Ikon-Ikon Pariwisata Nusa Tenggara Barat setelah Gempa

Kami Nggak Berani Buka

12/08/2018, 14:43 WIB | Editor: Ilham Safutra
Wisatawan asing ketika berliburan ke Lombok sebelum diguncang gempa (SIRTU/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)
Share this image

Dampak gempa bumi sangat memukul sektor wisata Nusa Tenggara Barat (NTB), baik di pulau, pantai, maupun gunung. Di Rinjani, banyak yang untuk sementara harus beralih pekerjaan.

RAGIL PUTRI I., Mataram-SYAHRUL YUNIZAR, Jakarta

Indahnyan Danau Sembalun di puncak Gunung Rinjani sebelum Lombok diguncang gempa berturut-turut. (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group)

---

WAJAH Gugun tampak lesu. Matanya kerap menerawang ke berbagai bangunan yang roboh di Gili Trawangan. "Ini nanti kayaknya bakal off sampai berbulan-bulan. Nggak tahu lagi deh nanti gimana," katanya lesu.

Bertahun-tahun pria 27 tahun tersebut menggantungkan hidup di pulau berjuluk Party Island itu. Bekerja di tempat persewaan peralatan selam. Tapi, yang didapatinya Kamis lalu (9/8) adalah pulau "mati". Ba­ngunan rusak berserak. Sepi.

Sebab, ribuan orang wisatawan, domestik maupun asing, telah dievakuasi dari sana sejak Senin (6/8). Atau sehari setelah gempa 7 skala Richter (SR) mengguncang Lombok, pulau di seberang Gili Trawangan. Yang diikuti peringatan tentang potensi terjadinya tsunami.

Gempa tersebut tak cuma menimbulkan kerusakan dan korban meninggal dalam jumlah masif. Tapi sekaligus juga sangat memukul sektor yang selama ini menjadi andalan NTB: pariwisata.

Tahun lalu sekitar 3 juta wisatawan mengunjungi NTB. Yang punya begitu banyak destinasi: mulai gili (pulau), pantai, sampai geopark.

Tapi, sejak gempa pekan lalu, ditambah gempa 6,4 SR sepekan sebelumnya (29/7), semua seolah ikut roboh. Di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), misalnya, banyak pelaku wisata terkait yang untuk sementara harus banting profesi.

Padahal, Agustus biasanya adalah "Lebaran". Ramai-ramainya para pendaki dari berbagai kota dan negara datang. Untuk menggapai puncak setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut itu.

Track organizer, porter, dan guide, semua sibuk. Tapi tidak kali ini. "Mereka kembali bertani. Itu pun dengan kondisi pulang ke rumah tidak berani diam di dalam, tetap di tenda," ungkap Rahadi Irawan, penggiat wisata sekaligus pendaki Rinjani, kepada Jawa Pos Jumat lalu (10/8).

Saat gempa 29 Juli lalu mengguncang Lombok, ratusan pendaki terperangkap di sekujur Rinjani. Setelah semua berhasil dievakuasi, Rinjani pun ditutup dari pendakian. Guncangan gempa sepekan kemudian membuat Rinjani kian "tertutup". Sebab, Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur yang jadi pintu masuk terdampak paling parah.

Menurut Adi, sapaan Rahadi Irawan, banyak pula rekan seprofesi di antara mereka yang memilih turun ke Mataram, ibu kota NTB. Mencoba mengais rezeki dari destinasi wisata lain. Namun, kondisinya sama saja. "Info dari rekan-rekan yang bergerak di wisata, banyak tamu yang cancel untuk perjalanan ke Lombok," ucapnya.

Yang disampaikan Adi memang sejalan dengan yang disaksikan Jawa Pos. Di Senggigi, pantai populer di Lombok, pada Kamis lalu, tak sedikit hotel atau tempat penginapan yang memilih tutup. "Hanya plafon yang rusak. Tapi, kami nggak berani buka, harus direnovasi dulu," ungkap Vivi Siregar, pemilik vila di Senggigi.

Vivi belum sempat menghitung kerugian yang dialami. Namun, dia maupun pemilik usaha lain perlu waktu berbulan-bulan untuk renovasi. "Kami harus pastikan kondisi aman dulu. Mudah-mudahan saat Natal sudah bisa kembali normal," harapnya.

Tapi, di balik segala kesulitan itu, upaya untuk bangkit terus dilakukan. Kepala Seksi Wilayah II Balai TNGR Rio Wibawanto mengatakan, pihaknya bakal kembali bergerak untuk menyusun langkah dan strategi pascagempa. Termasuk di antaranya mengumpulkan masyarakat yang selama ini mengais rezeki melalui wisatawan yang datang ke Gunung Rinjani. "Ada banyak, hampir seribuan," imbuh Rio.

Apabila tidak ada kendala, Senin (13/8) mereka bakal kembali fokus mengurusi TNGR. Sebab, pekerjaan sudah menumpuk. Menurut Rio, banyak hal yang perlu dievaluasi. Termasuk rencana menambah sejumlah fasilitas di jalur pendakian Gunung Rinjani. "Mungkin ada revisi-revisi anggaran. Karena harus ada yang disesuaikan," ujarnya.

Balai TNGR tidak ingin lumpuhnya aktivitas di Gunung Rinjani berlangsung lama. Tapi, mereka juga tidak boleh gegabah. Semua harus diperhitungkan dengan matang. Jangan sampai malah memperkeruh keadaan.

Di Gili Trawangan, H Dani, pemilik persewaan kapal, juga tak sabar untuk membuka lagi usahanya. "Tapi, untuk saat ini, yang penting selamat dulu," tuturnya. 

(*/c9/ttg)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 12/08/2018, 14:43 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 12/08/2018, 14:43 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 12/08/2018, 14:43 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi