JawaPos Radar

Bertahan di Tengah Letusan Gunung Merapi

12/05/2018, 02:21 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Nyadran Warga Lereng Merapi
Usai nyadran, warga lereng Merapi makan bersama di Masjid meski juga ditemani rintik hujan abu vulkanik (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00 WIB, Jumat (11/5) di pelataran Masjid Al-Himah di Dusun Ngrangkah, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan. Mereka sengaja berkumpul untuk melakukan kegiatan nyadran.

Acara pun dilakukan dengan beramai-ramai memakan nasi berkat usai berkegiatan. Nasi dengan disandingkan berbagai lauk-pauk dan ditemani dengan buah-buahan komplit. Warga yang lahap makan, selalu menawari mereka yang baru datang untuk ikut makan bersama.

Meski masih pagi, namun cuaca sudah cukup panas karena hampir tak ada awan yang menyelimuti di langit untuk membuat teduh. Hanya, masih terasa rintik hujan debu vulkanik sisa asap yang dikeluarkan oleh Merapi.

Nyadran
Warga makan bersama usai nyadran di lereng Gunung Merapi, Jumat (11/5). (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Debu vulkanik memang cukup terasa pekat di wilayah ini. Karena terletak tak sampai 4 kilometer jaraknya dari pucuk Merapi. Lokasi bekas hunian warga yang berada di zona merah atau Kawasan Rawan Bencana (KRB) III ini memang masih digunakan aktivitas warga setempat.

Terutama untuk mengais rezeki dengan menjadi pelaku wisata Lava Tour. Warga juga masih bercocok tanam di lahan lamanya, menanam kopi atau rumput untuk pakan ternaknya.

Selain itu, warga pun sesekali mendatangi makam untuk melestarikan budaya. Mengirim doa ke leluhur, terutama saat tanggal Ruwah (tanggalan Jawa) beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadan.

Seperti yang dilakukan pada Jumat (11/5) pagi oleh Sri Rahayu, 43, warga yang saat ini tinggal di Hunian Tetap (Huntap). Peristiwa letusan freatik itu memang sempat membuatnya panik.

"Tadi pas letusan itu langsung lari. Banyak, hampir semuanya lari ke tempat yang aman. Tapi setelah ada yang bilang aman, jadi dilanjutkan Sadranannya (doa ke makam leluhur)," katanya.

Badiman, Ketua Paguyuban Masyarakat Kinahrejo yang juga ikut dalam acara itu mengatakan, letusan freatik itu memang membuat warga banyak yang langsung turun ke lokasi aman.

"Ini yang namanya guyub (makan bersama-sama). Tadi malam sudah tahlilan, ini ngirim doa, habis itu makan bersama di masjid. Tapi ada juga yang belum sempat doa. Kembang (bunga) saya masih dikuburkan belum ditabur, terlanjur turun tadi (karena ada letusan)," ucapnya.

Menurutnya, mitigasi masyarakatnya memang semakin baik. Setiap ada indikasi Merapi bergejolak, responnya pun langsung cepat untuk mencari tempat aman. "Berbeda lah daripada dulu," paparnya.

(dho/JPC)

Alur Cerita Berita

Sehari, Merapi Sudah Dua Kali Erupsi 12/05/2018, 02:21 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up