alexametrics

Tradisi Idul Adha Perantau Madura, Pulang demi Nyambung Bheleh

11 Agustus 2019, 16:40:41 WIB

Idul Adha adalah panggilan pulang untuk para perantau Madura di mana pun berada dan apa pun pekerjaannya. Entah demi silaturahmi dengan keluarga besar atau kerinduan pada makan beramai-ramai di musala atau masjid.

GALIH ADI, Sampang; DEBORA S., Jakarta; SEPTINDA A., Surabaya; Jawa Pos

HARI ini, saat orang beramai-ramai mengolah daging kurban, di kampung di balik perbukitan kapur itu, tak akan ada sate yang gosong. Atau kurang matang dibakar.

Bisa dipastikan, di kampung di Sampang, Jawa Timur, tersebut, semua daging sate -sapi maupun kambing- bakal terbakar sempurna. Meminjam istilah tingkat kematangan steak, mau medium rare, medium, medium well, atau well done? Bisa!

Bagaimana tidak bisa, lha 150 di antara 2.000 kepala keluarga warga Desa Karanganyar, Kecamatan Tambelangan, tersebut, adalah penjual sate “profesional”.

Dan, di Idul Adha seperti hari ini, semua bisa dipastikan toron, pulang kampung.

“Paling banyak berjualan di Solo dan Jogja. Mulai yang masih pakai gerobak sampai yang sudah buka stan atau depot,” kata Kepala Desa Karanganyar Safi kepada Jawa Pos Jumat lalu (9/8).

Karanganyar hanyalah noktah kecil dari kemeriahan secara keseluruhan di Madura tiap kali Idul Adha datang. Ribuan perantau pulang ke pulau yang terbagi ke dalam empat kabupaten -Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep- itu.

Dulu, sebelum ada Jembatan Suramadu, penumpukan penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, di hari-hari seperti sekarang ini adalah pemandangan rutin. Para perantau Madura antre menunggu kapal yang akan mengantarkan mereka ke Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Yang kampungnya di pulau-pulau kecil sekitaran Madura malah harus berupaya lebih ekstra lagi.

Ke Pulau Mandangin, misalnya, para perantau harus naik kapal berpenumpang 20-30 orang dari Pelabuhan Tangklok, Sampang. Dan, mesti berbagi tempat dengan barang bawaan yang menggunung.

Masih sulit diukur, juga tidak ada yang berani memastikan, tapi sampai ada yang menyebut, yang toron ke Madura saat Idul Adha itu konon lebih banyak ketimbang ketika Idul Fitri. Sudah pasti tak cuma para penjual sate seperti di Karanganyar atau para pekerja di sektor informal lainnya yang melakukannya.

“Tiap Idul Adha, juga Idul Fitri, saya toron,” kata Romel Maskuri, pemuda asal Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, yang bekerja di lingkungan kampus Universitas Brawijaya, Malang.

Nun di Jakarta, Hasbullah, seorang jurnalis di sebuah media daring, selalu menyiapkan dana khusus untuk toron. “Karena bagi orang Madura, Idul Kurban adalah momen pesta, makan daging,” jelas pria asal Pamekasan itu.

Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940, ekologi tegal memengaruhi struktur sosial, budaya, dan karakter masyarakat Madura. Tegal sangat bergantung pada curah hujan. Yang membuat tanah di Madura tidak cocok ditanami padi.

Itu pada akhirnya turut menguatkan karakter merantau warga Madura. Semangat awalnya adalah mencari tanah yang lebih baik. Jawa Timur bagian timur atau daerah “Tapal Kuda” merupakan kawasan yang paling banyak dihuni warga keturunan Madura.

Sosiolog Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto mengungkapkan bahwa toron dimaknai perantau Madura sebagai cara mereka Nyambung Bheleh (menyambung kekeluargaan) kembali setelah dari perantauan. Bagong menambahkan, makna berkurban pada Hari Raya Idul Adha itulah yang membuat secara kultural masyarakat Madura merasa harus pulang.

Berkurban, kata dia, memiliki makna agar orang bersedekah. “Momentum Idul Adha juga dimaknai orang Madura agar tidak lupa pada asal usulnya. Merefleksikan kekerabatan dan kohesi sosial masyarakat Madura,” katanya.

Keluarga Satuyah di Karanganyar barangkali bisa menjadi contoh. Bagi ibu lima anak tersebut, Idul Adha adalah momentum krusial nan membahagiakan karena bisa berkumpul dengan anak-anak, para menantu, serta lima cucu. “Kalau semua bisa kumpul, silaturahmi antarkeluarga, sanak saudara, dan tetangga kan jadi tersambung,” katanya.

Silaturahmi atau Nyambung Bheleh itu biasanya dilakukan sambil membawa terateran atau oleh-oleh, ditujukan untuk tetangga, keluarga, dan ulama. “Bisa nasi, bisa jajan. Terserah mampunya apa,” ujarnya.

Di Desa Banaresep Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep, sehari sebelum Idul Adha tiap keluarga selalu masak. Apa saja, bebas. Tak ada patokan menu.

Keesokan harinya, setelah salat Idul Adha, masakan tadi dibawa ke musala atau masjid dekat rumah masing-masing. Porsinya bebas. Lantas, prosesi pun dimulai: makan keroyokan.

Seperti yang juga biasa dilakukan keluarga M. Farid, salah seorang warga Banaresep. Untuk Idul Adha kali ini, makanan yang disiapkan adalah gulai, mi goreng, dan ayam kecap.

Sembari membaur satu sama lain, tua muda dan anak-anak duduk melingkar, semua lantas bersama menikmati makanan di dalam tampah. “Ya, kenikmatan itu yang selalu ditunggu-tunggu,” ujar Farid yang sehari-hari bekerja dan berdomisili di Pasuruan, Jawa Timur, itu.

Nah, setelah kenyang, lanjut silaturahmi ke tetangga. Yang mungkin tidak sempat ikut makan bersama. Saat berkunjung, tambah Farid, bawaan rantang atau nampan berisi jajan pasar atau nasi komplet dengan lauk harus tetap ada. “Kalau kata orang di sini menambah dan merawat persaudaraan,” katanya.

Tradisi khas Idul Adha beragam di tiap daerah. Romel, misalnya. Di kampungnya di Pamekasan yang khas dari tiap Idul Adha ya bakar sate ramai-ramai.

Tradisi yang sama pun bisa punya varian macam-macam di tiap daerah. Dan, kalaupun sama, tidak semuanya bisa bertahan sampai sekarang.

Ahmad Sahidah, dosen di Universitas Nurul Jadid, Probolinggo, termasuk yang merindukan makan ramai-ramai di masjid seusai salat Idul Adha di kampungnya di Desa Parebaan, Sumenep.

“Sekarang sudah nggak ada, warga sudah ‘makmur’, segera pulang (selesai salat). Tak ada lagi juga anak-anak yang memukul beduk untuk iringi takbir,” kata pria yang pernah 15 tahun menjadi pengajar di Universitas Utara Malaysia itu.

Edi Mulyono alias Edi Iyubenu, penulis dan penerbit buku asal Sumenep yang berkiprah di Jogjakarta, juga kerap kangen dengan sajian khas Idul Adha: katopa’ alias ketupat. Di rumah sendiri atau saat anjangsana ke kediaman tetangga atau saudara, ketupat berteman menu lengkap itu pula biasa disajikan. “Piknik ke mana-mana saat Idul Adha bawanya ya ketupat itu,” katanya.

Faktor ketupat tersebut yang menurutnya membuat toron Idul Adha terasa beda ketimbang Idul Fitri. Ada yang khas. Tapi, tambahnya, itu dulu. “Tampaknya kini tak ada lagi,” ujarnya.

Tapi, terateran tetap ada di kampung asal Sahidah. Selain itu, warga yang kebetulan berkurban biasanya juga menggelar selamatan di rumah mereka. “Biasanya sajiannya sate dan gulai. Wah, istimewa sekali itu,” katanya.

Memakai baju baru seperti umumnya saat Idul Fitri tak termasuk tradisi warga Madura yang tengah toron. Menurut Siti Fatwa, salah seorang anak Satuyah, saat toron Idul Adha, yang terpenting ya mengenakan baju yang pantas saja.

Tinggal bersama suami di Surabaya, Fatwa selalu mengupayakan untuk bisa pulang saat Idul Adha. Bagi dia dan warga lain, ada tiga momentum yang selalu sayang jika tak pulang: Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad. “Entah itu mepet atau jauh-jauh hari pasti pulang,” katanya

Toron, kata Bagong Suyanto, memang seperti tuntutan sosial buat para perantau Madura agar tidak lupa kampung halaman. “Mereka ketika merantau bukan tercerai-berai, tetapi malah kohesi sosialnya kuat,” jelasnya.

Dengan kalimat lain, di mana pun raga berada, jiwa para perantau selalu tertambat di Madura. Semacam yang disuarakan penyair besar Madura D. Zawawi Imron dalam salah satu karyanya, Madura, Akulah Darahmu

anak sulung yang sekaligus anak bungsumu

kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah

bahwa aku sapi karapan

yang lahir dari senyum

dan air matamu

Jadi, sekalipun kampung halaman seperti Karanganyar tak gampang dijangkau, 5 kilometer dari jalan raya terdekat, melewati jalanan terjal, Fatwa dan para penjual sate dari desa itu tak pernah ragu untuk toron. Iming-iming kumpul keluarga besar, lalu bareng-bareng mengolah daging kurban, siapa mampu menolak? Apalagi, mereka jago-jago untuk membakar sate…

Perlu Pengganti yang Relevan dengan Kondisi Madura

Pos Pam Polres Pelabuhan Tanjung Perak di Suramadu. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

LALU, apa sebenarnya arti toron itu? Menurut budayawan D. Zawawi Imron, toron tidak bisa dipisahkan dari ongghe.

Dulu ongghe atau “naik” umum digunakan ketika para perantau Madura menuju Jawa. “Di Jawa dianggap lebih tinggi derajatnya secara ekonomi. Karena itu, saat ke sana disebut naik atau ongghe dan waktu pulang (ke Madura) disebut turun atau toron,” kata penyair berjuluk Celurit Emas itu ketika dihubungi Jawa Pos Jumat lalu (9/8).

Jadi, toron dan ongghe tak terkait dengan kondisi geografis atau tinggi rendahnya dataran. Dan, makna kiasan tersebut bertahan hingga sekarang.

Bahkan, telah menjadi bahasa umum yang dikenal orang, termasuk yang di luar Madura.

Zawawi menambahkan, toron tidak hanya digunakan khusus untuk Idul Adha. Ada tiga hari besar keagamaan Islam yang diagungkan masyarakat Madura: Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad.

Bahkan, kata dia, maulid biasanya dirayakan besar-besaran. Seperti yang biasa dilakukan di Desa Karanganyar, Kecamatan Tambelangan, Sampang. Perayaan tersebut digilir tiap rumah.

Karena itu, warga menyimpan peralatan masak ekstrabesar. Misalnya, wajan berdiameter 1 meter. Masyarakat menganggap perayaan tersebut sebagai bentuk menjaga keagamaan juga.

Seiring berjalannya waktu, Zawawi menganggap kata toron tidak perlu digunakan lagi. Sudah tidak relevan. Sebab, menurut dia, derajat perekonomian Madura sudah lebih baik. “Saya rasa kata pulang pergi atau mudik menjadi lebih baik,” ujarnya.

Toron, pulang, mudik, atau apa pun kata yang kelak digunakan tak bisa dipisahkan dari tradisi merantau warga Madura yang masih terus terawat.

Romel Maskuri, pemuda asal Pamekasan yang kini bekerja di Malang, mengungkapkan bahwa sampai sekarang di kampungnya anak-anak muda yang baru lulus sekolah menengah atas biasanya dihadapkan pada dua pilihan. Kuliah atau bekerja, dua-duanya ke luar Madura. “Biasanya ini lewat relasi pertemanan atau keluarga yang sudah lebih dulu merantau,” katanya.

Hal yang sama disaksikan Ahmad Sahidah di desanya di Sumenep. “Ayah saya dulu merantau sejak lulus SD. Alami saja, karena terkait keadaan ekonomi,” kata dosen yang pernah 15 tahun mengajar di Universitas Utara Malaysia itu.

Yang juga berubah dalam kaitan dengan kultur toron adalah terateran (oleh-oleh, kado, atau hantaran). Dulu, menurut Zawawi, itu biasanya berupa nasi lengkap dengan lauknya. “Sekarang bisa dalam bentuk barang,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */gal/c10/ttg

Close Ads