alexametrics

Melepas Stres dan Kesal dengan Menghancurkan Barang-Barang

Cowok Hancurkan Botol, Yang Cewek Hajar TV
12 Februari 2019, 14:13:53 WIB

Temper Clinic didirikan justru agar orang tak menumpahkan kekesalan dengan merusak tempat-tempat umum. Mayoritas pengunjung justru perempuan dan mereka lebih ekspresif dalam menghancurkan botol, printer, atau TV.

Agfi sagittian, Jakarta

Melepas Stres dan Kesal dengan Menghancurkan Barang-Barang
Founder Temper Clinic Masagus Yusuf Albar (kiri) dan Sherly Budi Kusuma (kanan) saat berada di Temper Clinic di Jakarta, Sabtu (19/1). (Miftahulhayat/Jawa Pos)

PRAKKK! Tanpa ba-bi-bu, Jonathan menghantam layar TV tabung dengan sebatang linggis di tangan.

Bersama rekannya, Rafi, selama 20 menit dia silih berganti menghajar dua buah TV tabung dan 20 botol.

Seperti terekam di CCTV, suara pecahan kaca yang beradu dengan linggis itu seirama dengan dentuman lagu Enter Sandman dari Metallica. Yang diputar di dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 4,5 meter tersebut.

“Kebanyakan yang ke sini memang tujuannya having fun. Tapi, hampir semua juga bilang ini berhasil jadi pelepas stres. Safety tetap harus diutamakan. Karena itu, kami selalu pantau player lewat live CCTV,” ujar Masagus Yusuf Albar, salah seorang founder Temper Clinic.

Eron, sapaan akrab Masagus Yusuf Albar, bersama Sherly Budi Kusuma dan Yanuarius Gavin Purwanto mendirikan Temper Clinic untuk mereka yang ingin menumpahkan kekesalan. Atau sekadar bersenang-senang. Dengan cara menghancurkan barang mulai botol, printer, hingga TV.

Tak ada maksud mengajak siapa pun menjadi vandalis. Justru, kata Eron, tempat itu mereka dirikan supaya orang tak menumpahkan kekesalan dengan merusak tempat-tempat umum.

Misalnya yang dilakukan Jonathan dan Rafi Sabtu (26/1) tiga pekan lalu. Merekalah player yang siang itu menghancurkan semua yang ada dalam ruangan. “Mereka (Jonathan dan Rafi) ini masih lumayan, Mas. Biasanya ada yang lebih serem lagi mainnya,” ungkap Eron.

Saking bersemangatnya, lanjut Eron, semua pecahan barang benar-benar rata dengan lantai. “Tidak kelihatan lagi mana bekas TV, mana bekas botol,” ujar Eron, lantas tertawa.

Eron, Sherly, dan Gavin berteman sudah lebih dari sepuluh tahun. Pertemanan mereka makin rekat saat ketiganya sama-sama berstatus mahasiswa studi S-2 di Inggris. Inspirasi untuk membuat Temper Clinic muncul saat ketiganya berjalan-jalan di Athena, Yunani. Di sana mereka menemukan tempat yang disebut sebagai anger room.

Tujuannya juga sama, memberikan wadah bagi orang-orang yang sedang bad mood untuk marah-marah dan menumpahkan kekesalan pada barang-barang sekitar.

“Saat mendirikan Temper Clinic pada September 2018, kami cukup yakin kami yang pertama (di Indonesia). Di Asia Tenggara sendiri setahu kami baru ada di Singapura,” beber Eron.

Temper Clinic berdiri di Kemang, Jakarta Selatan, dengan persiapan tak panjang. Dimulai persis saat kunjungan mereka ke Athena pada Juni tahun lalu. Sekitar tiga bulan. “Paling pertama yang kami pikirkan adalah bagaimana permainan itu tetap safety. Jadi, kami merumuskan dulu pakaiannya seperti apa, itemnya apa, standar dan prosedurnya gimana,” tambah Eron.

Termasuk kebijakan untuk memantau semua aktivitas player lewat live CCTV, merupakan salah satu bentuk standar keamanan yang diterapkan. Sebab, mereka tak ingin ada kemungkinan terburuk player melukai diri sendiri atau membahayakan player lain di dalam ruangan.

Desain pintu ruangan juga tak memungkinkan ruangan dikunci dari dalam. Dengan begitu, tim keamanan bisa langsung masuk jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Temper Clinic menyodorkan pula lembar pernyataan yang berisi segenap peraturan yang harus dipahami pengunjung.

Untuk dapat menikmati sensasi anger room tersebut, Temper Clinic mematok harga Rp 125.000 ribu untuk satu pemain selama 15 menit. Dan Rp 200.000 untuk dua pemain selama 20 menit.

Dengan merogoh kocek di atas, satu pemain diberi sepuluh botol untuk dihancurkan. Sementara untuk item tambahan seperti TV bekas dan printer bekas, pemain harus membayar ekstra Rp 50.000 per item.

Mereka yang datang ke Temper Clinic beragam. Dari yang tua-muda, sendiri-berkelompok, sampai ada juga yang datang berpasangan. “Satu fakta menarik yang kami temukan adalah 70 persen pengunjung justru cewek,” ujar Sherly, lantas tertawa.

Umumnya, lanjut Sherly, player cewek lebih ekspresif saat menghancurkan barang-barang. Lucunya, pernah ada kejadian ketika sepasang laki-laki dan perempuan datang ke Temper Clinic. Tak disangka, sang perempuan bermain lebih agresif daripada kekasihnya. “Cowoknya hanya ngancurin botol, tapi lucunya si cewek malah yang mukulin TV. Bukan cuma satu, tapi sampai tujuh TV,” papar perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 tahun lalu itu.

Sherly lantas menunjukkan kepada Jawa Pos video-video rekaman CCTV si perempuan penghancur tujuh TV tersebut. Benar-benar tanpa ampun. Pukulan linggis dan tendangan sepatu bot silih berganti menghunjam TV hingga terguling-guling.

Sejauh ini barang yang dapat dihancurkan masih terbatas pada barang bekas seperti botol, TV, dan printer. Selama durasi permainan, player akan ditemani dengan musik-musik yang memacu adrenalin. “Puaaas sekali. Itu tadi sangat menyenangkan,” ungkap Rafi sesudah menyelesaikan permainan.

Sementara Jonathan tampak kelelahan dan ada raut kekesalan di wajahnya. “Memang lagi kesal, Mas, Banyak lah masalah minggu ini. Bawaannya pengin marah-marah,” ungkap dia.

Eron dan Sherly menyebutkan bahwa dalam waktu dekat mereka menambah item yang dapat dihancurkan player. Bagaimana kalau membawa barang sendiri? Belum diperbolehkan untuk saat ini. Tapi akan dipertimbangkan. “Mungkin seru juga kalau ada yang ingin menumpahkan kekesalan pada barang pribadi. Barang pemberian mantan mungkin? Hahaha,” kata Eron. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ttg)

Melepas Stres dan Kesal dengan Menghancurkan Barang-Barang