Sembilan Hari Jalan Kaki Hanya untuk Serahkan Diri ke KBRI

12 Agustus 2022, 14:48:27 WIB

Masih banyak yang menganggap bekerja di luar negeri bakal mendatangkan kesuksesan. Tak sedikit yang nekat berangkat lewat jalur ilegal. Namun, yang mereka dapat adalah kisah pilu. Itulah yang dirasakan puluhan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Jatim yang dideportasi pada Rabu (10/8).

EDI SUSILO, Surabaya

ARIF Affandi tampak semringah meski dirinya masih ngantuk setelah perjalanan panjang 14 jam dari Jakarta ke Surabaya dengan menggunakan bus. Lelaki 47 tahun itu baru saja kembali ke tanah air. Setelah menjalani hukuman kurungan di penjara Imigrasi Malaysia.

Arif adalah satu di antara 50 PMI ilegal asal Jatim yang dideportasi. Setelah sempat menjalani pemeriksaan di satgas PMI pusat di Jakarta, dia dan rekan-rekannya dibawa ke UPT Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (UPT P2TK) Jatim di Surabaya. Sebelum akhirnya diantar pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Arif tertangkap pihak imigrasi saat bekerja sebagai pemetik bunga di Taman Putra, Sungai Bulu, Malaysia. Tak punya dokumen resmi, dia pun harus menjalani kurungan penjara selama setahun dua bulan. ’’Sudah nggak mau balik lagi. Kapok,’’ tuturnya saat ditemui Jawa Pos di UPT P2TK Disnakertrans Jatim pada Rabu (10/8).

Pria asal Surabaya itu mengaku trauma saat berada di penjara imigrasi. Memang, tidak ada kekerasan fisik yang dialaminya selama di penjara. Namun, menu rutin ikan rebus dan bentakan petugas jika melakukan kesalahan membuatnya kapok.

Arif berangkat ke Malaysia tiga tahun lalu. Dia menyusul sang istri yang lebih dulu bekerja di sana sebagai asisten rumah tangga (ART). Lantaran tak punya pekerjaan tetap, dia pun menyanggupi. Bermodal Rp 6 juta, dia berangkat menggunakan jasa agen dari Batam menuju negeri jiran dengan menggunakan kapal.

Alih-alih mendapat gaji besar, di sana upah yang diterimanya jauh di bawah upah minimum di Surabaya. Bekerja mulai pukul 08.00 hingga 18.00, Arif hanya mendapat upah sekitar Rp 3 juta per bulan.

Kondisi itulah yang membuatnya sempat cekcok dengan sang istri. Namun, karena telanjur basah, dia tetap bertahan selama satu setengah tahun. Sebelum akhirnya tertangkap petugas Imigrasi Malaysia.

Pengalaman berbeda diungkapkan Junianto, 40. Lelaki yang tinggal di Sedati, Sidoarjo, itu justru mendatangi KBRI Malaysia di Kuala Lumpur agar ditampung dan dipulangkan.

Itu semua dilakukan setelah dirinya baru menjajal kerja di Malaysia selama delapan hari. Saat bekerja di pabrik perabotan rumah, dia muntah-muntah. Badannya lemas dan tidak bisa bekerja. Saat itu dia ingin berobat ke rumah sakit.

Namun, pengobatannya ditolak karena tidak mempunyai izin sebagai pekerja di Malaysia. ’’Ditolak karena saya tidak punya permit. Tanpa itu, saya harus bayar biaya perawatan sendiri,’’ papar mantan sopir taksi itu.

Lantaran tak punya uang dan kondisi kesehatannya memburuk, Junianto memutuskan kabur dari pabrik tempatnya bekerja. Tujuannya satu, menuju ke KBRI agar bisa dipulangkan.

Karena tak punya ongkos, Junianto harus berjalan kaki dari Johor ke Kuala Lumpur. Perjalanan itu ditempuhnya selama sembilan hari. Selama perjalanan, dia hanya mengandalkan bantuan dari pekerja Indonesia di Malaysia yang ditemui di jalanan. ’’Termasuk kursi roda ini,’’ paparnya.

Saat ditemui Jawa Pos, kaki kanannya belum sembuh betul. Junianto belum bisa berjalan normal. Setelah pulang nanti, dia mengaku hanya ingin diurut supaya bisa berjalan normal kembali.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim Himawan Estu Bagijo yang mengawal pemulangan puluhan PMI itu berharap kisah-kisah pilu itu bisa menjadi pelajaran bersama. ’’Bahwa menjadi pekerja di luar negeri harus mempunyai izin dan surat lengkap. Agar kejadian seperti yang mereka alami tidak terjadi pada tetangga atau sanak saudara,’’ katanya. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c12/ris

Saksikan video menarik berikut ini: