JawaPos Radar

Ketika Ratusan Imigran di Sidoarjo Sejenak Lepaskan Beban dan Jenuh

Dari Sri Lanka, Menang berkat Tarian

13/03/2018, 15:49 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ketika Ratusan Imigran di Sidoarjo Sejenak Lepaskan Beban dan Jenuh
GEMBIRA: Abdul Qodir (tengah ) bersama rekan rekannya bernyanyi pada World Happyness Day Celebration di Wisma Jemundo Sidoarjo, kemarin (12/3). (Boy Slamet/ Jawa Pos)
Share this image

Di tengah penantian panjang untuk dikirim ke negara ketiga, imigran dari berbagai negara di Sidoarjo diajak berkontes menyanyi, menari, dan berpuisi. Ada yang hanya berlatih empat hari, ada yang grogi di atas panggung.

FIRMA ZUHDI AL FAUZI, Sidoarjo

---

MUHAMMAD Akbari tampak gugup. Lagu mulai terdengar, tapi liriknya tak dia hafal benar. Padahal, ada ratusan orang di hadapannya.

Jadilah handphone di tangan berkali-kali dia lirik. Menyontek lirik Assalamualaika Ya Rasulullah dari sana.

Dengan sedikit gratul-gratul, akhirnya lagu milik Maher Zain itu bisa diselesaikan pria asal Afghanistan tersebut. Suaranya yaaa... lumayan lah. Buktinya, tak sedikit hadirin di halaman Rusun Puspa Agro, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, yang kemarin (12/3) memberikan aplaus panjang.

Tepuk tangan yang tak kalah meriah juga didapat pria Afghanistan lain, Sayed Mohamad Nabi. Terlebih, dia memamerkan dua bakat sekaligus: berpuisi dan memainkan biola. Sebagian penonton, meski dengan malu-malu, tampak seperti bergumam, bahkan ikut menyanyi saat Nabi memainkan King of Hearts dan My Heart Will Go On.

"Puas sudah tampil. Saya sudah jarang main biola. Ini juga hanya latihan dua minggu," kata pria 29 tahun itu.

Bagi Akbari, Nabi, dan lima penampil lain ajang Migrants Talent Show, bisa manggung itu saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri Begitu pula bagi ratusan orang lainnya yang menonton mereka.

Mereka adalah para pengungsi dan pencari suaka yang bertempat tinggal di community accommodation di wilayah Sidoarjo. Sebanyak 320 imigran itu berasal dari Afghanistan, Pakistan, Sri Lanka, Iran, Iraq, Somalia, Myanmar, Eritrea, dan Sudan.

Mereka menunggu kebijakan pemerintah Indonesia, kapan akan dikirim ke negara ketiga. Tapi, penantian itu tak sebentar. Nabi, misalnya, sudah menunggu lima tahun. Vilvarasa Sivaruban dari Sri Lanka malah enam tahun.

Sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu untuk menunggu. Mencari pekerjaan juga tidak boleh karena status mereka sebagai pengungsi akibat konflik di negara asal. Untung, International Organization for Migration (IOM) memfasilitasi dengan menyediakan kegiatan seperti kursus vokasi. Misalnya latihan memperbaiki AC. Juga kursus bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Meski demikian, bisa tetap dibayangkan kejenuhan dan kegundahan mereka. Karena itulah, mereka menumpahkannya kemarin. Melupakan sejenak segala beban dalam acara yang merupakan rangkaian perayaan World Happiness Day atau Hari Kebahagiaan Dunia yang jatuh pada 20 Maret mendatang, yang diorganisasi IOM.

Ratusan orang dari berbagai negara itu tertawa lepas, ikut menyanyi bareng, hingga berjoget bareng. Apalagi, banyak door prize yang bisa didapatkan dengan melakukan hal-hal sederhana yang diminta duet pembawa acara Fatiisa Zebua dari Indonesia dan Hussain Ali dari Afghanistan. Misalnya adu cepat naik ke panggung bagi penonton yang tidak pakai sandal. Hingga yang paling lucu, adu cepat naik ke panggung bagi penonton yang belum mandi. Ternyata, banyak yang tanpa malu naik ke panggung. Cuek aja walaupun belum mandi. Lumayan, dapat kaus.

Menurut Regina Asa, kepala Kantor IOM Surabaya, setiap orang punya hak untuk bahagia. Bagaimanapun kondisinya, di mana pun berada. "Apa pun keadaannya, jangan terlalu dipikirkan," katanya.

Antusiasme para imigran di Sidoarjo itu terlihat dengan mengonsep dan menangani sendiri semua rangkaian acara, meski IOM tetap mendampingi. Apalagi, acara seperti itu baru kali ini mereka rasakan.

Yang ikut talent show juga perwakilan dari berbagai negara. Penampil keempat, misalnya, adalah Abdul Qadir dari Somalia. Lalu, penampil ketujuh atau terakhir adalah Ruban.

Peserta dari Sri Lanka itu menampilkan dance. Dia menari dengan diiringi lagu India yang berjudul Mukala Mukabula Laila o Laila.

Ternyata penampilan Ruban mendapat sambutan paling meriah. Dance ala Michael Jackson (MJ) yang dia bawakan berhasil membuat penonton mendekat ke panggung. Ikut berjoget. Tidak sedikit juga yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel. "Baru ini punya kesempatan menampilkan dance Michael Jackson," ucap Ruban.

Seingat dia, dirinya kali terakhir berlatih dance ala MJ sekitar tujuh tahun lalu. Saat masih berada di Sri Lanka.

Baru saat diberi tahu soal Migrants Talent Show itu, dia berusaha mengingat lagi berbagai gerakannya. Itu pun baru dia lakukan empat hari sebelum hari H.

Untung, berbagai gerakan tujuh tahun lalu tersebut masih menancap di benak. Jadi, tak sulit merekonstruksinya lagi.

Karena itu, saat harus memadukan gerakan dengan musik India, dia juga tak merasa kesulitan. Alhasil, penampilannya di panggung pun luwes. "Persiapan khusus seperti beli kostum pun tidak ada. Hanya pakai kaus dan rompi yang saya punya," kata pria 29 tahun tersebut.

Saking terharunya dengan respons penonton, Ruban langsung duduk sambil membungkuk setelah selesai tampil. Sesekali mengusap mata. Terharu. Banyak juga rekan yang menghampirinya. Mengajaknya toas karena berhasil menghibur mereka.

Karena kehebohan yang dia ciptakan itu, ketiga juri, yakni Heru Yulianto dari Dinsos Jatim serta Aliga Fauzan dan Indra Wilis dari Kantor Imigrasi Khusus Kelas I Surabaya, sepakat untuk memilih Ruban sebagai juara. Total skor yang dia dapat 25.

Penonton pun bergemuruh. Seakan menyetujui keputusan itu. Bahkan, Ruban juga menjadi pemenang favorit, mendapat paling banyak dukungan dari penonton yang disaring lewat balot yang sebelumnya diedarkan.

Ruban gembira, penonton bahagia. "Itulah yang memang ingin kami capai lewat acara ini. Semua orang berhak bahagia, apa pun keadaannya," kata Regina Asa. 

(*/c11/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up