alexametrics

Perjuangan Para Seniman Bertahan Hidup di Masa Pandemi Covid-19

11 Agustus 2020, 06:06:33 WIB

Bagi pekerja seni, pandemi virus korona jenis baru ini adalah cobaan hidup yang datang bertubi-bertubi. Ekonomi dipaksa berhenti. Penghasilan seret. Namun, kreativitas tak boleh mati. Harus berjuang mengais rezeki.

ARISKI PRASETYO HADI, Surabaya

Konten YouTube itu berjudul Jula-Juli PSBB. Dengan tagar #dirumahsaja. Pemerannya tiga orang. Pasangan suami istri serta seorang anaknya. Mereka merupakan satu keluarga.

Ketiganya berbincang akrab. Tajuk cerita yang diangkat terkait PSBB di Surabaya. Sang bapak awalnya hendak bepergian dengan mengendarai sepeda motor. Helm sudah dikenakan. Namun, seketika, istrinya merengek. Dia meminta ikut. ”Cak, aku melok (Mas, aku ikut),” ucapnya dengan tutur bahasa Suroboyoan.

Sontak si suami kesal. Permintaan sang istri itu ditimpali dengan penjelasan. Isinya menerangkan kondisi Surabaya. ”Kon iku melak-melok. Kon gak ngerti ta nek saiki wes diberlakukan PSBB (kamu itu minta ikut. Kamu tidak tahu kalau sekarang diberlakukan PSBB)?” jelasnya.

Pria itu menambahkan, selama PSBB tidak boleh berboncengan. Istri balik bertanya.

Terus berboncengan dengan siapa? Kesal dengan pertanyaan istrinya, suami menanggapi itu dengan sekenanya. Jawaban yang jenaka. ”Karo bibimu. Diomongi gak oleh goncengan (boncengan sama bibimu. Dibilangi tidak boleh berboncengan),” tuturnya.

Sang anak datang. Dia kaget saat melihat orang tuanya berdebat hebat. Pemuda itu lantas menyelidik. Persoalan apa gerangan yang dibahas. Sang anak bertanya-tanya. Dia mengira orang tuanya sedang bermain ludruk. Namun, justru pertanyaan tersebut membuat si bapak tambah merajuk. Jawaban yang dilontarkan pun kembali membuat tersenyum. ”Iku mau adegan makmu klebon orong-orong. Sangkakno main ludruk ta. Ludruk ngunu tanggapane wes dibatalno, Nak. (Adegan ibumu kemasukan serangga. Dikira main ludruk. Pementasan ludruk sudah dibatalkan, Nak),” katanya.

Unggahan YouTube itu berasal dari akun milik Lupus Arboyo. Nama aslinya Kasuwanto. Tenar disapa Cak Lupus. Di dunia seni, Lupus bukan orang baru. Dia dikenal luas di Kota Pahlawan. Sebagai begawan seniman ludruk Surabaya.

Sejak pandemi Covid-19 merebak di Surabaya, pementasan seni mati suri. Pemkot melarang segala jenis pertunjukan. Sebab, event tersebut bisa memicu kerumunan. Pemkot tidak mau mengambil risiko.

Tak pelak, kondisi tersebut memukul pemasukan seniman tradisional. Cak Lupus salah satunya. Sejak awal Maret hingga kini, pria 56 tahun itu sama sekali tidak manggung. Tak lagi merasakan riuh tawa penonton. ”Saya sebenarnya kangen. Namun, kondisi memang seperti ini,” jelasnya saat ditemui di rumahnya Sabtu (8/8).

Cak Lupus masih ingat betul. Terakhir dia manggung pada 11 Maret lalu. Kala itu, bermain ludruk di Jalan Sidoyoso, Simokerto. Pertunjukan seni tersebut digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Surabaya. Bertajuk pertunjukan rakyat (pertura).

Selepas pertura, ada undangan lain. Pada April, dia diminta mengadakan pementasan ludruk di Jakarta. Tepatnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Berlanjut pada Mei. Grup ludruknya mengisi kegiatan di Surabaya. Sayangnya, korona terus mengganas. ”Semuanya dibatalkan,” ucapnya.

Sejak saat itu, Cak Lupus dan seluruh seniman tradisional harus melewati masa-masa sulit. Ibarat melewati terowongan gelap gulita yang tak diketahui di mana ujungnya. Rentetan pembatalan show terus berlanjut.

Awalnya, dalam satu bulan minimal dia mendapatkan penghasilan. Memang tak seberapa. Berkisar Rp 3 juta. Cukup untuk menyambung hidup. Sekarang penghasilan itu entah ke mana. Sama halnya dengan kegiatannya mengajar kesenian tradisional. Sebelum korona merebak, seminggu dua kali Cak Lupus memberikan keterampilan menabuh gamelan. Jumlah siswanya 35 anak. Mulai jenjang SMP hingga SMA.

Sayangnya, kegiatan itu terpaksa diliburkan. Sebab, latihan di masa pandemi tidak memungkinkan. ”Karena latihannya malam. Sekarang ada jam malam,” paparnya.

Bapak tujuh anak itu terus berupaya bertahan. Satu-satunya asa adalah memakai uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berkali-kali diambil, kini cadangan itu berangsur menyusut.

Cara lainnya, pengeluaran ditekan. Ikat pinggang dikencangkan. ”Untungnya, kami terbiasa hidup sederhana,” ucapnya sembari memandang istrinya, Noniyati.

Untungnya, Cak Lupus masih memiliki penghasilan tetap. Yaitu, sebagai guru ekstrakurikuler (ekskul) kesenian di SMPN 9. Metode pengajaran tanpa tatap muka, namun lewat daring. ”Jarene wong Suroboyo bisa dicokot-cokot alot. Lumayan bisa bertahan,” terangnya.

Pernah, keuangannya porak-poranda. Kebutuhan membengkak. Pendapatan minim. Yang deras hanya pengeluaran. Tak ada jalan lain. Cak Lupus terpaksa menjual harta bendanya. Yaitu, pompa air serta televisi. ”Laku Rp 750 ribu,” ucap Noniyati sembari tersenyum.

Derita pekerja seni tidak hanya dirasakan Cak Lupus. Tak sedikit juga pekerja seni tradisional di Surabaya yang meradang. Unek-unek itu disampaikan kepada Cak Lupus. Pasalnya, dia merupakan ketua Paguyuban Seniman Seniwati Tradisi Surabaya (Pasi). ”Saya meminta mereka bersabar,” ucapnya.

Lantas, apa permintaan seniman tradisional? Menurut Lupus, yang sangat dibutuhkan adalah kepastian. Kepastian mereka bisa kembali bekerja. Kembali manggung di depan ratusan orang. ”Kami rindu menghibur warga. Kami rindu berkreasi,” jelasnya.

Selain itu, sebagai seniman, dia sejatinya malu meminta-minta. Enggan berharap orang memberikan bantuan. Ada satu prinsip hidup yang dia pegang teguh. ”Seniman punya karya. Kami ingin karya kami mendapatkan apresiasi warga,” tegasnya.

Impitan ekonomi juga dirasakan seniman lain. Yaitu, Lies Damayanti. Sejak lulus SMP, perempuan 36 tahun itu berpeluh keringat. Mencari rezeki. Untuk menghidupi keluarganya. Lies merupakan penyanyi. Dia sering manggung pada acara pernikahan. Tak jarang, ibu satu anak itu juga tampil sebagai biduan salah satu orkes ternama.

Kegigihannya dalam berusaha terus terasah. Tiga tahun lalu dia mendirikan usaha lain. Yaitu, membuka usaha rias pengantin. Dari dua usaha tersebut, Lies mampu menjaga dapur rumah tangganya tetap mengepul.

Namun, penghasilan perempuan asli Surabaya itu seketika rontok saat korona mengganas. ”Dulu pengeluaran saya tiap bulan untuk mencukupi usaha rias pernikahan dan pegawai Rp 21 juta. Sekarang saya pangkas,” terangnya kemarin.

Terakhir, Februari lalu Lies manggung. Kegiatan tersebut berlangsung di Sidoarjo. Selepas itu, seluruh agenda show dibatalkan. ”Saya sudah dikontrak nyanyi di 48 titik pun terpaksa cancel,” jelasnya.

Setali tiga uang dengan kondisi usaha rias pengantin miliknya. Selama korona, acara resepsi pernikahan tidak diperbolehkan karena memicu kerumunan. Alhasil, Lies untuk sementara waktu terpaksa banting setir. Mencari lahan pangan lain. Yakni, menggeluti bisnis kesehatan.

Dia membuat masker dan hand sanitizer. Produksinya melimpah. Namun, di tengah jalan, kendala menghampiri. Sebab, dia harus mengurus izin pemasaran produknya. ”Terpaksa tidak saya lanjutkan,” ujarnya.

Bisnis kedua adalah di bidang kuliner. Lies merogoh uang tabungannya yang menipis. Dia membuat kedai minuman. Lokasinya di rumahnya. Kedai itu terus berjalan. Pendapatanya lumayan untuk bertahan hidup. ”Saya tidak malu berjualan. Daripada tidak bisa hidup,” tegasnya.

Dia berharap pemkot segera turun tangan. Memberikan kebijakan bagi pekerja seni. Permintaannya tak rumit. Pemkot kembali membuka event pernikahan serta show. ”Kami siap menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Perjuangan Cak Lupus dan Lies belum berakhir. Sebab, pemkot masih tidak mengizinkan kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Namun, keduanya tetap berjuang. Cak Lupus menjelaskan, Surabaya itu tercipta dari keberanian, semangat, serta pantang menyerah. ”Kami harus meneladani itu,” tuturnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git




Close Ads