alexametrics

Dulu Pendulangan Menghidupi Semua, Kini Banyak Yang Beralih Pekerjaan

13 Januari 2022, 17:08:58 WIB

Yang khas, tradisi mendulang intan di Martapura dan sekitarnya itu kental dengan nilai-nilai kehidupan serta takhayul. Dalam Mendulang Intan di Cempaka, Anggraini Antemas menulis bahwa pendulangan intan di kawasan tersebut menjadi peruntungan bagi masyarakat. Bukan hanya yang berasal dari Martapura, tapi juga kawasan lain di Kalsel.

Maklum, batu intan merupakan jenis permata langka bernilai tinggi sehingga menjadi incaran banyak orang. Bijih intan mentah yang disebut galuh oleh masyarakat Banjar itu adalah cikal bakal berlian. Untuk menjadi sebuah berlian, bijih intan lebih dulu dipotong, diasah, dan digosok oleh ’’ahlinya’’. Tidak sembarang orang punya keahlian itu.

Di Cempaka inilah intan Tri Sakti ditemukan pada 26 Agustus 1965. Majalah Sarinah No 119 terbitan 1987 menyebut Tri Sakti sebagai intan terberat ketujuh di dunia. Intan sebesar telur burung merpati tersebut ditaksir bernilai Rp 10 miliar pada waktu itu.

Sayang, torehan sejarah tersebut bersipunggung dengan kondisi pendulangan intan Cempaka saat ini. Sebagai pendulang yang masih bertahan, Imin mengaku ’’keguguran indaru’’ atau kejatuhan untung besar yang diharapkan tak kunjung menghampirinya beberapa tahun belakangan ini. Rata-rata pendapatannya tak lebih dari Rp 30 ribu sehari.

Kisah keberuntungan Keluarga Pak Kasim, yang diceritakan Anggraini dalam bukunya sebagai penemu intan Tri Sakti yang menggemparkan di era Presiden Soekarno, tak berlaku bagi Imin dkk sekarang ini. Atas alasan itulah, tak sedikit warga Pumpung yang sekarang beralih pekerjaan.

Mereka mencari peruntungan di tempat lain. ”Ada yang jadi tukang bangunan,” kata Riyoto, ketua RT 31, RW 10, Kelurahan Sungai Tiung.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c17/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads