alexametrics
Setahun #SuroboyoGakWedi

Saya Melawan Takut dengan Doa, Bercanda, dan Bersyukur

13 Mei 2019, 17:04:55 WIB

Setahun berselang, Ahmad Nurhadi yang kaki kirinya hancur dan matanya terkena serpihan bom terus bersemangat memulihkan kondisi. Sedangkan keluarga Bayu, sang kawan yang jadi korban meninggal, terus merawat kenangan tentang mendiang lewat studio fotonya.

DENI M.-GALIH A.P., Surabaya

KAKI kirinya yang hancur harus dioperasi enam kali. Penglihatannya juga terganggu.

Tapi, Ipda Ahmad Nurhadi ikhlas menerima semua itu.

Salah seorang korban tragedi bom Surabaya persis setahun lalu tersebut tetap bersyukur. Dia masih bisa menghabiskan hari-hari bersama sang istri, Nunung Ivana, dan si buah hati, Aqiella Nadia Safwa.

“Saya melawan takut dengan doa, bercanda dengan keluarga, dan banyak bersyukur,” kata dia kepada Jawa Pos yang mengunjungi kediamannya Sabtu lalu (11/5).

Nurhadi menjadi korban bom saat berjaga di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Kaki kirinya hancur sedalam 12 cm. Percikan mesiu bom mengenai kedua matanya.

Hari itu bom menyalak di tiga gereja di Surabaya. Dengan pelaku berasal dari satu keluarga. Keesokan harinya, satu keluarga lain dengan mengendarai dua sepeda motor meledakkan diri di pos penjagaan Mapolrestabes Surabaya.

Ditambah bom yang meledak tanpa sengaja di Sidoarjo karena kecerobohan si perakit, total 25 orang tewas dan 57 lainnya terluka di hari-hari terkelam dalam sejarah Surabaya itu.

Namun, setahun berlalu, berfondasi tekad “Suroboyo gak wedi” (Surabaya tidak takut), ibu kota Jawa Timur itu pulih dari luka. Kembali ke karakternya selama ini sebagai kota yang ramah, terbuka, dan toleran.

Tak ada dendam yang tersisa. Dan, Nurhadi adalah personifikasi yang tepat untuk itu. Dia memang tak akan pernah lupa pada hari kelabu tersebut. Tapi, itu lebih sebagai pengingat.

Terutama untuk mengingat Aloysius Bayu Rendra Wardhana, jemaat gereja yang kehilangan nyawa di hari itu. “Foto ini diambil 30 menit sebelum ke­jadian,” katanya sembari memperlihatkan foto di ponselnya dengan bantuan sang istri.

Dia mengenal baik Bayu dan para jemaat gereja lain. “Saya berteman akrab dengan orang-orang gereja. Karena memang cukup lama ngepam penjagaan di sana,” imbuh dia.

Kini hari-hari Nurhadi dipenuhi semangat untuk bisa segera pulih sepenuhnya. Sebab, dia ingin bisa kembali bertugas sebagai polisi. Apalagi, dukungan terus datang dari berbagai pihak.

Selain memperbanyak ibadah, dia aktif berlatih melangkahkan kaki. Tiap pagi dia juga rutin berjemur. “Satu jam sekali biar fresh. Tapi, kalau kelamaan, nggak kuat panasnya, he he he,” ujarnya.

Nunung pun bangga dengan ketegaran sang suami. “Dia terluka saat menjalankan tugas,” katanya.

Nunung juga bersyukur atas semua uluran tangan dari berbagai pihak. Terutama dari kepolisian dan Pemerintah Kota Surabaya. “Termasuk pengobatan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim,” jelas dia.

Setiap Rabu, lanjut Nunung, suaminya selalu dijemput pihak rumah sakit untuk menjalani terapi dan cek kesehatan. “Saya berharap yang terbaik dan mengucapkan terima kasih untuk yang membantu Mas Nur selama ini,” tutur Nunung sembari menemani sang suami mengobrol di tempat tidur.

Sementara itu, Bayu, yang tak akan pernah dilupakan Nurhadi, berpulang, meninggalkan istri, Monic, dan dua putra, Aaron, 4, dan Aalyssia, 2. Saat ini mereka ting­gal di rumah orang tua Monic.

“Anak-anak Mas Bayu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri,” ungkap Galih Wardhana, adik Bayu, saat ditemui Jawa Pos di kediamannya, Jalan Gubeng Kertajaya I, Surabaya, Sabtu lalu (11/5).

Bayu meninggal setelah dengan berani menghadang motor pembawa bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) setahun lalu. Kenangan akan Bayu terawat utuh di rumah yang berlokasi di Gubeng Kertajaya tersebut.

Termasuk studio foto milik mendiang. Di ruangan yang berukuran 4 x 5 meter itu, ada tiga sisi dinding dengan tema yang berbeda. Gaya ndeso dengan ornamen kayu dan jendela kuno. Gaya rustic dengan ekspos tekstur batu bata yang masih terlihat. Dan, dinding merah dengan pajangan radio antik, rapi di atas rak.

Di sisi barat, menggantung empat rol background foto. Sofa dan kursi bermacam jenis tertata di sudut ruangan. Boneka berbagai bentuk dan ukuran tertata rapi di rak rotan.

“Memang oleh keluarga ruangan ini sengaja dibiarkan seperti itu. Tetap asli apa adanya,” jelas Galih.

Studio foto itu menjadi salah satu tempat Bayu beraktivitas rutin. Baru dipakai setahun setelah rampung pada 2017.

Sederet potret kenangan dan sketsa wajah Bayu terpampang di sana. “Dia partner saya main musik di gereja. Saya nyanyi, Mas Bayu main gitar,” kenangnya.

Pria kelahiran Surabaya, 20 Juni 1980, tersebut memang dikenal sebagai orang yang supel. Tidak pilih-pilih teman, bisa berkawan dengan siapa saja. Aktif di berbagai kegiatan. Mulai kegiatan kampung hingga gereja.

Bayu berkiprah di Gereja SMTB sejak lama, sejak SMP. Banyak tanggung jawab yang dia pegang. Gonta-ganti. Namun dilakukan sepenuh hati. Mulai mengikuti paduan suara, menyiapkan misa, mengurusi kebersihan, hingga menangani parkir.

Hingga yang terakhir menjaga keamanan dan mengatur kendaraan para jemaat. “Apa pun dikerjakan sama beliau, nggak pernah ngeluh,” ujar putra kedua Siswanto itu.

Menurut Galih, studio tersebut nanti menjadi hak anak-anak Bayu. “Kami ingin mereka tahu bahwa inilah peninggalan dari papanya (Bayu, Red) untuk mereka,” jelas Galih.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ttg)



Close Ads