Kalau Bikin Tak Nyaman, Namanya Bukan Candaan

11 September 2022, 16:50:18 WIB

MASA remaja identik dengan eksplorasi dan coba-coba. Jika sudah berkelompok dengan teman-teman sebaya yang sefrekuensi, remaja rawan lupa daratan. Sikap dan perilaku merundung pun muncul.

Biasanya, perundungan akan dengan mudah dinormalisasi sebagai guyon alias candaan. ”Hanya bercanda” dan ”iseng” menjadi dua alasan yang paling banyak dipakai pelaku untuk berkelit dari sikap dan perilaku merundung. Normalisasi perundungan sebagai candaan ini berbahaya. Korban pun sering kali sulit mengidentifikasi perasaannya.

”Bully ini adalah persepsi,” kata Samanta Elsener, psikolog anak dan keluarga, kepada Jawa Pos pada Kamis (8/9). Karena itu, penting bagi remaja dan teman-teman sepergaulannya memiliki persepsi yang sama. Itu akan menyingkirkan kebiasaan dalam identifikasi kasus.

”Jika anak merasa diintimidasi dan ada ketidakseimbangan kekuatan, konflik jadi membesar. Ini yang dinamakan bully,” papar perempuan yang akrab disapa Manta tersebut.

Orang tua dan guru-guru di sekolah harus terlibat dalam proses edukasi tentang perundungan. Dengan begitu, remaja mendapatkan bekal yang cukup dan bisa menempatkan diri dengan baik dalam lingkungannya. Bukan hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan di dalam masyarakat.

Secara prinsip, menurut Manta, perundungan dan candaan tidak sama. Persepsi itulah yang harus terus dibangun dalam masyarakat. Candaan menempatkan subjek dan objek dalam relasi yang setara. Tidak ada kesenjangan kuasa di sana. Jadi, tidak ada rasa tidak nyaman dan bahkan rasa terintimidasi yang muncul dari candaan. ”Membedakan bercanda, iseng, dan bully juga bisa dilihat dari kalimat yang digunakan. Dan, penerimaan orang-orang yang terlibat,” ujar Manta.

Ketika diberi julukan tertentu yang tidak pantas, seseorang bisa menjadi korban bully. Sebab, dia merasa direndahkan. Korban relatif menjadi inferior, sedangkan pelaku adalah si superior.

Apakah ada cara sederhana yang bisa dilakukan agar remaja kita terhindar dari perundungan? Tidak menjadi korban, terlebih menjadi pelakunya? Ada. Caranya adalah menerapkan pola pengasuhan yang baik. Manta mendorong para orang tua dan guru di sekolah untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang tepat kepada anak. Khususnya yang berusia remaja.

Orang tua, menurut Manta, harus bisa membangun self-esteem dan rasa percaya diri anak di rumah. Beri contoh yang baik dan motivasilah anak untuk berani berkata tidak. Terutama pada hal-hal yang tidak dia sukai. Berikan pengertian kepada anak untuk menjadi proaktif jika menyaksikan perundungan. Jika dia menyaksikannya di sekolah, setidaknya beranilah melaporkannya kepada guru.

”Yang tak kalah penting, dengarkan cerita anak. Ajarkan juga mereka untuk membela diri ketika menjadi sasaran bullying,” ungkap alumnus Universitas Tarumanegara tersebut.

Lalu, bagaimana jika putra-putri kita ternyata adalah pelaku perundungan? Manta menyarankan agar orang tua jujur dan berani menerima kenyataan. ”Jangan menutupi kesalahan. Atau, malah membela anak dengan dalih hanya bercanda atau tidak sengaja,” pesannya.

Orang tua perlu membimbing dan mengarahkan anak agar tidak lagi berperilaku merundung. ”Perlu ada program untuk regulasi emosi anak dan conflict management yang baik agar perilakunya tidak terulang lagi,” jelasnya.

Manta mengungkapkan, sekolah sebenarnya punya mekanisme pencegahan perundungan. Yakni, lewat bimbingan konseling (BK). Penting bagi sekolah benar-benar memfungsikan BK. Jangan biarkan BK menjadi ruang penghakiman dan hanya didatangi anak-anak yang notabene adalah pelaku pelanggaran tata tertib sekolah.

Manta mengimbau sekolah untuk menjadikan BK sahabat bagi anak-anak. BK harus bisa merangkul para siswa dan membuat mereka datang untuk konseling. ”Jika dilakukan dengan tepat, bisa mengurangi perilaku bullying kepada anak-anak,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/c14/hep

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads