alexametrics

SBY Mengenang 40 Hari Kepergian Ani Yudhoyono

Alihkan Sedih dengan Buku dan Pingpong
12 Juli 2019, 14:58:29 WIB

Empat puluh hari berlalu. Duka masih dirasakan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas kepergian sang istri, Ani Yudhoyono. Mengabadikan kenangan manis mereka, SBY mempersiapkan sebuah buku memoar. Sementara judulnya Aku Ingin Pulang.

UMAR WIRAHADI, Bogor

”TERUS terang, kondisi saya belum stabil,” ucap SBY sebelum memulai sambutannya dalam acara tahlilan 40 hari meninggalnya Ani Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Rabu malam (10/7). Pidato selama setengah jam itu lebih tepat disebut sebagai curahan hatinya yang masih didera rasa kehilangan.

Mengenakan kemeja putih polos, celana kain hitam, plus peci yang berwarna senada, Ketum Partai Demokrat itu terlihat seperti kurang bertenaga di hadapan para tokoh serta ribuan orang yang datang. Raut mukanya datar. Berdirinya tak setegap biasanya.

Hanya gaya pidatonya yang tetap sama dengan ketika dirinya menjabat presiden. Bicaranya tenang, runtut, dan tertata. Juga tersisip sejumlah kalimat bijak. Para tokoh yang sebagian besar merupakan menteri dan pejabat di era pemerintahannya menyimak khusyuk.

SBY diapit dua putranya. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) duduk di sisi kiri. Di kanan, ada Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Sementara itu, foto Ani Yudhoyono dengan pose anggun terbingkai di pigura besar di dekatnya. Satu mengenakan kebaya merah. Satu lagi berkerudung putih. Sang Flamboyan -sebutan SBY untuk Ani Yudhoyono- sedang tersenyum.

Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang 40 hari setelah kepergian sang istri, almarhum Ani Yudhoyono. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

SBY berpidato dengan membaca teks. Dia ingin yang dirasakannya hari-hari ini bisa tersampaikan secara utuh kepada publik. “Dengan menggunakan teks, saya bisa menjaga emosi saya,” katanya.

Kakek empat cucu itu mengungkapkan, banyak yang penasaran dengan aktivitasnya saat ini. Terutama setelah belahan jiwanya tiada. Diceritakan, dia dan anggota keluarga lain dalam tahap penyembuhan. “Saya sedang mengatasi rasa duka dan kehilangan yang amat dalam,” ungkapnya.

Sebagai manusia biasa, dia mengaku sulit melupakan almarhumah. Banyak kenangan bersama Bu Ani berkelebat di hadapannya. Menjalani hidup bersama selama 43 tahun tentu bukan waktu yang pendek. “Meski sudah 40 hari istri tercinta berpulang, saya belum bisa membebaskan diri dari rasa duka dan kehilangan yang saya alami,” tutur dia.

Presiden ke-6 RI itu mengaku terus berusaha menata hati. Kembali membangun semangat dan jalan hidup baru. “Saya sedang reinventing my new life,” ucapnya.

Salah satu yang tidak bisa terlepas dari memorinya adalah hari-hari terakhir mendampingi Bu Ani dirawat di National University Hospital (NUH) Singapura. Seluruh masyarakat tahu, papar dia, selama empat bulan penuh dirinya berada di sisi istri tercinta. Kegiatan politik bukan lagi fokus utama. “Itu momen-momen yang tidak bisa saya lupakan,” tutur SBY.

SBY ingat, meski terbaring lemah, Bu Ani sebisanya membalas pesan dari masyarakat. Mulai lewat WhatsApp, Instagram, maupun YouTube. Semua mendoakan agar mantan ibu negara itu tabah dan segera sembuh dari kanker darah yang diderita. “Meski sedang sakit, beliau menyempatkan diri menjawab dengan ucapan terima kasih,” tambahnya.

Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang 40 hari setelah kepergian sang istri, almarhum Ani Yudhoyono. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Bu Ani, kenang SBY, juga kerap meminta dirinya membacakan surat-surat yang masuk. Kadang SBY pun diminta untuk meng-update berita dari tanah air. Padahal, saat itu Bu Ani menjalani transfusi darah dan kemoterapi. Untuk mengenang masa-masa itu, SBY menyiapkan sebuah buku memoar. “Melalui memoar ini, saya ingin mengabadikan kenangan indah atau sweet memories bersama istri tercinta. Utamanya pada hari-hari terakhir saya bersamanya,” ucap SBY.

SBY bilang, banyak yang ingin dia tulis. Namun, ternyata tidak mudah. Bukan karena kesulitan merangkai kata dan kalimat. Tapi pada menata hati. Beberapa kali SBY mencoba untuk fokus menulis, sosok Ani Yudhoyono tiba-tiba berkelebat di benaknya. “Ketika perasaan dan emosi saya sedang pasang dan surut. Up and down,” ucap tokoh yang juga dikenal pintar menciptakan lagu itu.

Untung, SBY dikelilingi banyak orang. Terutama para fungsionaris Partai Demokrat. Salah seorang yang sangat dekat dengannya adalah Hinca Panjaitan, Sekjen Partai Demokrat. Hinca mengatakan rajin mendampingi SBY. Termasuk saat ini, ketika proses penulisan buku memoar.

Rencananya, buku itu diluncurkan 9 September, bersamaan dengan ulang tahun ke-70 SBY dan HUT Partai Demokrat. SBY memberi judul bukunya Aku Ingin Pulang, Hari-Hari Terakhir Ani Yudhoyono. “Itu judulnya. Mudah-mudahan tidak berubah,” kata Hinca.

Menggarap buku juga bisa menjadi pengalih kesedihan. Supaya tidak terlalu banyak berpikir. Meski yang terjadi justru sebaliknya. SBY bisa kembali sedih ketika tiba-tiba teringat sang istri. Jika sudah sangat rindu, SBY akan berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Di pusara istrinya, dia membacakan doa dan surah Yasin. “Kalau sudah begitu, akan membaik,” ujar Hinca.

Kegiatan lainnya adalah mengajak anak buahnya bermain tenis meja. Biasanya saat sore. Olahraga itu menjadi hiburan hati. “Atau melihat kami main (tenis meja, Red), beliau sudah senang,” tutur Hinca.

SBY juga mulai menjalani lagi aktivitas politik. Kemarin dia mengumpulkan pengurus DPD Partai Demokrat se-Indonesia di kediamannya. Mereka diminta untuk menyerahkan laporan tentang penyelenggaraan pemilu lalu di daerah masing-masing. Pembicaraan untuk kalangan internal. Namun, itu bisa menjadi penanda bahwa SBY kembali aktif di dunia politik.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ayi)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads