Tradisi Malam Satu Suro di Perkampungan

Selama 30 Tahun, Azan dan Salawat Dikumandangkan di Sembilan Titik

11/09/2018, 08:39 WIB | Editor: Budi Warsito
Pawai warga Desa Dilem sembari mengumandangkan salawat dan azan di setiap sudut desa. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this image

Pawai obor di malam tahun baru Islam sudah biasa. Namun, ada yang unik di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Tradisi ini sudah berlangsung selama 37 tahun.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Ribuan warga Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang tumplek blek di Balai Desa, Senin (10/9) malam. Warga kompak mengenakan busana serba putih.

Pawai warga Desa Dilem sembari mengumandangkan salawat dan azan di setiap sudut desa. (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Mereka berkumpul, untuk menyambut Tahun Baru Islam 1440 Hijriah. Tanpa obor dan pawai mobil hias, ribuan warga baik tua, muda, besar dan kecil, laki-laki serta perempuan melakukan peringatan Tahun Baru Islam dengan kemeriahan.

Mereka keliling desa dengan menggunakan sepeda motor, mobil bahkan sepeda onthel. Sebuah mobil pick up terlihat dimodifikasi sehingga nyaman untuk mengangkut orang. Tampak beberapa tokoh agama yang turut serta dalam pawai tersebut.

Disetiap sudut kampung, rombongan warga desa berhenti. Kemudian, salah satu tokoh agama mengumandangkan azan disertai dengan iqomat.
Tak hanya di setiap sudut kampung, mereka juga berhenti dan mengumandangkan azan di setiap masjid atau musalah yang dilalui.

Perempatan serta pertigaan jalan juga tidak luput dari aktivitas tersebut. Para tokoh agama akan berhenti, kemudian mengumandangkan azan serta iqomat.

Total ada sembilan titik yang menjadi spot mereka mengumandangkan azan. Dengan titik tengah di Balai Desa Dilem.

Menariknya, sepanjang jalan, para warga mulai bocah hingga orang tua mengumandangkan Salawat Burdah. Salawat ini bertujuan untuk tolak bala.

Suhadi Rofiq, Kepala Desa Dilem menjelaskan, tradisi semacam ini sudah mereka lakukan sejak tahun 1980-an. Pembacaan Salawat Burdah ini dilakukan setiap tahun menjelang Tahun Baru Islam atau ketika malam 1 Suro.

"Dulu masih dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil. Kemudian, baru menjadi tradisi desa sejak tahun 1990-an," katanya, ditemui usai kegiatan.

Warga asli Desa Dilem itu menambahkan, makna sembilan titik baginya lebih dari sekadar simbol. Dia percaya, angka sembilan itu sakral.

"Walisongo juga berjumlah sembilan," katanya.

Tujuan dibacakan azan dan Salawat Burdah di setiap titik kampung yang dipilih, bermakna sebagai napak tilas perjuangan dan hijrah nabi. Baginya, cara ini juga untuk melestarikan sejarah perjuangan Islam.

Pembacaan salawat ini juga, mengharapkan agar kampung mereka selalu diselamatkan dan dalam lindungan Allah. Selain itu, juga meminta kepada Allah untuk memohon agar bangsa dan negara aman.

Usai kegiatan pembacaan salawat secara berkeliling, mereka makan bersama rebusan umbi-umbian dan aneka makanan lainnya. Untuk hal ini, para ibu yang bertugas.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi