alexametrics

Sumbar yang Turut Menjerit karena Kenaikan Tiket Pesawat

Bisnis Bus AKAP Kembali Bergairah
13 Januari 2019, 12:33:58 WIB

JawaPos.com – Pariwisata Sumatera Barat diperkirakan terancam akibat tingginya harga tiket pesawat. Banyak penumpang yang beralih ke bus lintas provinsi.

Berkali-kali ke Padang, tak pernah sekali pun Hari Kurniawan memilih moda transportasi selain pesawat untuk balik ke Jakarta. Tapi, tidak kali ini. Pria 22 tahun itu harus rela naik bus yang jelas butuh waktu tempuh jauh lebih lama. ”Tiket pesawat mahal sekali. Mana bagasi sekarang juga harus bayar,” katanya kepada Padang Ekspres (Jawa Pos Group).

Begitu pula Nini Chaniago. Seperti Hari, dari Padang dia harus balik ke Jakarta dengan menggunakan bus NPM. Sekali jalan cukup Rp 400 ribu. ”Sudah cek harga pesawat. Mahal sekali,” katanya.

Sumbar yang Turut Menjerit karena Kenaikan Tiket Pesawat
Calon penumpang pesawat melakukan pembelian tiket di Terminal 1 Soekarno Hatta Cengkareng Banten, Jumat (11/1/2019). (MUHAMAD ALI/JAWAPOS)

Seperti juga di berbagai kota di Indonesia, para pengguna jasa penerbangan memang mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat saat ini. Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumbar Ian Hanafiah, tiket pesawat Padang–Jakarta pergi-pulang bisa mencapai Rp 4 juta.

”Bandingkan dengan harga tiket pesawat pergi-pulang dari Padang ke Kuala Lumpur, Malaysia, yang hanya Rp 800 ribu,” kata Ian yang juga owner Ero Tour tersebut kepada Padang Ekspres.

Menurut Ian, kenaikan tiket pesawat plus bagasi berbayar itu bisa membuat pariwisata Sumatera Barat lumpuh. Wisatawan domestik bakal lebih memilih berlibur ke luar negeri. Sebab, harga tiket pesawat yang ditawarkan jauh lebih murah.

Sekarang saja, lanjut Ian, banyak pengusaha yang terlibat di bidang industri pariwisata yang mengeluh. Mulai pengusaha hotel hingga pelaku usaha yang terlibat di bidang UMKM.

”Kalau momen-momen tertentu seperti Lebaran dan tahun baru, kenaikan harga tiket sangat kami maklumi. Namun, kalau dinaikkan di hari-hari biasa, tentu sangat merugikan semua pihak yang terlibat di pariwisata,” jelas Ian.

Kekhawatiran serupa dirasakan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Padahal, pengaruh langsung sektor pariwisata bagi kesejahteraan masyarakat adalah adanya transaksi jual beli yang dilakukan wisatawan terhadap produk lokal.

Karena itulah, Irwan mengaku sudah berulang-ulang mengingatkan sekaligus menyurati dua grup maskapai yang melayani penerbangan domestik, Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group, seiring lonjakan harga tiket itu. Khususnya rute Jakarta–Padang.

”Sudah banyak sekali keluhan yang masuk ke kami. Pengusaha tur juga mengeluh, karena dampaknya juga besar terhadap sektor pariwisata,” terang Irwan kemarin (10/1).

Namun, mesti sudah beberapa kali surat dikirim, sejauh ini belum ada tanggapan. ”Kewenangan Pemprov Sumbar tidak bisa mengurus langsung persoalan tiket,” kata dia.

Irwan juga menyorot kebijakan maskapai yang menerapkan bagasi berbayar. Efek berantainya, wisatawan jadi enggan berbelanja oleh-oleh. Sebab, harus membayar lebih untuk bagasi.

Penelusuran Padang Ekspres juga menunjukkan demikian. Meski memang tidak merata di semua pusat oleh-oleh. Di pusat oleh-oleh khas Padang Sherly, misalnya, ada penurunan pembelian buah tangan. ”Untuk jual beli mulai awal pekan ini kita rasakan ada penurunan. Tapi, kita nggak tahu persisnya karena faktor apa,” kata Wiwi, karyawan Sherly.

Sebaliknya, bus-bus lintas provinsi justru mereguk berkah karena kenaikan harga tiket pesawat itu. Misalnya, bus ANS. Karyawan bagian tiket, Dasrul, menyampaikan bahwa terjadi lonjakan penumpang dalam dua hari terakhir. ”Mayoritas tujuannya Jakarta dan Bandung. Biasanya kita cuma satu bus yang berangkat, tapi sekarang dua bus dan itu selalu penuh,” ucapnya.

Lonjakan penumpang juga terjadi di NPM Padang. ”Ada terjadi lonjakan, dua bus yang kita berangkatkan dua hari belakangan ini selalu penuh. Beda dari hari biasanya, kebanyakan penumpang itu tujuannya Medan dan Jakarta,” kata Andri, karyawan bagian tiket NPM.

Pengamat pariwisata Sumbar Sari Lenggogeni menilai, masalah plafon harga pesawat untuk domestik itu sebenarnya isu lama. ”Seharusnya ada regulasi plafon/batas maksimal harga sebagaimana diterapkan di negara lain. Di negara lain, bahkan paket wisata saja pakai batasan harga maksimal dan berlaku ke industri lain,” jelas pendiri sekaligus direktur Tourism Development Centre Universitas Andalas itu.

Sari khawatir wisatawan domestik lebih memilih negara tetangga. ”Sebab, banyak low cost carrier yang memasang harga rendah,” katanya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (cr23/cr29/cr30/c10/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Sumbar yang Turut Menjerit karena Kenaikan Tiket Pesawat