alexametrics

Siswa SMK Dr Soetomo Magang jadi Kru Film Kartolo Numpak Terangbulan

12 Februari 2020, 20:48:02 WIB

Kartolo Numpak Terangbulan bakal tayang di bioskop. Film bergenre komedi itu akan menampilkan Kartolo, legenda ludruk Jatim, sebagai pemeran utama. Proses produksinya dibantu siswa-siswa SMK. Ya, belajar. Ya, praktik.

EDI SUSILO, Surabaya

Memegang papan clapper, Mohammad Zeciamani bersiap menunggu aba-aba. ”Rolling, kamera, action,” teriak salah seorang kru film di sebuah rumah tua di Jalan Ubi, Wonokromo, kemarin. Aba-aba itu segera disambut Mani, sapaan akrabnya, dengan memberi jawaban. ”Slate 291, take 2,” ucapnya sambil menutup clapper yang menganga. Suaranya pun terdengar khas. ”Klak.”

Perintah itu menandai pengambilan gambar dimulai. Dua pemeran langsung beradu akting. Adegan yang tidak sampai satu menit tersebut berakhir dengan sang aktor yang mengibaskan tangan karena kepanasan. Memegang panci berisi air panas yang dipegang artis perempuan.

”Take 2 ini diambil karena take 1 sutradara belum puas. Jadi, harus diulang,” ucap Mani, siswa jurusan film di SMK Dr Soetomo Surabaya. Dalam film berjudul Kartolo Numpak Terangbulan itu, dia menjadi clapper man Mani tidak sendiri. Di lokasi syuting itu, puluhan orang berkumpul. Masing-masing punya peran. Termasuk teman-teman satu jurusannya. Di antaranya, Sofyan Wijaya. Siswa kelas XI tersebut sedang ngaso di sebuah gudang tempat syuting berlangsung. Sambil mengunyah pentol, sesekali dia menyeka keringat. Kemarin siang dia baru selesai memasang set lokasi syuting. Dia bertugas sebagai tukang lighting.

”Mulai kerja sekitar pukul 10.00,” ucapnya saat ditemui Jawa Pos. Sekitar 1,5 jam dia membantu menata lampu untuk pencahayaan. Bertugas sebagai tukang lighting, kata dia, gampang-gampang susah. Gampangnya kalau posisi lampu berada di dalam ruangan. Susahnya saat harus memasang lampu di atas dan di luar ruangan. ”Sempat ditegur (kru profesional) juga sih waktu salah pasang,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski kena tegur, dia tidak kapok. Sofyan justru tambah semangat. Ikut membantu hingga tengah malam. ”Kemarin (Senin, Red) pulang pukul 23.30,” katanya.

Kesempatan ikut produksi film itu adalah bagian dari magang. Sekolah telah bekerja sama dengan production house yang membuat film bergenre komedi tersebut. Magang diberlakukan untuk siswa jurusan film SMK Dr Soetomo.

Ada 40 anak yang terlibat membantu produksi. Mereka dibagi menjadi beberapa sif. Bergantian bekerja selama proses syuting berlangsung. Total ada 21 hari proses pengambilan gambar. Selama itu, semua siswa dilibatkan.

Kepala SMK Dr Soetomo Juliantono Hadi mengatakan bahwa praktik kerja itu bagian dari upaya sekolah untuk mengenalkan langsung kepada siswa tentang pembuatan film secara profesional.

”Sebanyak 25 persen SDM produksi film ini di-support anak-anak,” terang Anton yang juga menjabat produser eksekutif. Film itu menjadi film kedua yang melibatkan siswa dalam proses pembuatannya. Yang pertama adalah film Jack yang tayang di bioskop pada 2019. Pengerjaan film itu juga bekerja sama dengan PH sama dengan film tersebut.

Ide membuat film Kartolo Numpak Terangbulang hasil diskusi bersama antara Juliantono Hadi dan sutradara M. Ainun Ridho. Idenya muncul sejak tiga tahun lalu. Sebelum film Jack diproduksi. ”Saat itu belum nemu cerita untuk Kartolo,” katanya.

Akhirnya pada pertengahan tahun lalu, konsep film tersebut dibuat. Anton menyebutkan, film Kartolo Numpak Terangbulan itu merupakan apresiasi kepada tokoh ludruk tersebut.

Beberapa tahun belakangan memang sudah ada yang mengajak Kartolo bermain film. Namun, perannya masih kecil, hanya selingan. Tidak diperankan utuh. ”Nah untuk film ini, Cak Kartolo akan menjadi pemeran utama,” jelasnya. Kartolo Numpak Terangbulan direncanakan tayang di bioskop pada September.

Selain mengangkat angle khas Suroboyo, hampir seluruh kru dan artis berasal dari Kota Pahlawan. Tujuan besarnya, ingin mengangkat talenta kreator film di Surabaya agar bisa lebih menasional.

Di lokasi syuting itu, koran ini juga menemui Haikal Damara, penulis skrip Kartolo Numpak Terangbulan. Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengatakan, ide judul tersebut sebenarnya baru ditemukan Minggu lalu. Setelah pengerjaan skrip selama dua bulan.

Judul menggelitik dipilih karena dalam pementasan Kartolo cs selalu membuat judul-judul unik. Yang membuat penonton bertanya-tanya. Sebut saja Sepor India atau Jas Ontang-anting. ”Kalau mau tahu maksud judulnya, nonton di bioskop nanti ya,” ucapnya sambil tersenyum

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git


Close Ads