alexametrics

Kopi Koya, Kental Kearifan Lokal Minahasa yang Kini Jadi Favorit

13 Januari 2019, 07:05:09 WIB

JawaPos.com – Sejumlah coffee house di Manado sudah menyeduh single origin kopi Koya. Memiliki rasa khas, kopi Koya Minahasa mulai jadi favorit. Bahkan sudah bisa disejajarkan dengan varian kopi seperti Aceh Gayo, Toraja atau Bali.

Lerby Tamuntuan, Tondano

KOPI Koya Minahasa sudah memiliki tempat spesial di dunia pecinta kopi. Single Origin asli Tanah Minahasa (Tondano) ini mulai jadi favorit bagi pecinta kopi. Kopi yang memiliki ciri khas dengan rasa yang berbeda ini sudah dua tahun terakhir diseduh di beberapa coffee house ternama baik di Tondano, Tomohon dan Manado.

Bahkan, kopi Koya menurut sejumlah pemerhati dan pecinta kopi sudah bisa disandingkan dengan beberapa jenis kopi lainnya seperti Aceh Gayo, Toraja bahkan Bali.

Kopi Koya diolah secara tradisional oleh petani asal Kelurahan Koya, Uluna. Diolah dengan kearifan lokal, Kopi Koya merupakan jenis kopi Arabica yang tumbuh di Bukit Masarang.

Kopi ini baru mulai ditanam oleh petani Koya tahun 2012. Jenis bibitnya adalah Varietas Lini S dan Kartika. Tahun 2017, para petani di Kelurahan Koya Tondano lebih mengenal pengelolaan kopi tersebut. Saat itu, petani mendapatkan bimbingan dan edukasi langsung dari Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur Bambang Sriono.

“Kami diajarkan mulai dari pemupukan/pembuatan rorak, pemangkasan batang tua, hingga penanggulangan hama penggerek buah kopi,” kata Deivi Rumimpunu, Ketua Kelompok Tani Uluna Koya seperti dikutip Manado Post (Jawa Pos Group).

Dijelaskan, kualitas Kopi Koya ditentukan dari beberapa tahap sampai diseduh. Yaitu 60 persen saat di kebun, 30 persen saat diroasting dan 10 persen saat diseduh. Proses di kebun dominan terjadi di saat proses pasca panen. Bagaimana kopi diproses setelah dipanen akan memengaruhi, bahkan memberikan efek dramatis kepada hasil akhir kopi yang diseduh.

Pada pertengahan 2018, hasil panen dari perawatan pohon-pohon sudah dapat dinikmati walaupun dengan hasil produksi yang terbatas. Para petani pun sudah mulai belajar mandiri dalam proses pasca panen, seperti pemetikan, proses pengipasan kulit buah, pencucian lendir, tahap fermentasi 36 jam, hingga cara penjemuran 2-4 minggu. “Dari Pemerintah Minahasa pun dalam hal ini Dinas Perdagangan semakin peduli dengan perkembangan kopi ini. Sehingga bisa dipasarkan. Dinas perdagangan sudah beberapa kali melakukan sosialisasi serta pelatihan bagi petani agar bisa mampu memasarkan Kopi Koya Minahasa,” kata Devi lagi.

Lebih lanjut diungkapkannya, Kopi Koya Minahasa ini sudah terkenal hingga di mancanegara. Banyak turis seperti dari Perancis, Jerman, dan beberapa negara lain sudah pernah datang langsung melihat dan merasakan kopi Koya Minahasa di perkebunan.

“Kopi Koya Minahasa sudah banyak dibeli oleh turis mancanegara. Jadi kami bangga Kopi Koya Minahasa ini sudah banyak dikenal di Indonesia bahkan mancanegara,” pungkas Rumimpunu.

Sementara dari sisi penikmat, Kopi Koya ini diakui sangat unik. “Memiliki dominan rasa nutty dan lime,” ungkap Adelberth Steven, salah satu pecinta kopi di Manado. Dia menjelaskan, merujuk dari owner Elmont’s Coffee, Kopi Koya ini memiliki cupping score 83,5. “Artinya sudah baik untuk disejajarkan dengan kopi lain yang ada di Indonesia,” kata dia.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : JPG



Close Ads
Kopi Koya, Kental Kearifan Lokal Minahasa yang Kini Jadi Favorit