Muhammad Hilbram, Bocah Tunanetra Peraih Beasiswa Musik ke Liverpool

Ingin Bertemu Pangeran William-Stevie Wonder

12/09/2018, 17:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Muhammad Hilbram (tengah), Bocah Tunanetra yang Dapat Beasiswa Musik ke Liverpool (FERLYNDA/JAWA POS)
Share this image

Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha. Muhammad Hilbram, 13, yang mencintai musik sejak kecil, kini mendapat undangan beasiswa musik ke Liverpool. Fisiknya yang berbeda bukanlah benteng untuk bakatnya. Dia terus mengembangkan sayap, meraih mimpi menjadi musisi.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

---

PERTENGAHAN bulan ini Ibam, sapaan akrab Hilbram, berangkat ke Liverpool, Inggris. Kota yang dianugerahi Kota Musik oleh UNESCO pada 2015 itu akan menjadi tempat belajar Ibam selama dua bulan.

Pertemuan Jawa Pos dengan Ibam terjadi 15 Juli lalu saat acara Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Remaja yang menyandang tunanetra tersebut menyanyikan lagu yang berjudul Untukmu Guru. Dia menyanyi sekaligus memainkan dua alat musik, keyboard dan saksofon.

Ibam tampil selama 15 menit. Ada dua lagu lain yang dibawakan Ibam. Selama itu, wartawan menghitung ada delapan kali audiens bertepuk tangan. Mulanya ada banyak kamera handphone yang merekam aksi Ibam. Namun, lama-kelamaan, kamera itu turun karena ada yang menyeka air mata, melipat tangan sambil menatap kagum. Ada juga yang menggoyangkan tangan mirip menonton konser. "Enggak grogi, sih," kata Ibam saat ditemui seusai acara.

Ibam memang tampak percaya diri. Jas abu-abu dan sorotan lampu serta tepuk tangan membuat dia bersemangat memainkan musik. Padahal, tak ada persiapan sama sekali untuk tampil di depan ratusan orang. Maklum saja, siswa kelas VII SMPLB A YPAB Surabaya itu memang sedang sibuk wira-wiri untuk mengurus keperluan ke Liverpool.

Penampilan Ibam malam itu cukup spesial. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang meminta langsung kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini agar Ibam tampil di kantornya.

Seminggu sebelumnya Ibam menyanyi dalam acara yang diadakan PW Muhammadiyah Jatim di Surabaya yang dihadiri Muhadjir. "Tawaran ke Liverpool kejadiannya juga seperti undangan Pak Menteri (Muhadjir)," kata Ibam.

Saat kunjungan Wali Kota Liverpool Gary Millar Maret lalu ke Surabaya, Ibam didapuk Risma—sapaan Tri Rismaharini—untuk tampil. Gary melihat bakat Ibam dan akhirnya menawari dia untuk mendapat beasiswa sekolah musik di kota kelahiran grup band The Beatles itu. Tawaran tersebut langsung diiyakan Ibam.

Ibam akan pergi bersama kakeknya, Jamdaris, dan guru SD Ibam yang pernah mendapatkan beasiswa ke London, Inggris. "Enggak bisa bahasa Inggris, tapi nanti ada Pak Zainul (guru SD Ibam yang akan ikut ke Liverpool, Red)," ucapnya.

Tidak hanya ingin belajar musik, Ibam juga ingin bertemu dengan Pangeran William dan Stevland Morris alias Stevie Wonder. Ketika ditanya alasannya, dia hanya penasaran seperti apa pangeran Kerajaan Inggris itu. Sedangkan Stevie Wonder merupakan salah seorang musisi idola Ibam.

Lalu disinggung soal keinginan Ibam setelah pulang dari Liverpool, dia ingin memiliki studio musik di rumahnya. Ibam ingin mengajak teman-temannya bermain musik di rumahnya, tak perlu menyewa atau terbatas hanya di sekolah. Penyuka rawon itu ingin membentuk grup band.

Ibam punya mimpi akan menjadi guru musik. Rizki Nuri, guru musiknya di SMPLB A YPAB Surabaya, yang menjadi sosok panutannya. "Bu Kiki (panggilan Rizki, Red) sudah nyanyi di luar negeri. Kalau keliling Indonesia sering juga. Jadi guru musik sepertinya asyik," katanya.

Bakat musik Ibam memang sudah terlihat sejak TK. Sejak usia belia Ibam telah gemar bermain keyboard. Twinkle-Twinkle Little Star adalah lagu pertama yang dikuasai Ibam. Sekarang dia sudah menguasai lebih dari 30 lagu Barat maupun Indonesia.

"Usia TK, ada yang menawari Ibam beasiswa musik selama satu tahun," kata Jamdaris yang ditemui pada saat yang sama. Dari sekolah musik itu Ibam belajar main piano yang benar. Hingga SD kelas IV Ibam terus mendalami piano.

Saat kelas IV SD itu bakat lain Ibam terlihat. Dia ditunjuk untuk mewakili kelas dalam lomba menyanyi, yang ternyata lomba untuk mewakili sekolah. "Ibam juara sampai provinsi. Mau ada acara nasional di Medan, tapi tidak jadi. Itu kalau tidak salah tahun 2014," ungkap pria kelahiran 1956 tersebut. Tahun lalu Ibam menyabet peringkat II pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Jamdaris juga menceritakan perkenalan awal Ibam dengan wali kota Surabaya pada 2014. "Ibam tampil di acara Hari Ibu di Tambaksari. Bu Risma melihat dan malamnya (Ibam) diundang ke balai kota," kenangnya.

Risma juga yang menyekolahkan Ibam untuk belajar saksofon. Risma juga yang menghadiahkan alat musik tiup tersebut. Sudah empat bulan Ibam belajar dan tiga lagu telah dikuasainya. "Niupnya susah. Tangannya juga kadang belum sampai," celetuk Ibam

Jamdaris-lah yang selama ini mendampingi Ibam. Termasuk untuk mengatur jadwal manggung cucunya. Dukungan kepada Ibam juga diberikan sekolahnya. Ryan Syuhadi, guru Bahasa Inggris yang mendampingi Ibam ke Jakarta, mengatakan bahwa sekolah memberikan kelonggaran belajar untuk Ibam mempersiapkan diri ke Liverpool.

"Namun, kami akan memberikan tambahan belajar ketika Ibam sudah pulang ke Surabaya. Kami tidak ingin membebani dia di awal karena dia pasti mempersiapkan banyak hal."

Menurut Ryan, sekolah sangat menghargai bakat Ibam. Namun, sekolah juga ingin mendorong studi akademisnya. "Kami berharap bisa sekolah juga di Unair atau universitas lain," katanya.

Muhadjir pun memberikan dukungan. "Saya undang Ibam karena tampil bagus sekali," puji guru besar Universitas Muhammadiyah Malang itu. Muhadjir ingin mengapresiasi anak-anak yang memiliki bakat istimewa.

(*/c9/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi