alexametrics

Heri Purnomo, Kebutaan Tak menghalanginya Menjadi Hafiz Alquran

Akrab dengan Ayat Alquran sejak di Inkubator
12 Januari 2020, 20:48:06 WIB

Lahir prematur membuat Heri Purnomo menghuni inkubator hingga tiga bulan. Beberapa fungsi organ tubuhnya pun tidak normal. Termasuk kebutaan. Namun, perjuangan dan semangat Heri dengan dukungan orang tua membawa dia bercita-cita menjadi hafiz Alquran.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

”Fabiayyi aalaai Rabbikumaa tukadzdzibaan”. Potongan surah Ar-Rahman itu terdengar lirih. Memecah kesunyian di kampung sempit Jalan Dinoyo Tengah. Suara itu berasal dari rumah nomor 46A. Sebuah rumah kontrakan yang ditinggali Heri Purnomo beserta kedua orang tua dan adik perempuannya.

Bukan hanya tempat berteduh, rumah milik sebuah yayasan itu juga menjadi tempat menghafalkan Alquran. Tepatnya di ruang tamu ukuran 3 x 2 meter. Dengan duduk bersila, jari-jari Heri menggenggam erat sebuah alat. Sesekali, alat mirip bolpoin itu didekatkan ke telinganya. Tubuhnya tak bisa diam seakan mengikuti gerak bibirnya Satu per satu ayat surat Ar-Rahman terlontar dari bibir Heri. Sementara itu, sang ibu Shufia tak berhenti memandangi putranya. Matanya berkaca-kaca. Jika ada yang kurang, dia menghentikan dan memperbaiki bacaan anaknya.

Setoran surat dilakukan setiap hari. Baik pagi maupun malam. Shufia memang tak pernah lelah. Apalagi mengeluh. Begitu juga Slamet Junaidi, bapak Heri. Saking sayangnya, pria asal Gresik itu melepas pekerjaannya. Tujuannya satu. Supaya anak sulungnya bisa sekolah. Sebab, putranya tak mau diantarkan orang lain.

Heri seharusnya duduk di kelas IV SD. Karena sempat tidak mau sekolah, dia sekarang masih kelas II SD di sekolah Yayasan Pendidikan Anak-Anak Buta (YPAB) di Tegalsari. Karena itu, Slamet berhenti bekerja sebagai buruh pabrik dan kini memilih menjadi supplier kopi. ”Saya dan bapaknya sepakat, salah satu harus ada yang berhenti kerja agar Heri mau sekolah,” kata Shufia.

Heri yang berusia 10 tahun sudah menghafal 18 juz. Perjalanannya menjadi seorang hafiz memang masih panjang. Namun, di usianya kini, mampu menghafal lebih dari separo Alquran tidaklah gampang. Orang normal pun susah, apalagi Heri yang tidak bisa melihat.

Kemampuannya menghafal Alquran memang luar biasa. Orang tuanya pun tak menyangka. Proses itu dimulai sejak awal. Tepatnya saat Heri lahir. Waktu itu, dia lahir kembar secara prematur. Tubuh Heri dan kembarannya mungil. Beratnya kurang dari 900 gram. Dokter menyarankan, harus ada salah satu yang dikorbankan. Tujuannya, menekan biaya rumah sakit. Sebab, mereka berdua dirawat di dalam inkubator khusus.

Prediksi dokter, Heri akan meninggal. Sebab, kondisinya terus drop. Tapi, kehendak Tuhan berbeda. Tiga hari setelah lahir, justru saudara kembarnya yang dipanggil Sang Pencipta. Kata Shufia, sejak awal dokter mengatakan pertumbuhan kedua anaknya melambat. Harus ada rangsangan. Salah satu caranya, memberikan suara lantunan Alquran di dalam inkubator. ”Saya percaya, akan ada keajaiban jika ayat suci itu terus diputar,” ucapnya.

Tablet pun dipasang di dalam inkubator Heri. Selama 24 jam nonstop diputarkan rekaman bacaan ayat suci Alquran. Jika berhenti, itu hanya karena mengisi daya baterai. Upaya tersebut dilakukan sampai tiga bulan.

Cobaan Shufia dan suaminya tak berhenti di situ. Biaya rumah sakit yang mencapai ratusan juta rupiah membuat harta bendanya terjual. Motor dan tanah di kampung terpaksa dijual. Semuanya hanya demi Heri Purnomo.

Dalam perawatan itu, Heri juga diagnosis mengalami jantung bocor. Namun, dengan sendirinya kondisi jantungnya membaik. Tak cukup begitu, cobaan kembali datang enam bulan berikutnya. Shufia dan Slamet harus menerima kenyataan. Kedua retina mata anaknya mengalami pendarahan. Ada opsi yang bisa dilakukan waktu itu. Yakni, operasi dan donor kornea. Waktu itu, langkah yang ditempuh adalah operasi.

Tindakan tersebut terpaksa diambil. Sebab, biayanya lebih ringan daripada donor. Waktu itu, operasi yang seharusnya selesai tiga jam ternyata molor hingga 12 jam. Hasilnya pun di luar prediksi Shufia. Kondisi mata Heri justru parah. Retina matanya tidak seperti orang normal. Hingga akhirnya dia mendapat vonis buta seumur hidup.

Bukan hanya kebutaan. Heri juga tak bisa berjalan dan bicara. ”Kok lengkap banget ya. Sudah tidak bisa melihat, tidak mampu berjalan dan bicara juga,” ucap Shufia saat itu.

Berbagai cara tetap ditempuh Shufia dan suaminya. Mulai medis hingga ke kiai. Sebab, meski sudah berusia 3 tahun, anaknya tak kunjung bisa jalan dan bicara.

Agar bisa mengembalikan utang biaya rumah sakit, Heri sempat dirawat keluarganya di Desa Dukun, Gresik. Dengan begitu, Shufia dan suaminya bisa bekerja. Tapi, ternyata anaknya tak betah tunggal di Gresik. Usia 5 tahun, Heri kembali dibawa ke Surabaya. kondisinya lumayan baik. Bicaranya mulai lancar.

Saat itu juga, orang tua Shufia menaruh Heri di pondok pesantren. Tepatnya di Pondok Pesantren Bureng, Karangrejo, Wonokromo. Perkembangannya bagus. Dalam waktu 2,5 bulan, Heri sudah hafal juz 30. Alhasil, Bu Nyai yang mengasuhnya memintanya untuk diwisuda.

Saat menghafal, Heri tak pernah membaca Alquran braille. Semuanya dilakukan dengan cara mendengar. Yakni, memanfaatkan murotal digital. Alat tersebut selalu dia bawa. Saat waktu senggang, alat berbentuk bolpoin itu didekatkan ke telinganya. Kegiatan tersebut selalu diulangi hingga hafalannya lancar.

Meski sudah membuktikan mampu menghafal juz 30 sebelum memasuki usia 6 tahun, kondisi fisiknya yang tak sempurna membuat Heri sering dipandang sebelah mata. Termasuk di beberapa tempat menghafal Alquran. Shufia kerap ditolak saat membawa anaknya untuk ikut belajar. Namun, perempuan 36 tahun itu tak menyerah. Berbagai tempat hafiz dia datangi.

Tujuannya, anaknya bisa belajar dan menghafal Alquran. Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Griya Alquran di Jalan Dinoyo menerima anaknya. Karena itu, selain sekolah pada pagi, sorenya Heri mengaji di sana. Nah saat malam, dia kembali setor surat kepada ibunya. Rutinitas itu dilakukan setiap hari.

Perjuangan Heri menghafal Alquran masih cukup pajang. Meski begitu, orang tuanya kini sudah tersenyum bangga. Puluhan piala dan piagam kini berbaris rapi di atas kulkas rumahnya. Saking banyaknya, hingga ada yang dibawa pulang ke Gresik. Berbagai penghargaan itu disabet setelah memenangkan lomba hafiz. Mulai tingkat provinsi hingga nasional. ”Paling membanggakan masuk 10 besar hafiz se-Jawa Bali,” kata Shufia.

Dia juga sempat ikut audisi hafiz cilik. Karena kendala umur, rencana itu akhirnya gagal. Meski begitu, keinginan Heri menghafal Alquran tak berhenti. Dalam waktu dekat, dia bermimpi bisa menghafal 30 juz. Di samping itu, ada mimpi besar di benaknya. Yakni, sujud di Masjidilharam bersama orang tuanya.

Impian besar itu tak jarang membuatnya sering menangis. Apalagi saat mendengar kalimat ”Labbaik Allahumma labbaik,” hatinya langsung bergetar. Matanya berkaca-kaca. Sama saat neneknya pergi umrah. Bocah berumur 10 tahun itu menangis. Meminta orang tuanya untuk pergi ke Tanah Suci.

Keinginan tersebut kerap menjadi motivasi Heri terjun ke berbagai lomba. Dia berharap bisa menang dan pergi ke Tanah Suci. Melihat mimpi anaknya, Shufia dan Slamet tak bisa berbuat banyak. Shufia yang bekerja sebagai guru di salah satu yayasan hanya berdoa. Berharap impian itu segara terwujud. Entah dari mana datangnya.

Sama halnya dengan alat murotal digital. Hingga sekarang Shufia tak pernah membeli. Alat pembimbing Heri saat menghafal Alquran itu didapat dari bantuan orang lain. ’’Ya, namanya rezeki kita tidak tahu datangnya dari mana saja. Kami hanya bisa mensyukuri,” terang Shufia.

Berjuang membimbing dan membesarkan Heri membuat Shufia bangkit. Selain mengajar, dia menjadi mentor bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Bahkan, di desanya, Desa Dukun, dia membuka sekolah khusus. Siswanya adalah penyandang disabilitas. Saat libur mengajar, dia menyempatkan pulang dan mengajar di desanya.

Semua dilakukan secara gratis. Sebab, dia merasa miris. Banyak orang tua yang justru menganggap anaknya tidak bisa apa-apa. Tak jarang, justru ada yang diasingkan. Padahal, prinsip seperti itu sangat salah. Dalam setiap kekurangan, pastinya ada kelebihan

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/ady


Close Ads