alexametrics

Mengenal Heri Lentho, Sutradara Parade Surabaya Juang

12 November 2019, 20:48:19 WIB

Parade Surabaya Juang merupakan reka adegan pertempuran 10 November 1945. Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kesebelas. Situasinya dibuat sangat mirip dengan kejadian yang sesungguhnya. Heri Lentho berada di balik semua itu.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Surabaya

WAJAH Heri Lentho terlihat masih lelah saat ditemui setelah Parade Surabaya Juang Sabtu (9/11). Ketika itu, dia sedang menunggu Ine Febriyanti dan Olivia Zallianty di lobi Hotel Majapahit.

Baju ala Bung Tomo saat peristiwa perang pada November 1945 belum dia lepas. Termasuk kopiahnya. Senyum merekah tersungging di wajahnya. Satu ”peperangan” telah berhasil dilewati dengan penuh kemenangan.

”Luar biasa penampilan teman-teman. Seneng. Suasananya dapat,” ujar Heri. Sambil ngobrol, dia memesan teh hangat dengan madu dalam gelas terpisah. Sepertinya untuk mengembalikan stamina setelah sepekan terakhir sibuk mempersiapkan Parade Surabaya Juang yang diikuti tidak kurang dari 5.000 peserta.

Pria bernama asli Heri Prasetyo yang lahir di Malang, 13 Mei 1967, itu menjadi sutradara dalam drama kolosal Parade Surabaya Juang Terutama untuk aksi peperangan di timur Tugu Pahlawan, perempatan dekat Siola, dan di depan Gedung Negara Grahadi. Bukan kali ini saja dia menjadi sutradara acara tersebut.

”Tantangannya saat ini adalah menjaga dan meningkatkannya. Karena ini sudah yang kesebelas, ya harus konsisten dalam mentransformasikan nilai tersebut,” terang Heri.

Tema dan konsep Parade Surabaya Juang dibuat jauh-jauh hari. Menurut dia, parade tersebut menjadi semacam rangkaian dari acara-acara sebelumnya. Misalnya, Sekolah Kebangsaan yang memberikan semangat kepada anak-anak untuk cinta tanah air dan mengenang jasa-jasa para pejuang.

Tujuan utama rangkaian acara itu adalah mentransformasikan nilai-nilai perjuangan dan heroisme kepada para generasi penerus. Para veteran juga dilibatkan agar mereka berperan aktif menanamkan nilai-nilai tersebut. ”Caranya ya dengan melibatkan semua unsur masyarakat Surabaya. Anak-anak, pemuda, diajak semua untuk cinta tanah air dan bangsa ini,” jelas dia. Maka, semakin banyak orang yang terlibat, akan semakin luas pula penyebaran rasa nasionalisme itu.

Dalam adegan peperangan misalnya, diupayakan hadir suasana perang. Salah satunya efek ledakan dengan suara yang benar-benar menggelegar. Ternyata, suara itu bukan dari petasan biasa. Tapi, dari hand grenade simulator. Orang yang pertama mendengar bisa jadi kaget. Sejurus kemudian, pekikan merdeka, takbir, dan serang beberapa kali terdengar. Letupan petasan, asap flare, dan orang yang digotong dengan wajah berlumuran luka semakin menambah kesan peperangan.

Di tengah percakapan tersebut, Ine dan Olivia masuk ke lobi. Mereka pun bergabung dalam obrolan siang itu. Ine sudah beberapa kali ikut serta dalam Parade Surabaya Juang. Olivia baru kali ini ikut serta. Mereka berdua membacakan puisi Surabaya karya KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Ine merasakan semangat yang menggelora saat membacakan puisi penuh makna tersebut. ”Puisi ini seperti ingin memberikan percikan semangat bukan hanya kepada orang, tapi juga tanah dan gedung pencakar langit ini rasanya ingin digugat oleh puisi ini,” kata Ine yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh dalam film Bumi Manusia.

Begitu pula Olivia yang tidak akan melupakan parade tersebut. Olivia harus pindah ke Siola untuk membacakan puisi berjudul Surabaya. ”Naik motor sama Pak Heri. Dari Siola ke Majapahit sebentar karena sakit perut. Lalu, ke Grahadi lihat Kak Ine. Lalu, naik motor ke Taman Bungkul,” ujar Olivia, lantas tertawa.

Cerita siang itu berakhir saat hampir masuk waktu makan siang. Heri menandaskan teh hangatnya. Dia pun mengajak tamunya tersebut untuk makan siang bersama. ”Mau nyari rujak cingur dulu. Besok (10/11, Red) perjuangan lagi,” kata Heri

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads