. Jika dihitung, susur sungai sejauh 4,1 km itu menghasilkan sampah popok seberat 2 kuintal.

Begitu sampai di bawah jembatan, mereka kembali kaget. Di sisi jembatan, banyak sekali sampah yang nyangkut. Mereka sempat bertanya kepada warga sekitar. Menurut pengakuan mereka, sampah tersebut banyak dibuang saat malam. ’’Jam dua pagi. Kalau siang begini, enggak berani mereka,’’ jelas seorang warga yang tidak mau namanya disebut.

Prigi berencana membersihkan jembatan itu juga. Namun, perjalanan hari itu disudahi. Dia bakal melanjutkan acara bersih-bersih tersebut hingga Kamis (13/7). Perjalanan akan dilanjutkan hingga Gunung Sari, lalu ke Jagir, dan berbelok ke utara menyisir Kali Mas.

Peneliti senior Ecoton Riska Darmawanti menjelaskan, kegiatan itu bertujuan mengingatkan masyarakat tentang kondisi sungai. Selama budaya hidup bersih tidak dilakukan, efek buruk bakal dirasakan masyarakat. ’’Tentu bahaya sekali kalau sampah dikonsumsi manusia,’’ tutur alumnus Unair tersebut.

Riska juga miris melihat anak-anak bantaran sungai yang asyik berenang. Jika air kotor itu tertelan, berbagai macam penyakit bisa timbul. Namun, anak-anak pasti tidak memikirkan hal tersebut. ’’Padahal, ada juga efek jangka panjangnya,’’ ujarnya.

Ecoton mendorong pemerintah ikut menjaga lingkungan. Salah satu caranya adalah menyediakan bak khusus popok di tempat pembuangan sementara (TPS). Selain itu, produsen popok diminta bertanggung jawab untuk mengedukasi para konsumennya. (*/c14/oni)

Editor : Suryo Eko Prasetyo



Close Ads
Susur Sungai 4 Kilometer, Temukan 2 Kuintal Popok Bayi