Hobi 'Gila' Koleksi Motor Antik (Habis)

Kerap Ditemui Penipu, Handoko Mengaku Ditulari 'Virus' Orang Tuanya

12/09/2018, 05:50 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
HOBI: Karyawan dari kolektor Handoko, saat merawat koleksi mobil. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

Perjuangan mengumpulkan barang antik biasanya tidak gampang dan penuh dengan lika-liku. Begitu pula dengan perjalanan David Sunar Handoko, 63, seorang kolektor asal Jogja sewaktu hunting motor tuanya hingga ke luar negeri. Kendati demikian, cita-citanya mendirikan museum akhirnya kesampaian juga.

Ridho Hidayat, Jogjakarta

JawaPos.com – Teka-teki hobi koleksi motor Handoko akhirnya terjawab sudah. Pria 63 tahun tersebut mengaku mendapatkan kegemarannya mengumpulkan benda-benda antik terutama motor klasik dari orang tuanya.

Selain menyalurkan hobi, Handoko juga bertekad menyelamatkan keberadaan motor tua di Indonesia. Hal itu menjadi tujuannya sejak awal menjadi seorang kolektor. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Virus itu pula yang menjadi tujuannya ke depan, untuk ditularkan kepada khalayak umum. Melalui museum yang mulai dirintisnya tahun ini. "Virusnya dari orang tua saya yang mobil antik. Virus itu yang ingin saya tularkan dan bisa menyenangkan banyak orang. Kebahagiaan yang sebenarnya kan dari dalam diri. Bisa menyenangkan orang lain," kata Handoko, Selasa (11/9).

Kini, publik yang hendak menikmati barang antik, khususnya koleksi mobil, motor, dan sepeda klasik dapat mengunjungi museum, sekaligus rumahnya di Jalan KH Ahmad Dahlan 88 Kota Jogjakarta.

Selain menyalurkan hobi, Handoko juga bertekad menyelamatkan keberadaan motor tua di Indonesia. Hal itu menjadi tujuannya sejak awal menjadi seorang kolektor. Jangan sampai, peringkat nomor 2 Indonesia di dunia sebagai negara paling banyak memiliki kendaraan jadul tidak bisa lagi ditemukan. "Supaya anak-cucu masih bisa melihatnya nanti," katanya.

Meski perjalanannya sebagai seorang kolektor banyak menemui hal tak mengenakkan, namun ia tetap melaluinya dengan santai. Dicontohkannya saja ketika berburu lukisan, selalu ada mafia yang bermain.

Kendati demikian, Handoko yang tak menceritakannya secara detail. Yang jelas, ia mengaku kerap bertemu dengan para penipu. Untuk menguji keaslian barang, ia pun memiliki trik tersendiri. "Kalau untuk lukisan, jika ragu keasliannya diajak untuk mengundang kurator saja. Kesepakatannya jika ternyata palsu, dibakar. Jadi orang tidak bisa menipu," ucapnya.

Selain dihadapkan dengan penipu, selama menjadi kolektor ini banyak tantangan yang dihadapi. Seperti perawatannya yang harus secara rutin dilakukan.

Untuk merawat motor antik tak kurang dari 300 unit, mulai dari Harley Davidson, Vespa, Lambretta, Indian dan sebagainya. Kemudian ada sepeda yang lebih dari 500 unit, dan mobil sebanyak 60, serta lukisan, arloji, maupun barang lainnya, ia membutuhkan 3 orang tenaga.

Mereka pun butuh pula untuk digaji, supaya bisa menghidupi keluarganya. Belum lagi beberapa karyawan yang membantunya. Kondisi ini pula yang diharapkannya bisa ada pemasukan melalui museum yang dibukanya. "(Tiket masuk) 40 ribu (rupiah) itu masih kecil. Di Belanda museum seperti ini (Rp) 225 ribu," katanya.

Belum lagi tantangannya untuk menyimpan seluruh koleksinya. Bangunan rumahnya saat ini yang terbilang cukup luas, dirasa sudah tak mampu lagi menampungnya. "Sekarang baru digambar (renovasi bangunan rumah). Supaya bisa memuat koleksi dan kunjungan nanti," kata Handoko, yang mengakui seharinya sudah ada 10-20 orang datang ke museumnya.

Lebih lanjut, Handoko berharap kegemarannya mengoleksi barang-barang antik dapat menjadi manfaat bagi orang lain, minimal orang-orang di sekitarnya. "Semoga saja bermanfaat," pungkasnya.

(dho/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi