alexametrics
Aksi 700 Hari Penyerangan Novel Baswedan

Ketika Keadilan Menemui Jalan Gelap, Buntu, Sunyi dan Tanpa Kepastian

13 Maret 2019, 02:14:40 WIB

Genap 700 hari, peristiwa penyiraman air keras yang dilakukan orang tak dikenal terhadap penyidik KPK Novel Baswedan telah berlalu. Namun, hingga kini belum juga ada titik terang siapa aktor lapangan maupun aktor intelektual di balik penyerangan keji tersebut. Padahal berbagai suara telah lantang meminta agar presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Ini karena polisi lamban mengungkap kasus tersebut, meski membentuk berbagai tim dengan nama yang berbeda. Kini, ketika kata seperti tak bermakna, maka hanya diam satu-satunya cara jalan mengetuk pintu hati sang penguasa.

 

Intan Piliang, Jakarta

Gedung KPK
Ilustrasi: Gedung KPK (Dery/ JawaPos.com)

 

Adzan Isya baru saja berkumandang di bilangan kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/3) malam. Namun, puluhan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi tak langsung bergegas pulang ke rumah, meski tampak guratan lelah di wajahnya usai bekerja seharian. Mereka berduyun-duyun berkumpul di teras lobi gedung dwi warna bersama puluhan sejumlah pegiat antikorupsi, untuk melakukan ‘aksi diam’ dalam rangka memperingati 700 hari pasca penyiraman air keras yang dialami koleganya, 11 April 2017 silam.

Waktu terus berlalu hingga lewat dari pukul tujuh. Namun tak ada wajah lima pimpinan lembaga antiasuah tersebut hadir dalam acara sakral tersebut. Padahal kehadiran mereka begitu berarti untuk menunjukkan keberpihakannya bukan hanya pada Novel. Namun kepada segenap aparat penegak hukum lain yang mengalami teror serupa, tanpa ada yang bisa mengungkapnya.

“Sampai dengan hari ke 700 ini pelaku masih bebas beraktivitas, merdeka, tanpa adanya efek jera, sementara negara beserta seluruh alat kelengkapan penegakan hukum yang dimiliki, seakan dibuat tak berdaya dan tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan kejahatannya,” ucap Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap lantang di depan massa aksi, saat membuka jalannya ‘aksi diam’ di lobi gedung KPK.

“Janji tinggalah janji, 700 hari tak ada yang terjadi, suara kebenaran seakan hanya dianggap angin lalu. Di tengah hiruk pikuk berebut kekuasaan, keadilan menemui jalan gelap, buntu, sunyi dan tanpa kepastian. Diam adalah bahasa tanpa sandiwara dan kebohongan. Diam adalah bahasa terakhir saat lidah kita semua sudah membeku menjeritkan keadilan,” imbuh Yudi.

Usai orasi selesai dilakukan, arena Novel berhalangan datang, tepat pukul 19.30 WIB, ‘aksi diam’ pun mulai dilakukan selama 700 detik. Dalam kondisi gelap, puluhan pegawai lembaga antirasuah beserta sejumlah pegiat antikorupsi duduk berjajar di depan lobi gedung, dengan memakai masker bertuliskan angka 700 dan memegang light stick untuk sedikit penerang. Ada juga peserta aksi yang membawa poster bergambar wajah Novel dengan tulisan ‘Aksi Diam 700 Hari Pasca Penyerangan Novel Baswedan’.

Tak ada suara. Para peserta tampak khusyu, saat aksi mulai dilakukan. Yang ada hanya gelap dan sunyi selama layar penghitung waktu mundur 700 detik itu terus bergulir. Sesunyi pengusutan kasus tersebut, yang tak ada perkembangan yang berarti. Meski janji-janji manis pernah dilontarkan Presiden Jokowi maupun Kapolri Jenderal Tito Karnavian, untuk mengusut tuntas kasus ini.

Usai 700 detik berlalu, untuk memompa semangat perjuangan dalam memberantas korupsi, salah satu peserta massa aksi pun membacakan puisi dengan judul ‘ Sajak Suara’ yang ditulis oleh Wiji Thukul.

“Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam. Mulut bisa dibungkam. Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan dari lidah jiwaku,” ucap seorang peserta massa aksi saat membacakan puisi tersebut.

“Suara-suara itu tak biasa dipenjarakan. Di sana bersemayam kemerdekaan. Apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu; Pemberontkan!,” imbuhnya.

Untuk diketahui, kasus penyerangan Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017 silam. Novel disiram menggunakan air keras oleh dua orang yang tak dikenal saat hendak salat subuh di masjid dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Akibat kejadian tersebut, Novel mengalami luka cukup parah di bagian mata kirinya. Hari ke-700 setelah peristiwa tersebut, kasus penyerangan Novel memang masih belum menemui titik terang. Dalang di balik penyerangan masih juga belum terungkap.

Meski polisi telah membentuk tim gabungan yang dipimpin Komjen Idham Azis, dengan anggota 7 pakar serta sejumlah unsur dari kepolisian dan KPK. 

 

 

Editor : Kuswandi

Reporter : Intan Piliang

Copy Editor :

Ketika Keadilan Menemui Jalan Gelap, Buntu, Sunyi dan Tanpa Kepastian