JawaPos Radar

Kegigihan Ratna Eliza Merawat Anak-Anak Penderita Kanker di Aceh

12/09/2016, 10:34 WIB | Editor: fimjepe
Kegigihan Ratna Eliza Merawat Anak-Anak Penderita Kanker di Aceh
ANAK SURGA: Ratna Eliza (tengah) bersama anak penderita kanker dan relawan. (Bayu Putra/Jawa Pos)
Share this

Bagi anak-anak miskin di Aceh, kena kanker berarti menunggu mati. Ratna Eliza bersama C-Four berusaha membangkitkan mereka. Agar berani menjalani dan mengejar hidup.

 

BAYU PUTRA, Banda Aceh

 

TIDAK terlalu lama Dila Rina Arianti berlarian di dalam rumah singgah C-Four. Namun, tiba-tiba dia sudah membuka baju. Dia berteriak meminta air es untuk disiramkan ke tubuhnya. Dia kepanasan bukan kepalang.

Itu adalah efek kemoterapi yang dia jalani sehari sebelumnya di RS Zainoel Abidin Banda Aceh. Dia harus menjalani kemoterapi untuk melawan fibrosarcoma (tumor ganas) yang diidapnya.

Bagi Dila yang sekecil itu, apa itu fibrosarcoma tidaklah dimengerti. Yang dia tahu hanyalah ada benjolan sedikit lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa di bagian kanan wajah. Nyaris menutupi mata kanan bocah asal Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, itu.

Yang diketahui Dila adalah kepalanya kini botak tanpa sehelai rambut pun. Setelah enam bulan, dia bersama dua bocah penderita kanker lain tinggal di rumah singgah Children Cancer Care Community atau biasa disebut C-Four.

C-Four didirikan Ratna Eliza pada Januari 2014. Dia staf keuangan di sebuah SMA swasta di Banda Aceh. Awalnya, namanya Komunitas Peduli Anak Kanker (KPAK). Kemudian, pada Agustus 2015 nama KPAK diubah menjadi C-Four. Kini relawannya berjumlah 20 orang.

Munculnya C-Four berawal dari pertemuan Ratna dengan anak tetangganya, Annisa Alqaisya Funnari. Dia menderita kanker limfoma atau kelenjar getah bening. ”Saya pikir gondok, waktu itu saya belum pernah tahu itu kanker,” tutur perempuan kelahiran 28 Oktober 1974 tersebut.

Karena tetangganya itu kurang mampu, dia berupaya membantu mencarikan bantuan ke dinas sosial. Sebab, Annisa harus dirujuk ke RS Kanker Dharmais Jakarta. BPJS menanggung biaya perawatan hingga tiket pesawat, tapi tidak untuk biaya hidup selama di Jakarta.

Jawaban dari dinas sosial setempat membuat dia kecewa. ’’Mereka bilang tidak ada anggaran untuk anak kanker,’’ kenang ibu tiga anak itu.

Akhirnya, dia meminta bantuan kepada kawan-kawannya di Palembang. Dana pun terkumpul dan Annisa bisa berangkat ke Jakarta.

Awalnya, Ratna hendak ikut menyusul Annisa ke Jakarta. Namun, tiba-tiba dia mendapat informasi dari relasinya di Aceh tentang anak penderita kanker lain, Airan Barat. Dia menderita retinoblastoma (kanker mata). Matanya keluar. ’’Saya tidak kuat melihatnya,’’ kenang Ratna sembari menunjukkan foto Airan. Setelah tiga kali menjalani kemoterapi, Airan meninggal.

Ratna pun menangis seharian. Dia bahkan sempat menghujat Tuhan yang dianggapnya tidak adil terhadap Airan. Melihat Ratna menangis, sang suami Afrizal bersikap tegas. Afrizal memintanya berhenti membantu anak kanker bila memang tidak kuat. Ratna pun berhenti menangis dan menguatkan diri. Di tengah upayanya menguatkan diri, Annisa juga meninggal. Dia akhirnya down dan vakum beberapa bulan.

Dia kembali berkecimpung dengan kanker setelah mendapati anak tetangganya yang lain asal Bireun menderita kanker. Dia membantu mencarikan tempat tinggal selama di Banda Aceh. Kemudian, muncul lagi pasien lain bernama Rahmat asal Aceh Selatan yang menderita tumor ganas di kaki kanan.

Hingga saat ini, ada sekitar 50 orang anak yang pernah dan sedang ditangani Ratna dan para relawan C-Four. Sebanyak 25 di antaranya telah meninggal dunia. Problem utama dalam membantu pasien kanker adalah pendanaan. Memang, sebagian besar kebutuhan dana sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Namun, ada bagian lain yang tidak ditanggung. Termasuk biaya hidup selama masa perawatan pasien. Rata-rata anak yang ditangani Ratna berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka tersebar di berbagai daerah di Provinsi Aceh.

Ratna kemudian mencari dana lewat media sosial. Dia menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Foto-foto pasien ditampilkan dalam akun Facebook miliknya dan C-Four. Harapannya, ada relasi yang berempati dan tergerak membantu. ’’Tapi, saya tidak pernah cantumkan nomor rekening. Mereka yang ingin membantu akan langsung inbox (menghubungi secara personal) saya,’’ tuturnya.

Dari situlah, dia mendapatkan dana untuk membiayai perawatan dan biaya hidup keluarga pasien. Juga, mengontrak sebuah rumah dengan tiga kamar di kawasan Lambhuk, Banda Aceh, yang dijadikan rumah singgah. Pasien kanker anak dari luar Banda Aceh dipersilakan tinggal di rumah singgah selama masa perawatan.

Mencari kontrakan juga bukan pekerjaan mudah. Sebab, tidak semua orang bisa menerima pasien kanker. Suatu ketika dia sudah deal dengan pemilik rumah. Rumah akan digunakan sebagai rumah singgah kanker. Ternyata, tetangga rumah tersebut tahu dan protes ke pemilik rumah. Alasannya, mereka tidak nyaman tinggal dekat pasien kanker. Terpaksa, pemilik rumah pun membatalkan kontrak.

Kini rumah singgah itu dihuni tiga pasien kanker. Selain Dila yang ayahnya seorang kuli angkut pasir di sungai, ada Saldi Firmansyah, 4, penderita retinoblastoma asal Pulau Aceh. Ayah Saldi bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah kafe di Banda Aceh. Kemudian, ada M. Azril, bayi 13 bulan asal Lhokseumawe, penderita hidrosefalus dengan cairan di hidung.

Azril ditinggal pergi begitu saja oleh si ayah saat belum lahir. Karena itu, sang ibu Aminah mengaku tidak ingin bertemu lagi dengan suaminya yang tidak bertanggung jawab tersebut. Tiga anak itu sudah tinggal enam bulan di rumah singgah dan menjalani kemoterapi lebih dari sepuluh kali. Tumor Dila pun sudah mengecil.

Dia tidak hanya menampung pasien kanker anak. Dia juga mengupayakan perawatan dengan terapi paliatif. Dia mengajak anak-anak itu ke tempat wisata, berbaur dengan masyarakat umum. Dia ingin membuat para pasien senang meski mungkin itu merupakan perjalanan akhir hidupnya. Sekaligus ingin melihat, seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap anak penderita kanker.

Ratna sudah mahir membagi waktu antara keluarga dan para pasien kanker. Sang suami pun kini paham, kalau tidak di rumah, berarti Ratna sedang di RS atau rumah singgah. Dia memberikan edukasi kepada para orang tua untuk tetap kuat dan ikhlas. Juga, mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu ditinggalkan sang buah hati.

Ratna menuturkan, problem utama orang tua penderita kanker anak di daerah adalah edukasi. Rata-rata mereka tidak tahu bahwa yang diidap sang buah hati adalah kanker. Bukannya membawa ke rumah sakit, kebanyakan orang tua malah membawa anaknya ke dukun karena kondisi fisik anaknya yang berbeda.

Alhasil, tidak jarang penyakit sang anak malah makin parah. ’’Ketika di dukun katanya mereka disembur. Itu mulut dukun bersih atau tidak kan kita tidak tahu,’’ ucapnya. Karena itulah, penanganan medisnya menjadi terlambat. Rata-rata pasien kanker yang dia tangani sudah masuk tahap stadium lanjut. Kalau tidak ditolong lembaga seperti C-Four, bagi banyak anak pengidap kanker di Aceh, terjangkit kanker sama dengan menunggu mati menjemput. Mereka tidak mendapatkan pengobatan yang memadai.

Merawat pasien kanker bagi Ratna merupakan berkah. Dia yang dahulu paling bandel bila dibandingkan dengan empat saudaranya kini berubah setelah dekat dengan pasien kanker. ’’Orang tua saya saja heran, kok bisa jadi relawan,’’ tuturnya.

Ratna juga merasa kini mendapatkan banyak kemudahan. Saat awal menjadi relawan kanker, dia tidak bekerja. Lalu, dia berdoa agar bisa memperoleh pekerjaan. Sebab, dengan bekerja, dia akan punya relasi lebih banyak sehingga makin banyak yang bisa membantu pasien. Tidak berapa lama, dia diterima sebagai staf di sebuah SMA pada usia 40 tahun.

Bagi Ratna, bantuan uang dari donatur bukanlah hal utama. Dia malah lebih berharap para donatur itu mau singgah dan bertemu langsung dengan para pasien. ’’Saya minta mereka jangan ada yang menangis. Harus tersenyum saat bertemu, karena itu akan menguatkan anak-anak,’’ lanjut anak ketiga di antara lima bersaudara tersebut.

Anak-anak penderita kanker memberikan banyak pelajaran hidup bagi Ratna. Anak-anak itu mengajarkan agar yang hidup normal lebih banyak bersyukur. Menjalani hidup sebagai anak kanker bukanlah perkara mudah. Penderita kanker dewasa paham bahwa yang mereka idap adalah kanker. Namun, tidak jarang orang-orang dewasa itu merasa hidupnya berakhir dengan adanya kanker di tubuh mereka.

Tidak demikian halnya dengan anak-anak. Mereka tidak mengerti kenapa setelah disuntik, badannya panas dan rambutnya rontok. Juga, mengapa fisik mereka berbeda dengan teman-temannya, mengapa teman-teman menjauhi mereka. Karena itu, mereka menjalaninya seperti tanpa beban. ’’Mereka adalah anak-anak surga,’’ ucapnya lirih.

Dila dan Saldi asyik bermain dengan gembira. Dila masih bisa tertawa meski ada benjolan tumor di wajahnya. Saldi masih bisa berpose duck face saat Jawa Pos mengajaknya wefie. Padahal, mata kirinya akan diangkat setidaknya dalam dua bulan ke depan. Begitu pula Azril yang menatap lensa saat Jawa Pos menggendongnya untuk mengambil foto.

Tidak lama lagi C-Four menempati rumah singgah baru yang lebih besar. Ada dermawan yang bersedia melunasi sewa rumah dengan enam kamar untuk durasi dua tahun. Dengan demikian, bisa lebih banyak lagi pasien yang bisa ditampung. ’’Saya ingin ajak mereka ke Sabang biar merasakan naik kapal feri,’’ ujarnya. (*/c10/ang)

 

 

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up