JawaPos Radar

Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (2)

Tumpahkan Emosi Karena Dikucilkan Keluarga

12/07/2018, 13:15 WIB | Editor: Ilham Safutra
Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (2)
MENYESAL: Ani sangat sedih karena terbayang anak sulungnya yang tewas di tangan sendiri. (Dian Ayu Antika Hapsari/JawaPos.com)
Share this

Saban hari Ani Musrifah menahan tangis dalam hati. Hidupnya merasa sendiri. Punya sanak saudara tapi tidak bisa dijadikan sebagai tempat bertenggang rasa. Jangankan untuk mengadu, dianggap saja tidak. Rasa-rasa seperti itulah yang dia tahankan setiap harinya, sampai pada akhirnya perempuan 40 tahun itu khilaf dan menumpahkan emosinya kepada Syaiful Anvar. Dan, putra sulungnya itu pun meregang nyawa.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Masih dengan sesenggukan dan berurai air mata, ibu yang kini menyandang status tersangka itu melanjutkan kisahnya. Jauh sebelum kejadian nahas itu penjual bakso itu kerap tidak mendapatkan perlakuan adil dari saudara iparnya.

Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (2)
MENTERENG: Rumah tempat tinggal Ani Musrifah. (Dian Ayu Antika Hapsari/JawaPos.com)

Contohnya, aku Ani, ketika dimemiliki barang baru, lantas saudaranya itu ramai-ramai mempergunjingkannya. Yang membuat hatinya gunjingan itu sampai ketelinganya. Apalagi pembicaraan mereka bernada ghibah.

Ani dengan beberapa saudaranya memang tinggal tidak berjauhan, yakni di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Nah, ketika dia lewat, maka tiga saudara iparnya berujar yang penuh dengan nada sindiran.

"Saya sampai pernah tidak keluar rumah selama satu bulan. Takut diomongin yang macam-macam, disindir dengan kalimat yang tidak enak di hati," akunya kepada JawaPos.com.

Kondisi itu berimbas pada saudara Ani yang tinggal agak jauh. Mereka kalau ingin bertamu ke rumah Ani terpaksa harus diam-diam. Hal itu menunjukkan sikap kucing-kucingan satu sama lain keluarga istri dari Marliad itu. Contohnya harus masuk dari pintu belakangan.

"Takut kalau ketahuan sama ipar saya yang rumahnya depan itu. Takut dikucilkan juga," kata dia. "Kalau saya salah, beri tahu secara baik-baik, dudukkan. Ngomong dengan enak. Tapi ini nggak pernah, malah dikeroyok, dituding-tuding," sambungnya penuh sesenggukan.

Kondisi ini alami Ani selama tiga tahun. Awalnya, ketiga saudaranya tidak seperti itu. Mereka biasa saja. Namun, perubahan dialami ketika Ani memperbaiki rumahnya hingga bagus. Untuk ukuran desa yang berada cukup jauh dari jalan raya dan perkampungan penduduk lainnya, kediaman Ani bisa dikatakan mentereng.

Bercat kuning dominan ungu, membuat rumahnya tampak paling indah dibandingkan dengan bangunan lainnya.

Bahkan ketika disambangi JawaPos.com pada Juni lalu, rumah Ani harus ditempuh dengan melewati kebun tebu. Hanya ada satu akses jalan ke rumaah itu. Sejak memperbaiki rumah itu, Ani merasa tidak pernah lagi dianggap ada. Ketika ada kegiatan, tidak pernah dilibatkan. "Saya merasa dikucilkan," ungkapnya.

Mengalami perlakuan ini, Ani tidak memiliki tempat untuk berbagi. Suaminya, Marliad, 40, yang sehari-hari berdagang bakso di kecamatan lain tidak sempat mendengarkan curhatannya. Sebab sang suami pulang sekali dua hari.

"Lagi pula saya sungkan mau cerita. Nikah dengan suami saya itu, tidak disetujui keluarga. Pernah saya cerita, ibu saya bilang ini adalah konsekuensi yang harus saya tanggung," katanya.

Atas respons dari ibu mertua itu, Ani begitu emosi, stres, dan galau. Perundungan yang dialami itu terus menerus dipendam sendiri. Hal ini membuatnya jadi pribadi yang mudah emosi dan mudah tersinggung.

Anak dan suami kerap menjadi sasaran kemarahan. Bahkan suaminya pun dipukuli. Di sisi lain, Marliad selaku suami tidak balas perbuatan istrinya itu. Seolah paham bahwa istrinya butuh pelampiasan untuk luapkan emosi. "Suamiku sepertinya mengalami luka cakar dariku," ungkapnya.

Pun ketika anaknya menangis karena mendapatkan perlakuan kurang adil dari saudaranya, emosi Ani pun tersulut. Lantas Syaiful jadi sasaran pelampiasan kemarahannya. "Emosi saya numpuk, nggak ada yang bus diajak cerita. Benar-benar sendiri. Jauh keluarga. Suami dan anak yang kerap jadi sasaran," katanya.

Dia pernah mengeluhkan kondisi ini kepada Marliad dan meminta pindah. Namun, tidak diindahkan. Alasannya, tidak perlu menggubris perkataan orang.

"Tapi kan yang mengalami setiap hari saya, Mbak. Saya sampai nggak berani keluar. Karena takut dibicarakan yang macam-macam," katanya.

Ani mengakui, sosok Marliad adalah suami yang baik. Hampir tiap jadwal besuk, dia datang menemui Ani. Saat bertemu, Marliad menguatkan Ani agar tanah dan sabar hadapi masalah ini. "Suami saya yang menguatkan saya. Nggak menyalahkan saya. Dia bilang bisa menerima dan hal ini sebagai musibah," ujarnya sembari menyeka air mata.

Kini semua telah berlalu. Ani sudah menjadi salah satu penghuni hotel prodeo Polres Malang. Sekali dua hari dia berharap dibesuk sang suami agar dikuatkan. Sang buah hati pun sudah tiada. Dia hanya berpikir berpikir bagaimana menjalani proses hukum ke depannya. (habis)

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up