alexametrics

Awasi Laut Natuna, Komandan Dedek Teruskan Jejak Ayah dan Kakak

12 Januari 2020, 16:20:55 WIB

JawaPos.com – Ponselnya terus berdering. Sementara ”komandan” Dedek masih bercengkerama dengan beberapa tamu yang singgah.

Beberapa kali dia membuka ponsel, mengecek identitas penelepon atau pengirim pesan. Kemudian, melanjutkan obrolan di rumah panggung miliknya di Desa Tanjung Kumbik Utara, Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna.

Tak lama, ponsel pria bernama lengkap Dedek Ardiansyah itu kembali berdering.

Dua ponsel sekaligus. Bunyinya cukup ramai. Dedek pun harus meresponsnya. Dia bergegas beranjak dari sofa di ruang tamu cukup besar itu. ”Sebentar, saya angkat telepon dulu, ya,” ujar dia kepada tamunya tersebut Sabtu (11/1).

Sejenak dia duduk di sofa warna cokelat tersebut. Namun, lagi-lagi ponsel berdering. Menggunakan logat Melayu, Dedek bercakap dengan seseorang di seberang telepon. Dari pembicaraan terdengar sekilas pembahasan tentang ikan-ikan tangkapan. Serta dokumen perizinan kapal ikan nelayan yang mangkal di depan rumahnya.

Beberapa saat kemudian, seorang pria berkulit hitam legam tampak muncul di beranda rumah Dedek. Mengenakan celana pendek dan kaus berkerah lusuh, laki-laki berusia sekitar kepala empat itu menanyakan dokumen keberangkatan kapal nelayan.

Dedek lantas meraih ponsel, menghubungi seseorang. ”Tolong ambil dokumen dulu,” ujarnya singkat.

Seharian, aktivitas ”komandan” Dedek tidak bisa lepas dari dua ponselnya. Gawai itu ibarat kekasih yang saban hari menemani ke mana pun pergi. Maklum, Dedek adalah penanggung jawab kapal-kapal rawai yang melaut di Natuna. Dialah yang memegang izin penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap itu dari pemerintah setempat.

Karena tanggung jawab itulah, Dedek harus memastikan puluhan kapal di bawah kendalinya aman dan nyaman saat ”nyangkul” di Natuna. Tepatnya di titik koordinat 4 lintang utara (LU) dan 109 bujur timur (BT).

Sejauh ini, musuh terbesar pelayaran nelayan itu adalah kapal ikan asing (KIA) dari sejumlah negara. Di antaranya, Vietnam dan Thailand. Terkadang juga dari Tiongkok dan Malaysia.

Dia selalu mendapat laporan dari para tekong (nakhoda) kapal bermuatan 20 grass tonnage (GT) itu setiap hari perihal kondisi laut dan keadaan kapal.

Laporan pertama biasanya dikirim para tekong pukul 09.00. Menjelang sore, sekitar pukul 15.00, laporan kembali masuk. ”Untuk sekarang (kapal) yang aktif itu ada 38,” tutur bapak dua anak itu.

Di Natuna sejatinya cukup banyak kelompok nelayan dan pengepul ikan. Mereka tersebar di Ranai, Pulau Tiga, sampai Sedanau. Dedek salah satunya.

Namun, tidak semua punya koneksi ke pengawasan perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan atau otoritas keamanan kelautan. Koneksi itulah yang digunakan Dedek untuk melaporkan setiap kejadian di laut. Pengawas ”swasta” istilahnya.

Istilah pengawas ”swasta” tersebut tidak hanya melekat pada Dedek. Tapi, juga pada Sandi Terisno (ayah) dan Norman (kakak pertama Dedek). Namun, keduanya sudah lama meninggal.

Dedek-lah yang kemudian meneruskan tugas sukarela pengawasan laut itu sejak tiga tahun lalu sampai sekarang. ”Kalau diawali dari bapak, sudah 20 tahun (jadi pengawas swasta),” tuturnya.

Jaringan kuat nelayan dan otoritas keamanan laut Dedek sudah mengakar dari sang ayah. Dedek juga punya relasi di lingkungan KKP dari jaringan pertemanan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Tak heran, tiap laporan yang disampaikan ke otoritas keamanan selalu direspons cepat. ”Pasti akurat, kita nggak buat laporan palsu,” tutur angkatan XLIV (44) STP Jakarta itu.

Dedek ingat betul saat awal-awal berkecimpung dalam pengawasan laut sekitar 2016 lalu. Dia melaporkan aktivitas KIA di perairan Natuna yang direspons cepat oleh KKP. Kala itu KKP menerjunkan Orca 3 dengan Kapten Martin sebagai awak. Kapal pengawas tersebut berhasil menangkap 12 kapal berbendera Vietnam.

”Kalau tidak salah, ketika kapal Orca 3 diresmikan, beliau (Martin) langsung nangkap 12 kapal,” kenang suami Siti Kumalasari itu. Dedek pun tidak pernah takut melaporkan KIA pencuri. Meski beberapa kali kerabat memperingatkan agar berhati-hati berurusan dengan KIA. Sebab, tidak jarang kapal-kapal itu dibekingi ”orang dalam”.

Kecintaan terhadap laut dan ikanlah yang memotivasi Dedek dan ”tim guard” swasta untuk terus membantu pemerintah memberantas KIA pencuri ikan di Natuna. Sama dengan kebanyakan nelayan dan pemerhati laut, Dedek miris melihat KIA menangkap ikan menggunakan pukat (trawl) secara bebas. Alat tangkap itu merusak ekosistem laut. Dan ”menghabisi” mata pencaharian nelayan.

Baca jugaMereka Menjaga Natuna dari Kapal Asing Pencuri Ikan

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tyo/c10/ttg


Close Ads