JawaPos Radar

Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (1)

Selalu Ingat Syaiful yang Rajin Mengaji

12/07/2018, 07:35 WIB | Editor: Ilham Safutra
Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (1)
MENYESAL: Ani menangis saat cerita soal anaknya. (Dian Ayu Antika Hapsari/JawaPos.com)
Share this

Masih ingat dengan kisah Syaiful Anvar, warga Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang? Bocah delapan tahun itu meninggal di tangan ibu kandungnya, Ani Musrifah. Kini perempuan 40 tahun itu memang tengah mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dengan menyandang status tersangka. Akan tetapi, di balik perbuatan brutal itu, Ani Musrifah masih memiliki nurani keibuan. Buktinya dia merasakan penyesalan mendalam akibat perbuatan emosionalnya.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Rabu siang (11/7) Ani sudah terlihat bisa tersenyum. Walaupun tipis, tapi seulas senyum itu menunjukkan dia sudah membuka diri terhadap kehadiran orang luar meskipun hanya kepada orang-orang tertentu. Akan tetapi ketika berada di dalam ruangan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang itu, senyuman itu tidak bisa menyembunyikan rona kesedihan. Ada rasa penyesalan yang ditunjukkan dari gurat wajahnya. Sorot matanya sayu, langkahnya gontai dan beberapa kali menunduk.

Cerita Si Ibu di Balik Pemukulan terhadap Anaknya Hingga Tewas (1)
MENYESAL: Ani menangis saat cerita soal anaknya. (Dian Ayu Antika Hapsari/JawaPos.com)

"Fisik saya memang sehat, nggak pusing atau apa. Tapi hati ini, Mbak," ungkapnya yang sesegukan saat memulai pembicaraan dengan JawaPos.com.

Dengan nada suara yang berat, perempuan asal Lamongan itu berusaha untuk menumpahkan cerita di balik apa yang dirasakan setelah kematian buah hatinya di tangan sendiri. Secara fisik dirinya memang sehat, tapi batinnya tidak terkatakan.

Betapa tidak, Ani masih terbayang ketika mengantarkan anak sulungnya itu ke sekolah maupun mengaji. Yang lebih menyedihkan lagi ketika hari-harinya menyiapkan makanan untuk sang buah hati.

"Saya ingat ketika menyiapkan makan. Dia paling senang mi dikasih telur. Nggak rewel soal makanan," katanya mengenang anak pertamanya dengan suara bergetar bercampur tangis.

Jika bayangan itu hadir, Ani menangis sejadi-jadinya. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung. Seperti saat bercerita kepada JawaPos.com air matanya pun tumpah. Tak peduli lagi bagaimana air mata membasahi pipinya.

Kini nasi sudah jadi bubur. Yang ada hanya penyesalan. Ani bersusaha mengusir rasa bersalah itu dengan mendekatkan diri pada Ilahi. Salat lima waktu tidak luput lagi. Waktu luang dimanfaatkan dengan mengaji.

Memang pasca kejadian itu Ani memiliki waktu luang. Dia tidak bisa tidur. Hari-harinya dibayang-bayangi rasa bersalah. Untuk mengusir rasa bersalah itu dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengaji dan mengerjakan salat sunah di samping salat wajib. "Saya isi kegiatan positif terus, agar tenang pikiran saya. Alhamdulillah lebih tenang," ujar membetulkan jilbab hijaunya.

Sebetulnya, kata Ani, Syaiful adalah anak yang pendiam, baik, dan tidak neko-neko. Hobinya selain bersepeda juga mengaji. Bahkan sebelum dinyatakan meninggal dunia, Rabu (20/6) dini hari, Syaiful sempat mengkhatamkan bacaan Alquran. Tercatat sudah tiga kali dia khatam. "Kalau berangkat mengaji, dia senang. Semangat sekali. Anaknya baik, Mbak," katanya dengan berurai air mata.

Mengaku anaknya adalah bocah yang baik, pendiam dan gemar mengaji. Lantas apa yang membuat Ani begitu brutal dalam menghajar Syaiful, menggunakan gayung mandi?

Sebelumnya, JawaPos.com menulis, Ani marah karena Syaiful ketahuan mencuri uangnya sebesar Rp 51 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli layangan.

Selasa (19/6) sore, Ani kehilangan uangnya. Ternyata diambil oleh anaknya sendiri. Ketika ditanya, Syaiful yang usai mandi juga pulang dalam kondisi kotor usai main layangan. Ani marah dan melayangkan pukulan bertubi-tubi hingga anaknya kejang dan meninggal dunia saat dirawat di RS.

Kembali soal alasan Ani memukul anaknya secara membabi buta, dia mengaku tidak marah kepada anaknya. Dia menegaskan, anaknya tidak salah. Hanya saja, perempuan bertubuh bongsor itu mengaku dalam kondisi tertekan. Emosi yang meluap kala itu adalah tumpukan perasaan yang dia pendam selama tiga tahun.

"Bukan ke anaknya, tapi ke lingkungan sekitar. Ke lingkungan tempat saya tinggal. Saya mendapatkan tekanan sosial," katanya dengan tergugu dan kemudian menelungkupkan wajah di lipatan lengan.

Tertekan Dengan Lingkungan Sosial

Ani berkisah, dia mengalami ketidakadilan dalam kehidupan sosial. Tetangga yang masih saudara iparnya memperlakukan dirinya dengan tidak baik. Ani merasa dikucilkan.

"Saya dianggap nggak ada. Kalau saya tanya, dijawab dengan nada tinggi. Misal salah, nggak pernah dikasih tahu secara baik-baik, malah dikeroyok," ceritanya.

Sebagai contoh, ketika di kampung warga bersama-sama menengok bayi. Ani mengajak saudaranya itu untuk jalan bersama, tapi dijawab dengan ketus. Rupanya, para saudaranya pergi sendiri. Ani ditinggal. Kondisi ini tidak hanya sekali dua kali, namun sering. Bahkan, pengucilan ini juga menimpa anaknya yang almarhum itu.

"Saudara saya kan punya anak seumuran almarhum. Kalau berangkat ngaji, anak saya ngajak dibilang iya. Ternyata ditinggal," kisahnya.

Selain itu, perlakuan yang diterima pedagang bakso itu kala ada acara keluarga, Ani tidak pernah dilibatkan. Saudaranya ikut secara diam-diam di belakang Ani. Alias selalu kucing-kucingan. (bersambung)

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up