alexametrics

Ekspedisi Sunyi Komunitas Seniman Surabaya Barat di Hutan Lobre

12 September 2020, 07:07:05 WIB

Jauh dari hiruk pikuk suara klakson kendaraan. Tidak ada ingar bingar celotehan anak kecil atau suara orang dewasa yang lagi beraktivitas. Yang ada, siulan suara burung. Sesekali, gesekan antara ranting pohon ikut meramaikan kegiatan ekspedisi sunyi dari komunitas Seniman Surabaya Barat pada Minggu (6/9).

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

Sebelum menuju ke lokasi ekspedisi sunyi Komunitas Seniman Surabaya Barat, Jawa Pos harus menunggu seseorang. Dia adalah orang yang ditugasi memandu jalan masuk Hutan Lobre, Kecamatan Dukuh Pakis. Tim pelaksana acara ekspedisi sunyi tidak menyarankan untuk masuk hutan tanpa pemandu. Rawan kesasar.

Butuh waktu sekitar 17 menit untuk sampai ke lokasi ekspedisi sunyi. Jalannya setapak. Hanya cukup untuk satu hingga dua orang.

Jika memaksa lebih, kaki atau anggota tubuh berisiko terluka. Dikhawatirkan tergores oleh duri salah satu tanaman.

Jangan dibayangkan medannya sekadar lurus. Anda perlu melompat sesekali. Melewati semacam irigasi. Tetapi, irigasinya kering. ”Ini masih di tepinya,” kata Tiko yang menjadi pemandu saat itu.

Tiko warga asli sekitar Hutan Lobre. Sepanjang perjalanan dia bernostalgia. Menceritakan masa kecilnya yang sering bermain di Hutan Lobre. ”Dulu di sini itu ada gudang peluru. Sekarang sudah enggak ada,” kenangnya.

Beberapa binatang, lanjut ibu satu anak itu, seperti ayam alas hingga garangan terkadang masih menampakkan diri. Sesekali, kata Tiko, ayam hutan mengeluarkan suara. Suara ayam alas berbeda dengan ayam kampung pada umumnya. ”Ular juga ada di sini. Salah satunya ular piton,” ucapnya.

Saat benar-benar tiba di titik ekspedisi sunyi, beberapa lukisan terlihat dipajang dengan menggunakan tali rafia. Tali diikat ke batang pohon sisi kanan dan kiri lukisan. Ukuran lukisannya bervariasi. Termasuk bahan yang digunakan.

Amat Mulyono selaku koordinator ekspedisi sunyi Hutan Lobre menyambut koran ini. ”Baru pertama ke sini?” katanya. ”Medannya lumayan sulit kalau untuk orang baru di sini,” tambah pria 41 tahun itu.

Komunitas Seniman Surabaya Barat dibentuk pada 2018. Anggotanya 30 orang. Sayang, aktivitas seperti pameran jarang digelar. ”Hanya chat di grup WhatsApp begitu. Terus sowan ke rumah antaranggota. Sudah, itu saja,” tutur Amat.

Amat merasa perlu adanya kegiatan seni. Yang mewadahi rasa cintanya terhadap seni lukis. Tahun lalu, tepatnya pada Oktober, dia membuat ekspedisi sunyi di Hutan Lobre untuk kali pertama. Hutan Lobre tak asing baginya.

Dia warga asli Jurang Indah. Kampungnya bersebelahan dengan Hutan Lobre. ”Saya babat sendiri waktu pertama masuk ke sini. Saya merasa lebih nyaman dan senang melukis di tengah hutan,” kenang Amat, lantas tertawa.

Apalagi, lanjut dia, di situasi pandemi seperti sekarang, ruang gerak sangat terbatas. Amat memutar otak, bagaimana supaya dirinya tetap bisa melukis.

Meski beraktivitas di hutan, protokol kesehatan tak dilupakan oleh Amat di masa pandemi. Setiap kali ekspedisi, yang ikut bisa sampai enam orang. Semua jaga jarak. ”Ada dua anak kecil. Mereka pakai masker dan ditemani orang tua,” ucapnya.

Kecintaannya terhadap seni melukis tumbuh saat dirinya berusia 17 tahun. Kala itu, dia berkeinginan untuk meneruskan pendidikan seni murni di SMK Negeri 11. Sayang, impian tersebut harus dikuburnya dalam-dalam.

Keluarganya tak memiliki uang cukup untuk mendaftarkan namanya sebagai siswa di SMK Negeri 11. Amat terpukul. Rasa sedihnya menghujam tak berujung. ”Saya bertekad, suatu saat saya harus bikin sekolah melukis sendiri. Ekspedisi sunyi ini salah satu upaya untuk mewujudkan impian membuat sekolah meski skalanya masih kecil,” paparnya.

Saat ini, ekspedisi sunyi sudah masuk episode ke-25. Dia mulai masuk ke hutan dengan membawa peralatan melukisnya pukul 06.00. Goresan kuasnya berakhir sebelum azan Magrib berkumandang.

Menurut dia, alam memang memberikan pengalaman yang berbeda ketika melukis. Jika dibandingkan saat dirinya bercengkerama dengan kanvas serta warna-warni dari cat di studio, pikirannya lebih terbuka. ”Sikap menghargai alam dan mensyukuri apa yang telah didapat selama hidup juga muncul,” imbuhnya.

Selama menggelar ekspedisi, Amat tak pernah meminta sumbangan atau bayaran. Semua gratis. Alat dan bahan untuk melukis bisa bawa masing-masing.

Namun, tidak jarang, peralatan melukis disiapkan oleh Amat. ”Kalau lukisan saya ada yang laku, saya biasanya support untuk beli alat lukis,” ujarnya. Salah satunya media untuk melukis. Dia menyatakan tidak harus memakai kanvas. ”Ini pakai sarung,” katanya, lantas menunjukkan sarung yang dimaksud.

Dia mempersilakan siapa saja untuk bergabung ke ekspedisi sunyi. Tidak ada larangan. Asal dengan catatan, kuat mental dan fisik. Amat menilai, masuk ke hutan bukan urusan yang mudah.

Tak sedikit seniman yang lebih nyaman melukis di studio. Yang adem dan tidak ada nyamuk atau semut. ”Kalau di hutan? Banyak nyamuk, ada duri, atau gatel-gatel. Nggak bisa fokus, ada saja,” ucapnya.

Ada satu keinginan Amat. Yakni, mengadakan pameran tunggal setelah ekspedisi sunyi mencapai episode ke-50. Dia ingin masyarakat luar tahu Hutan Lobre. Di episode ke-27−28, dia juga berencana melukis bareng anggota lain di kanvas dengan lebar 1,5 meter dan panjang 3 meter. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads