alexametrics

Kegigihan Ilham Akbar Menangkar Benih Padi Hasil Radiasi Nuklir Batan

Hasil Panen Jadi Banyak
11 November 2020, 15:16:40 WIB

Potensi panen yang jauh lebih tinggi memicu ketertarikan Ilham Akbar pada benih padi Batan. Bagi dia, dosa besar jika tidak membantu petani yang rela melakukan apa saja agar anak-anaknya bisa bersekolah.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

PERTANYAAN itu biasanya baru muncul saat masa panen. Ketika petani yang membeli bibit di Ilham Akbar kaget dengan hasil sawah mereka jadi lebih banyak.

’’Kalau sudah begitu baru saya jelaskan bahwa padi yang ditanam itu hasil radiasi nuklir, hehehe,” tutur Ilham kepada Jawa Pos.

Tentu tidak 1–2 kali pria 33 tahun tersebut menghadapi keheranan petani seperti itu. Berkali-kali. Sebab, sudah enam tahun ini dia menangkar padi jenis itu di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Dia mulai mengenal benih padi hasil radiasi nuklir dari Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) itu pada April 2013. Tepatnya ketika ada program kerja sama antara Muhammadiyah dan Batan. Ilham ketika itu sudah menjadi pegawai negeri sipil di Puskesmas Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kini, enam tahun berselang setelah dia mulai menangkarnya pada April 2014, Ilham bersama sejumlah petani di Gowa membudidayakan benih padi itu di lahan seluas 10 hektare.

Ada tiga jenis padi hasil radiasi nuklir Batan yang dia budi dayakan: Sidenuk, Bestari, dan Diah Suci. ’’Yang paling banyak Sidenuk,’’ kata pria kelahiran Gowa, 1 September 1987, itu.

Sidenuk adalah hasil pengembangan Batan yang dirilis pada Mei 2011. Padi Sidenuk (Si Dedikasi Nuklir) diklaim unggul karena tahan hama, produktivitas tinggi, dan rasanya enak.

Padi Sidenuk merupakan hasil perbaikan dari varietas padi Diah Suci. Varietas padi Diah Suci sendiri adalah persilangan dari padi Cilosari dan IR 74. Kemudian, hasil persilangan itu dimutasikan dengan cara radiasi.

Perbedaan Sidenuk dengan Diah Suci, antara lain, terletak pada panjang pohonnya. Padi Diah Suci gampang roboh jika pemupukannya terlalu banyak. Sementara itu, Sidenuk dengan tinggi pohon lebih rendah 15 cm daripada padi Diah Suci tidak mudah tumbang.

Sisi keunggulan Diah Suci tetap dipertahankan di Sidenuk. Misalnya, memiliki ketahanan terhadap hama wereng strain 1, 2, dan 3; hama potong leher, dan hawar daun. Juga, produktivitas tinggi dan rasanya pulen.

Ilham mengatakan tertarik padi inovasi Batan itu karena pertumbuhannya bagus. ’’Potensi hasil panennya juga tinggi,’’ ujar pria yang mengaku mulai dekat dengan kalangan petani pada 2007 semasa masih kuliah di UIN Alauddin, Makassar, itu.

Awalnya dia memilih padi Sidenuk untuk dikembangbiakkan. Diperkirakan, hasil panennya dalam 1 hektare bisa mencapai 9 ton gabah. Potensi hasil panen itu jauh lebih tinggi daripada rata-rata panen petani di sana yang tercatat paling banter 6 ton gabah per hektare.

Pada permulaannya, dia menangkar padi Batan secara individu. Tetapi, ternyata permintaan sangat tinggi. Akhirnya dia melibatkan sejumlah petani pemilik sawah untuk sama-sama menangkar benih padi Batan. Itulah kenapa saat ini dia menggandeng sejumlah petani dengan luas lahan 10 hektare khusus untuk menangkar benih padi Batan.

Tahapan penangkaran benih padi Batan itu sama dengan menanam padi. Prosesnya dimulai dari membeli benih padi indukan dari Batan langsung. Kemudian, benih itu disemai sampai siap panen. Butuh waktu sekitar empat bulan untuk siap edar.

Dia menjelaskan, kapasitas produksi benih padinya saat ini bergantung pada modal. ’’Kalau kita maksimalkan itu (menghasilkan, Red) 80 ton benih padi. Bergantung modal,’’ jelasnya.

Paling baru, dia menghasilkan benih padi sebanyak 45 ton dan langsung ludes diserbu petani. Harga calon benih atau benih indukan Rp 5.300/kg. Sementara itu, harga jual benih hasil penangkaran ke petani untuk jenis beras Sidenuk Rp 11 ribu/kg sampai Rp 12 ribu/kg. Untuk lahan seluas 1 hektare, dibutuhkan 20 kg benih.

Selama ini Ilham tidak sebatas menjual benih padi Batan. Tetapi, dia juga melakukan edukasi ke petani secara langsung. Di antaranya, edukasi bahwa dengan hasil inovasi, produktivitas petani bisa meningkat.

Untuk padi Sidenuk misalnya, dia mengatakan bijinya lebih dalam setiap pohonnya. Dengan begitu, potensi panennya lebih tinggi jika dibandingkan dengan padi pada umumnya. Selain itu, berasnya pulen.

Peminat benih padi Batan hasil produksi Ilham saat ini tidak hanya ada di kawasan Gowa. Tetapi, juga sampai ke Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, bahkan hingga Ambon, Maluku.

Peneliti ahli utama sekaligus pemulia padi Batan Ir Ita Dwimahyani mengatakan, sampai saat ini Sidenuk menjadi primadona untuk varietas padi hasil pemuliaan Batan. Dia sendiri yang mengurusi pelepasan benih induk atau label kuning ke para penangkar benih. Setiap tahun rata-rata benih beras Sidenuk yang dilepas Batan mencapai 10 ton.

Ita menunjukkan Sidenuk sudah banyak ditanam di penjuru Indonesia. Dengan jumlah penangkar benih yang banyak pula. Sebagai lembaga penelitian dan pengembangan, Batan tidak boleh bertindak sebagai penangkar benih. Mereka hanya menjadi penyedia benih utama atau indukan. Setelah itu dilepas ke masyarakat.

’’Rasa beras Sidenuk spesifik dengan lidah orang Jawa. (Soal rasa, Red) Sidenuk belum ada tandingannya,’’ katanya. Keunggulan lainnya adalah produktivitas. Satu hektare bisa menghasilkan 10 ton padi.

Namun, Ita mengatakan, ada kelemahan padi Sidenuk. Ketika ditanam pada musim hujan, dengan tipologi malai padi yang panjang dan gabahnya rapat, padi Sidenuk gampang roboh.

Baca juga:

Tapi, itu bisa disiasati dengan mengurangi penggunaan pupuk urea. Dengan begitu, padinya tidak terlalu banyak dan tanaman padinya tidak roboh. Tetapi, saat musim kemarau atau sedikit air, padi Sidenuk bisa tumbuh dengan produktivitas maksimal.

Di kemasan benih padinya, Ilham hanya mencantumkan logo Batan. Tidak ada logo nuklir berwarna kuning dan hitam yang sering muncul di film-film Hollywood. Menurut dia, itu bentuk apresiasi kepada para peneliti Batan.

Ilham termotivasi berkecimpung dalam penangkaran benih padi Batan karena banyak petani bekerja keras hingga menjual lahan mereka demi kelanjutan pendidikan anak-anak.

’’Karena itu, menurut saya, dosa besar jika tidak membalas perjuangan itu dengan bakti kepada petani,” katanya.

Cita-cita Ilham sangat sederhana. ’’Kami ingin kata petani terdengar dari mulut mungil anak SD saat ditanya apa cita-citanya kalau sudah besar nanti,’’ tuturnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads