alexametrics
Yang Tersisa dari Kebakaran di Margorukun

Masuk Rumah Penuh Asap, Hanya Bisa Selamatkan KK

12 Juli 2019, 20:49:59 WIB

CERITA-cerita pilu membekas dari para korban kebakaran di Margorukun pada Rabu (10/7). Mulai harta benda yang hangus hingga ludesnya tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Namun, mereka yakin bisa segera bangkit.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Sembari merapikan alas tidurnya, mata Kasri berkaca-kaca ketika memandangi kartu keluarga (KK) yang tergeletak tidak jauh dari posisi duduknya kemarin (11/7). Kertas putih itulah satu-satunya berkas yang bisa dia selamatkan dari peristiwa kebakaran di Margorukun Gang Lebar, Gundih, Bubutan, pada Rabu (10/7).

Tak lama kemudian, perempuan paro baya itu mengajak kedua anaknya (Herman, 27; dan Alfia, 21;) bercakap-cakap di aula Kampung Ilmu, Jalan Semarang. Tak terdengar apa yang mereka bicarakan. Namun, dari ekspresi muka ketiganya, tergambar kesedihan. Bahkan, Herman, sang anak sulung, meneteskan air mata di sela-sela percakapan. Rupanya, pria itu baru saja dipecat dari pekerjaannya. ”Musibah kok datang bersamaan begini, ya Allah,” ucap Kasri memeluk Herman Kebakaran hebat itu memang menyisakan pilu. Ada banyak harta benda Kasri yang hangus. Termasuk jerih payahnya selama menjaga warung kopi. ”Saya sedih. Ada uang yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Berbulan-bulan lamanya. Semuanya hangus. Padahal untuk bayar utang,” tuturnya pelan. Lalu, menyeka air mata.

Rumah Kasri bersama 20 rumah lainnya ludes terbakar dalam peristiwa tersebut. Kasri dan dua anaknya kebetulan tidak berada di rumah saat kebakaran hebat itu. ”Saya sedang kerja. Dua anak saya juga kerja,” tuturnya. Dia baru tahu setelah seorang tetangganya berlari sembari berteriak. ”Rumahmu kobong. Ayo ke sana,” ucap Kasri menirukan teriakan tetangganya tadi.

Tanpa pikir panjang, Kasri berlari ke lokasi kebakaran. Dia lekas masuk ke rumah kecilnya. Api sudah berkobar tak keruan. Asap hitam menggulung-gulung di gang sempit itu. ”Saya panik. Saya bingung harus apa. Makanya hanya bisa menyelamatkan KK tadi,” katanya.

Kini Kasri hanya bisa pasrah dengan keadaan rumahnya yang jadi arang. Begitu pula uang yang seyogianya digunakan untuk membayar utang. ”Saya ikhlas. Ini semua pasti ada hikmahnya,” ungkapnya.

Puing-puing rumah yang terbakar di Margorukun Gang Lebar, Gundih, Bubutan, kemarin. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

Kasri mengaku sudah merasa lebih baik kemarin. Terutama ketika mendengar cerita-cerita tetangga yang senasib dengan dirinya. ”Kita sama. Harta saya juga ludes. Tak bersisa,” kata Misnah, warga lain, sembari menguatkan Kasri. Perempuan 61 tahun itu kehilangan sejumlah uang yang telah ditabung bertahun-tahun. ”Uang itu saya sisihkan dari hasil penjualan warung,” tuturnya.

Saat kebakaran, Misnah hanya membawa uang Rp 2 ribu. ”Itu pun yang saya kantongi. Semuanya ludes,” ungkapnya. Dia memang sedang sendirian saat terjadi kebakaran. Anaknya, Mahmudi, sedang bekerja. Karena sudah tidak kuat melangkah, dia tak bisa menjangkau surat-surat di lantai 2 rumahnya. ”Saya hanya masuk ke lantai 1. Itu pun tidak bisa menyelamatkan jualan,” tambahnya.

Kini harta Misnah tinggal baju yang melekat di badan. Sandal yang baru dibelikan anaknya pun ikut hangus. ”Padahal, saya simpan. Saya pakai kalau ada acara saja,” kata Misnah sembari mengusap-usap matanya.

Sejumlah petugas memberi mereka terapi psikologis. Di samping itu, bantuan berdatangan. Ada yang memberikan perlengkapan tidur, sembako, dan busana layak pakai.

Mereka yang mengungsi di Kampung Ilmu juga merasa tak sendiri. Rupanya saat malam, banyak sanak famili yang berdatangan. Mereka bercerita tentang peristiwa tersebut, termasuk hal-hal lain. Lewat cara itu, perlahan trauma warga terkikis. ”Alhamdulillah. Kami memang terbantu. Kami pasti bangkit,” ucap keduanya, lantas tersenyum.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads